PENGERTIAN STUDI PERKEMBANGAN SKIZOFRENIA – Seperti apakah orang-orang yang menderita skizofrenia sebelum mereka mengalami simtom-simtom tersebut, terutama pada masa remaja atau dewasa awal? Suatu metode terdahulu untuk menjawab pertanyaan itu adalah menyusun riwayat perkembangan dengan meneliti berbagai catatan masa kanak-kanak orang-orang yang di kemudian hari menderita skizofrenia. Penelitian semacam itu mengungkap bahwa para individu yang menderita skizofrenia berbeda dengan orang-orang seusia mereka bahkan sebelum masalah serius tampak dalam perilaku mereka. Pada tahun 1960-an, Albee dan Lane serta para kolega mereka secara berulang menemukan bahwa anak-anak yang di kemudian hari menderita skizofrenia memiliki IQ yang lebih rendah dibanding para anggota berbagai kelompok kontrol, yang biasanya terdiri dari para saudara kandung dan teman-teman seusia di lingkungan tempat tinggal mereka. Berbagai penelitian mengenai perilaku sosial para pasien praskizofrenik juga menghasilkan beberapa temuan menarik. Sebagai contoh, para guru menggambarkan anak-anak laki-laki praskizofrenik sebagai anak nakal pada masa kanak-kanak mereka dan anak-anak perempuan praskizofrenik sebagai anak yang pasif. Para laki-laki dan perempuan yang menderita skizofrenia digambarkan sebagai anak nakal dan menarik diri pada masa kanak-kanak .

Para peneliti juga meneliti berbagai film keluarga yang dibuat sebelum onset skizofrenia, sebagai bagian dari kehidupan keluarga normal. Dibandingkan dengan saudara-saudara kandUng mercka vang cli kemudian hari tidak menjadi skizofrenik, anak-anak praskizofrenik menunjukkan keterampilan motorik yang lebih rendah dan ekspresi afek negatif yang lebih banyak. Sama menariknya dengan berbagai temuan tersebut, keterbatasan utama studi perkembangan semacam itu adalah data pada awalnya tidak dikumpulkan dengan niat menggambarkan para pasien praskizofrenik atau memprediksi terjadinya skizofrenia berdasarkan perilaku pada masa kanak-kanak. Diperlukan informasi yang lebih spesifik agar riwayat perkembangan dapat memberikan bukti-bukti yang jelas terkait etiologi skizofrenia. Studi semacam itu dalam skizofrenia yang pertama kalinya dilakukan pada tahun 1960-an oleh Sarnoff Mednick dan Fini Schulsinger. Mereka memilih Denmaric karena arsip kependudukan Denmark yang mencakup seluruh warganya memungkinkan untuk menelusuri jejak kehidupan mereka dalam kurun waktu lama. Mednick dan Schulsinger memilih 207 orang muda yang memiliki ibu yang menderita skizo-frenia kronis sebagai subjek risiko tinggi mereka. Para peneliti memutuskan bahwa ibu harus menjadi pihak orang tua yang menderita gangguan tersebut karena garis ayah tidak selalu mudah untuk diketahui. Kemudian, 104 subjek risiko rendah, yaitu para individu yang memiliki ibu yang tidak menderita skizofrenia, dicocokkan dengan subjek risiko tinggi dalam berbagai variabel seperti jenis kelamin, usia, pekerjaan ayah, bertempat tinggal di pinggir kota atau di tengah kota, lama mengecap pendidikan, dan dibesarkan dalam institusi versus dibesarkan oleh keluarga.

Pada tahun 1972 para laki-laki dan perempuan yang saat ini sudah dewasa dipantau dengan sejumlah pengukuran, termasuk serangkaian tes diagnostik. Sebanyak 15 orang dari subjek risiko tinggi didiagnosis sebagai skizofrenik; tidak ada satu pun dari subjek kontrol baik laki-laki maupun perempuan yang didiagnosis demikian. Melihat kembali pada informasi yang dikumpulkan mengenai para subjek tersebut semasa kanak-kanak mereka, para peneliti menemukan bahwa beberapa kondisi memprediksi terjadinya skizofrenia di kemudian hari. Data-data tersebut, meskipun berasal dari sebuah studi kecil, menunjukkan bahwa etiologi skizofrenia dapat berbeda pada para pasien dengan simtom positif dan negatif. Dalam salah satu analisis terhadap data tersebut, para pasien skizofrenia dibagi menjadi dua kelompok, mereka yang memiliki simtom-simtom positif yang dominan dan mereka yang memiliki simtom-simtom negatif yang dominan. Berbagai variabel yang memprediksi skizofrenia berbeda pada dua kelompok tersebut. Skizofrenia dengan simtom negatif didahului dengan riwayat komplikasi kehamilan dan kelahiran dan kegagalan memberikan respons-respons elektrodermal terhadap stimuli yang sederhana. Skizofrenia simtom positif didahului oleh riwayat ketidakstabilan keluarga, seperti dipisahkan dari orang tua dan tinggal di panti atau lembaga asuhan selama beberapa kurun waktu.

Dalam kebangkitan studi yang dipelopori oleh Mednick dan Schulsinger dilakukan beberapa penelitian risiko tinggi lain, beberapa di antaranya juga menghasilkan informasi terkait berbagai kemungkinan penyebab psikopatologi pada orang dewasa. Studi Risiko Tinggi New York menemukan bahwa suatu pengukuran gabungan terhadap disfungsi atensional memprediksi gangguan perilaku pada periode pemantauan. Lebih jauh lagi, IQ rendah meru-pakan karakteristik anak-anak berisiko tinggi yang menjadi kelompok pertama yang dirawat di rumah sakit. Dalam suatu studi di Israel, rendahnya keberfungsian neurobehavioral (konsentrasi rendah, kemampuan verbal rendah, kurangnya kendali dan koordinasi motorik) memprediksi gangguan yang mirip skizofrenia, seperti juga masalah-masalah interpersonal pada masa kanak-kanak. Seiring para peserta berbagai studi risiko tinggi lainnya mencapai kedewasaan, kita akan memperoleh petunjuk lebih jauh mengenai terjadinya gangguan yang menghancurkan ini.

Filed under : Bikers Pintar,