Advertisement

subculture (subkultur)

Dalam bahasa sehari-hari istilah subkultur paling banyak dipakai untuk menggambarkan dunia kepentingan dan identifikasi khusus yang memisahkan antara beberapa kelompok dan/atau kesatuan lainnya yang lebih besar dengan kelompok lainnya. Di sini subkultur merupakan sistem norma, nilai, kepentingan atau perilaku yang membedakan antara individu, kelompok dan/atau kesatuan yang lebih besar dengan masyarakat yang lebih besar tempat di mana mereka juga ikut berpartisipasi di dalamnya. Kontak fisik antara mereka yang memihak kepada sebuah subkultur tidak diperlukan karena individu-individu mungkin memiliki kepentingan, norma dan sebagainya, yang sama dengan individu lain yang bukan anggota dari komunitas tempat tinggal mereka.

Advertisement

Ketika kita berbicara tentang “subkultur pemuda,” “subkultur etnis,” “subkultur penjahat,” dan berbagai “subkultur profesional,” adalah penting untuk memperhatikan bahwa tak satupun dari keanggotaan di dalam kategori tertentu tersebut (seperti usia atau etnis) atau tak ada perilaku (kejahatan, mengamati burung, atau kegiatan profesional) yang memadai untuk menjelaskan atau mengkarakteristikkan sebuah subkultur. Elemen yang penting adalah tingkat di mana nilai, artefak dan identifikasi diakui bersama antar anggota kategori, atau antar mereka yang masuk dalam tipe perilaku khusus.

Tidak ada teori umum tentang subkultur yang pernah muncul (lihat Yinger I960; 1977). Sebaliknya, riset-riset yang belakangan merekam variasi yang sangat banyak dalam bentuk dan isi dari subkultur; teori-teori diajukan dengan ilustrasi dan analogi, dengan kemajuan yang sedikit di dalam pengukuran atau perkembangan teori formal. Meskipun demikian, prinsip-prinsip formasi subkultur telah diidentifikasi.

Sebuah penelitian yang luas menyatakan bahwa kontributor utama bagi pembentukan subkultur adalah “pemisahan (separation)sosial.” Pemisahan sosial ini cenderung menghasilkan diferensiasi kultural (Glaser 1971). Namun masih banyak lagi yang diperlukan untuk pembentukan ini. Kondisi krusial bagi kemunculan bentuk kultur baru tampaknya adalah interaksi yang berhubungan dengan kepentingan khusus atau persoalan di antara orang-orang di dalam kategori yang terpisah secara sosial (Cohen 1955). Karakteristik struktur sosial, seperti usia, ras, etnis, kelas sosial, dan pelatihan atau kepentingan khusus, dan juga bentuk-bentuk perilaku tertentu, menjadi basis utama bagi pemisahan sosial dan formasi subkultural.

Subkultur eksis di dalam relasi dengan budaya dan sistem sosial yang lebih besar. Sifat dari hubungan-hubungan ini sangat penting bagi asal-usul, perkembangan dan status dari subkultur. Hubungan-hubungan tersebut mungkin berbeda dan dipandang dengan biasa-biasa saja; mungkin juga dipandang secara positif; atau, karena didefinisikan sebagai penyimpangan, dipandang secara negatif. Yang lainnya mungkin bukan sekedar berbeda, tetapi bertentangan dengan nilai kultural utama, di mana di dalam setiap kasus, hal ini disebut dengan kontra-budaya atau budaya tandingan. Definisi-definisi dan pengalaman yang melibatkan” cultural outsiders” atau” cultural insiders” di antara keduanya mempunyai pengaruh yang sangat kuat, dan bahkan seringkah menentukan, terhadap subkultur. Kecurigaan, ketidakpercayaan. dan ketakutan terhadap hal-hal yang tidak diketahui dan/atau hal-hal yang menyimpang dapat mengakibatkan penolakan oleh masyarakat yang dominan. Sebuah lingkaran interaksi, karena itu, dapat digerakkan di mana mereka yang didefinisikan sebagai sesuatu yang berbeda, menyimpang dan sebagainya, juga semakin banyak mengambil sumber-sumber mereka sendiri, mengembangkan nilai-nilai, keyakinan, peran dan sistem status milik mereka sendiri. Contoh-contohnya adalah berbagai subkultur kejahatan dan kelas bawah, sekte keagamaan, dan kelompok-kelompok lainnya yang menarik diri dari masyarakat. Sebaliknya, kelompok yang sangat kuat mampu untuk memerintah sumber daya yang diperlukan untuk menghidnari efek-efek negatif tersebut dari perbedaan mereka. Contoh dari kelompok ini adalah “masyarakat tinggi,” profesi dan murid-murid terpelajar. Seperti yang diisyaratkan oleh kelompok ini. bentuk-bentuk organisasional dan subkultur tidak akan kacau, karena mereka saling memperkuat satu sama lain.

Kondisi ekonomi makro, politik dan kultural memberikan latar belakang di mana pembentukan subkultur terjadi. Diferensiasi struktural diasosiasikan dengan perubahan teknologi dan kedatangan kapitalisme di Eropa Barat, misalnya, mengubah ekonomi tradisional dan hubungan sosial dan pembentukan subkultural. Karena itu subkultural dikaitkan dengan perubahan sosial, kadang-kadang berfungsi sebagai mesin perubahan sosial dan kadang-kadang sebagai penahan perubahan. Pengetahuan esoteris, bahasa, dan teknik-teknik ilmu pengetahuan, misalnya, menambah penemuan pengetahuan dan penerapannya lebih jauh; tetapi kepentingan pribadi dengan kedudukan dan profesi  dan identifikasi dengan masa lalu. yang seringkah dihubungkan dengan subkulturseringkali menolak perubahan.

Subkultur bervariasi dalam banyak dimensi; kekakuan pemisahan, tingkat eksklusivitas, berapa banyak kehidupan individu yang berpartisipasi yang bisa tercakup, sejauh mana mereka adalah kelompok yang terpusat atau menyebar di antara mereka yang mengidentifikasi atau diidentifikasi dengannya, dan sejauh mana mereka saling tumpang-tindih dengan subkultur lain. Banyak teori telah berusaha menjelaskan mengenai hal ini dan menerangkan karakteristik dan variasi lain dari subkultur, tetapi karya ilmiah di dalam bidang ini tetap berada di tingkat primitif.

Incoming search terms:

  • pengertian subkultur
  • subkultur
  • subkultur adalah
  • arti subkultur
  • subculture adalah
  • contoh subkultur
  • arti subculture
  • sub kultur
  • pengertian subculture
  • pengertian sub kultur

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian subkultur
  • subkultur
  • subkultur adalah
  • arti subkultur
  • subculture adalah
  • contoh subkultur
  • arti subculture
  • sub kultur
  • pengertian subculture
  • pengertian sub kultur