Advertisement

Surplus produksi merupakan prasyarat bagi tercapainya keterkaitan fungsional ke depan (forward lingkage) dan merupakan pencerminan dari keterkaitan pola usaha tani yang didukung oleh faktor input yang memadai (Backward linkages). Untuk mendukung keterkaitan fungsional antar subsistem dalam sistem agribisnis, maka dalam kegiatan usaha tani atau proses produksi haruslah dapat menciptakan surplus pro-duksi.
Untuk menciptakan surplus produksi diperlukan adanya suatu penerapan teknologi usaha tani yang tepat dalam meningkatkan produktivitas lahan. Teknologi dalam arti luas dapat digolongkan dalam tiga kelompok yaitu : teknologi mekanis, berupa peralatan mekanis pra-panen, teknologi nonmekanis seperti bibit unggul, pestisida/herbisida pupuk dan teknologi pasca panen (Soetatwo Hadiwigeno dan Husein Sawit, 1989).
Mekanisasi Pertanian Tepat Guna
Sebelumnya telah dikemukakan tentang pilihan penerapan teknologi dalam pembangunan pertanian, maka pada bagian ini akan dikaji tentang penerapan mekanisasi pertanian tepat guna. Me-kanisasi pertanian sering disamakan dengan motorisasi yang disimbolkan dengan traktor. Dengan demikian masalah mekanisasi tepat guna menjadi masalah bagaimana melakukan pendekatan yang selektif dalam penerapan traktor dan peralatan yang sejenis ke dalam pertanian kecil di negara sedang berkembang. Seharusnya kebijaksanaan program mekanisasi yang memprioritaskan peningkatan sektor lahan garapan sempit harus didasarkan pada alternatif teknologi dengan menggunakan mesin pertanian yang relatif kecil dengan biaya rendah dan cara kerja yang sederhana dan dapat dihasilkan di dalam negeri.
Mekanisme tepat guna dapat didefinisikan sebagai penggunaan perkakas, peralatan, dan perlengkapan sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kondisi fisik, teknologi, sosial budaya, dan ekonomi dari suatu lingkungan hidup tertentu (J.E. Tschiersch, 1978). Hal ini berarti penerapan dan penggunaan mesin pertanian yang relatif kecil dengan biaya rendah dan cara kerja yang sederhana serta sebagian besar dapat dihasilkan di dalam negeri. Dipandang dari segi perekonomian nasional, merupakan suatu kebijaksanaan yang tepat apabila peralatan dapat diproduksi di dalam negeri dengan sebagian besar menggunakan faktor produksi yang berasal dari dalam negeri.
Produksi lokal bukan saja menciptakan lapangan kerja baru, tetapi juga dapat memberikan sumbanganr.pada sektor industri, menghemat devisa, dan mengurangi ketergantungan kepada impor. Hal ini berarti bahwa dalam PJP II, pengembangan mekanisme pertanian sebaiknya lebih diarahkan untuk menghasilkan mesinmesin pertanian yang tepat guna, yang sesuai dengan lingkungan pertanian di Indonesia. Pengembangan mekanisasi pertanian hendaknya tidak hanya dititik beratkan pada mekanisasi pra-panen, tetapi juga pada mekanisasi pasca panen. Mekanisasi pasca panen memegang peranan yang tidak kalah pentingnya dalam mempertahankan surplus produksi, karena akan menekan tingkat kesusutan, kerusakan dan kehilangan setelah panen. Sekalipun telah disadari bahwa teknologi pasca panen memegang peranan penting dalam mempertahankan surplus produksi dari nilai tambah hasil pertanian, namun nampaknya teknologi pasca panen di Indonesia masih lemah, setidak-tidaknya yang ditangani oleh Departemen pertanian (Soetatwo Hadiwigeno dan Husein Sawit, 1989).

Incoming search terms:

  • usaha tani subsistem
  • isi dari subsistem usaha tani
  • sub sistem pertanian
  • subsistem usaha tani adalah
  • sub sistem usahatani
  • pengertian usahatani surplus
  • pengertian usaha tani subsistem
  • pengertian subsistem usahatani
  • pengertian subsistem usaha tani
  • definisi pertanian subsistem

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • usaha tani subsistem
  • isi dari subsistem usaha tani
  • sub sistem pertanian
  • subsistem usaha tani adalah
  • sub sistem usahatani
  • pengertian usahatani surplus
  • pengertian usaha tani subsistem
  • pengertian subsistem usahatani
  • pengertian subsistem usaha tani
  • definisi pertanian subsistem