Advertisement

John Fiske (1992) berpendapat bahwa “kebudayaan” (dalam studi budaya) seharusnya “tidak sekedar menekankan pada aspek estetik atau humanis, melainkan juga aspek politik”. Jadi obyek studi ini bukanlah kebudayaan dalam pengertiannya yang sempit (yang sering dikacaukan dengan istilah kesenian atau kegiatan-kegiatan intelektual dan spiritual) namun kebudayaan dalam pengertian seperti yang dirumuskan oleh Raymond Williams yakni sebagai cara hidup tertentu bagi sekelompok orang, yang berlaku pada suatu periode tertentu. Inilah definisi kebudayaan yang digunakan dalam studi budaya dan juga pada studi mengenai kebudayaan populer yang berkembang pada periode sesudahnya. Jadi meskipun studi budaya tidak bisa (atau tidak perlu) direduksi menjadi studi budaya populer, jelaslah bahwa studi budaya populer tersebut menjadi inti proyek penelitian dalam studi-studi budaya. Terakhir, studi budaya menganggap kebudayaan sebagai suatu hal yang bersifat politik, karena pemilihan aktor- aktor dominannya memang bersifat politik. Sebagai contoh, Stuart Hall (1981) menyatakan bahwa kebudayaan populer adalah: “Arena pergulatan yang mencakup muncul dan bertahannya hegemoni. Namun ini bukan merupakan bidang di mana sosialisme atau kebudayaan sosialis dalam bentuknya secara penuh dapat terekspresikan. Ini merupakan tempat di mana sosialisme hanya bisa disisipkan. Itulah sebabnya ‘kebudayaan populer’ menjadi penting”. Memang tidak semua tokoh studi budaya meng-anut pandangan seperti itu. namun mereka sepakat dengan pendapat Hall yang menyatakan bahwa kebudayaan senantiasa bersifat politik. Semua asumsi dasar dalam studi-studi budaya diwarnai oleh pemikiran Marxis. Namun itu tidak berarti semua praktisi studi budaya itu penganut Marxisme sekalipun harus diakui bahwa landasan studi budaya itu memang Marxisme. Ada dua pengaruh penting dari Marxisme terhadap studi-studi budaya. Pertama, untuk memahami makna kebudayaan, kita harus menganalisisnya dalam hubungannya dengan struktur sosial dan perkembangan sejarah. Meskipun setiap penggalan sejarah didominasi oleh struktur sosial tertentu, namun kebudayaan tidak harus dipelajari sebagai refleksi dari struktur tersebut. Bahkan sebaliknya, studi-studi budaya menekankan arti penting budaya yang bersumber dari kenyataan bahwa budayalah yang sesungguhnya membentuk struktur dan mewarnai penggalan sejarahnya. Kedua, studi-studi budaya mengasumsikan bahwa masyarakat industri kapitalis merupakan masyarakat yang terbagi-bagi secara tidak adil di kalangan etnik, gender, generasi dan kelas. Dikatakan pula bahwa kebudayaan merupakan salah satu wahana penciptaan dan pengujian pembagi- bagian yang timpang itu. Jadi, kebudayaan merupakan tempat berlangsungnya pertikaian makna secara terus menerus, di mana kelompok yang inferior berusaha melawan pemaksaan makna oleh kelompok-kelompok dominan. Itulah sebabnya kebudayaan juga bersifat ideologis. Ideologi merupakan konsep sentral dalam studi- studi kultural/budaya. Definisinya cukup beragam, namun yang sering dipakai adalah formulasi yang diciptakan oleh Hall (1982). Melalui kerangka konsep hegemoni Gramsci (1971), Hall mengembangkan suatu teori “artikulasi” untuk menjelaskan konsep pertentangan ideologis (bagi Hall istilah artikulasi berarti ekspresi dan penggabungan). la berpendapat bahwa teks dan praktek kultural tidak mengandung makna yang tetap karena hal itu dipengaruhi oleh proses artikulasinya yang tentu saja bersifat kontekstual dan bervariasi. Jadi ekspresi senantiasa dipengaruhi oleh konteks. Hall juga mengacu pada tulisan teorisi Rusia Valentin Volosinov (1973 [1929]) yang berpendapat bahwa makna senantiasa ditentukan oleh konteks artikulasi. Teks dan praktek kultural memiliki banyak aspek dalam pengertian hal-hal tersebut dapat diartikulasikan secara ber¬beda oleh orang yang berbeda dalam konteks yang berbeda atas dasar pertimbangan-pertimbangan politik yang berbeda pula. Itu berarti makna adalah suatu produk sosial dan tidak ada suatu makna yang berlaku universal. Suatu teks, praktek atau peristiwa tidak membawa makna sendiri, melain¬kan ada pihak tertentu yang memberikan makna sesuai dengan kepentingannya. Dengan demi¬kian, kebudayaan di mata para pelaku studi budaya merupakan suatu ajang pertikaian ideologi yang menentukan keberadaan atau hancurnya hegemoni. Sejumlah ilmuwan baik itu yang menganut atau yang menentang studi budaya berpendapat bahwa model ideologi studi budaya sesungguhnya merupakan bentuk kebudayaan populer itu sendiri. Salah satu di antaranya adalah Jim McGuigan (1992) yang mengatakan adanya “suatu dorongan populis anti kritik” dalam studi-studi budaya yang membuatnya tidak lebih dari sekedar bacaan “populer”.

Menghadapi kecaman seperti itu para penganjur studi budaya mengatakan bahwa manusia senantiasa membuat kebudayaan populer, dan hal itu intensif karena kemudian ditopang oleh “industri-industri budaya populer”. Karena itu jelas hal-hal yang bersifat populer akan tetap penting dan layak untuk dikaji secara ilmiah. Karya-karya terbaik dari studi budaya memang telah memberikan penjelasan yang memuaskan mengenai produksi konsumsi dan distribusi kebudayaan. Penilaian ilmiah atau tidaknya penjelasan yang diberikan tersebut nampaknya tidak perlu dipersoalkan karena hal itu hanya merupakan salah satu aspek dari kontek produksi kebudayaan itu sendiri yang mengandung makna, daya tarik, dampak ideologi dan logikanya sendiri.

Advertisement

Incoming search terms:

  • studi budaya
  • pengertian studi budaya
  • anti kritik teori artikulasi
  • studi kebudayaan
  • studi dan konsep kebudayaan
  • pengertin definisi konsep dari studi
  • pengertian studi kebudayaan
  • pengertian definisi konsep dari studi
  • definisi pengertian konsep studi
  • apa yang dimaksud arkuler dalam mewarnai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • studi budaya
  • pengertian studi budaya
  • anti kritik teori artikulasi
  • studi kebudayaan
  • studi dan konsep kebudayaan
  • pengertin definisi konsep dari studi
  • pengertian studi kebudayaan
  • pengertian definisi konsep dari studi
  • definisi pengertian konsep studi
  • apa yang dimaksud arkuler dalam mewarnai