sociolegal studies (studi sosiolegal)

Studi sosiolegal merupakan sebuah badan ilmu pengetahuan sekaligus seperangkat institusi dan mengandung signifikansi yang berbeda di Amerika dan Inggris. Banyak komentator enggan untuk mendefinisikan secara eksplisit disiplin yang mereka akui sebagai studi sosiolegal ini (lihat Economic and Social Research Council 1994; Genn dan Partington 1993). Definisi yang diberikan cenderung merupakan rumusan yang sangat abstrak, seperti “studi tentang hukum dan institusi legal dari perspektif ilmu sosial” (Harris 1983) atau karya yang berdasarkan pada “hubungan antara masyarakat dan proses hukum” (Law and Society Review 1994). Secara kelembagaan, studi sosiolegal merefleksikan upaya yang dilakukan oleh anggota dari Asosiasi Hukum dan Masyarakat (LSA) di Amerika dan Asosiasi Studi Sosio-Legal (SLSA) di Inggris. Meskipun disiplin ini berakar di fakultas hukum dan jurusan ilmu-ilmu sosial, disiplin ini tidak mencakup para sarjana yang tidak berafiliasi dengan LSA atau SLSA walaupun mereka ini mempelajari pilar-pilar sosial dan konsekuensi-konsekuensi hukum. Jadi para peneliti yang mempelajari hukum dan ekonomi di Amerika dan peneliti yang mempelajari kriminologi dan sosiologi hukum konvensional di Inggris tampaknya tidak mungkin menamakan diri mereka sebagai sarjana sosiolegal.

Selama bertahun-tahun para sarjana Amerika yang tertarik dengan interaksi antara hukum dan lingkungan sosialnya menganggap diri mereka berafiliasi dengan gerakan hukum dan kemasyarakatan. Jurnal-jurnal yang terkemuka, baik itu di Amerika maupun di Inggris, mencantumkan “hukum” dan “masyarakat” di dalam judulnya. Akan tetapi, sebagai deskripsi dari bidang ini, hukum dan masyarakat mengandung dua permasalahan. Pertama, desknpsi tersebut menyiratkan bahwa hukum itu jauh dari masyarakat; jadi hukum kelihatannya bukan sebagai bagian yang melekat dalam masyarakat. Kedua, secara historis deskripsi tersebut menyiratkan sebuah strategi penelitian yang melibatan asumsi dari aliran positivis dan model ilmu pengetahuan normal. Di Amerika, studi sosiolegal menjadi istilah yang dipakai oleh para sarjana yang ingin menekankan pada interpenetrasi dari hukum dan masyarakat serta untuk menjelaskan toleransi, bahkan komitmen, mereka terhadap penelitian interpretatif dan bentuk-bentuk penelitian pasca-positivis lainnya. Selain itu, bagi para sarjana ini studi sosiolegal telah menjadi referensi tersendiri: referensi profesional dan afiliasi mereka adalah kepada sarjana sosiolegal dan studi sosiolegal ketimbang kepada disiplin yang selama ini mereka terlatih di dalamnya dan sekaligus mereka ajarkan. Di Inggris, studi sosiolegal menggambarkan disiplin tersebut mulai dari awal dan disesuaikan dengan persetujuan definitif pada tahun 1970-an ketika program ESRC Oxford dinamakan dengan Pusat Studi Sosio-Legal.

Perhatian tradisional dari para sarjana sosiolegal dapat dikarakteristikan sebagai penjelasan aspek-aspek hukum atau melengkapi kekurangan-kekurangannya. Fokus perhatian yang pertama diarahkan kepada perbedaan antara ketentuan (prescription) dan perilaku, biasanya pada persoalan kesenjangan antara “hukum yang tertulis” dengan “hukum dalam praktek.” Perhatian kedua menghasilkan deskripsi empiris dan analisa tentang area kehidupan hukum yang sebelumnya belum pernah dipelajari secara sistematis. Minat-minat tradisional ini memicu penelitian penting di berbagai bidang seperti struktur sosial dari profesi hukum, konsekuensi tidak langsung dan tak terduga dari regulasi, akses kepada keadilan dan toleransi terhadap ketidakadilan, tingkat dan arah yang dijalankan oleh otoritas hukum, variasi historis dan kultural dalam praktek hukum, doktrin dan ideologi, perspektif hukum dari konsumen, transformasi perselisihan, dan dimensi simbolik dari masalah sosial.

Meskipun tidak ada alasan untuk percaya bahwa minat dan produktivitas dalam perhatian tradisional tersebut akan lenyap, namun beberapa persoalan tentang teori, metode, dan politik semakin banyak diperdebatkan. Isu-isu teoretis yang baru telah muncul dari pertemuan gagasan sarjana sosiolegal dengan ide-ide dari ahli teori sosial kontinental seperti Foucault, Habermas, Bourdieu dan Luhmann, dan juga dengan karya-karya dari kaum feminis dan ahli teori ras. Meskipun dampak dari pertemuan ini berbeda-beda namun semuanya secara serius mengajukan suatu tinjauan kembali terhadap asumsi-asumsi tentang hukum yang diakui oleh sosiolegal. Secara khusus ada dua isu yang baru berkembang yang berkaitan dengan pendekatan “konstitutive” dan perspektif “globalisasi” (perkembangan sistem tatanan dunia untuk mengatur hubungan sosial, ekonomi, dan politik antar bangsa). Perspektif konstitutive telah dikembangkan dalam studi mengenai pengadilan, serta kesejahteraan dan pendidikan hukum. Ajarannya adalah bahwa hukum tidak hanya berlaku pada orang tetapi hukum, sampai derajat tertentu, “terdapat” atau” memberi makna di dalam pertemuan warga negara dengan hukum dan di dalam cara mereka menggunakan hukum tersebut. Pandangan ini mengakibatkan munculnya analisis tentang pluralitas makna yang diberikan oleh orang-orang kepada hukum dan pluralitas cara orang-orang menentang realitas taken-for-granted yang diajukan oleh institusi hukum formal. Perspektif globalisasi mendorong sebuah pengujian terhadap ekspansi struktur peraturan yang dikembangkan untuk mengkoordinasikan hubungan ekonomi global dan regional dan untuk menangani dimensi kejahatan transnasional, lingkungan hidup serta konflik etnis dan sosial.

Kedua, meskipun pluralisme metodologis selalu menjadi ciri khas dari karya sosiolegal, masalah metode ini telah menjadi pusat perhatian dalam diskusi di dalam bidang studi ini. Perkembangan ini dapat dipahami sebagai hasil perkembangan dari gerakan menuju bentuk-bentuk interpretatif dari penelitian yang dilakukan di dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk kritik filosofis terhadap empirisme. Pandangan tradisional membuat para analis sosiolegal mulai menguji ciri-ciri obyektif dari hukum, seperti misalnya struktur formalnya, dan berusaha menjelaskan struktur-struktur semacam itu dengan mengidentifikasi “faktor sosial” non-legal obyektif yang terkait dengan struktur tersebut. Pendekatan penafsiran ini, di satu sisi, berdasarkan pada ide bahwa hukum tidak dapat dipahami hanya dari manifestasi materialnya saja. Jadi sarjana sosio-legal interpretivis pada dasarnya berurusan dengan masalah makna. Bahkan dalam pandangan mereka manifestasi “obyektif” dari hukum tersebut dibentuk secara simbolis. Karena itu tugas dari para peneliti sosiolegal adalah meneliti seberapa luas makna yang dijumpai di dalam hukum dan konsekuensi dari makna tersebut bagi konstitusi subyek hukum.

Isu yang terakhir adalah politik. Karena studi sosiolegal merepresentasikan “bentuk kedua dari pengetahuan tentang hukum dan institusi legal” (Galanter 1985) yang berbeda dengan gambaran profesional tentang hukum dan karena kehadiran studi hukum yang kritis dan sosiologi hukum Marxis yang kuat maka masalah politik selalu menjadi bagian penting dari bidang studi ini. Tetapi semakin banyak komponen dari komunitas sosiolegal yang enggan untuk terlibat begitu saja dalam politik yang melekat di dalam kebijakan dan kampanye reformasi hukum. Para sarjana yang terlibat di dalam usaha tersebut seringkah harus menerima kriteria dan definisi problem hukum yang resmi. Usaha-usaha ini secara historis juga bercampur dengan “legalisme liberal” persetujuan yang tegas terhadap keinginan memperkuat efektivitas hukum. Bagi kebanyakan sarjana sosio-legal kontemporer hubungan-hubungan ini menghalangi perkembangan penilaian yang benar-benar kritis terhadap pelaksanaan hukum di dalam masyarakat.

Incoming search terms:

  • pengertian legal society

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian legal society