PENGERTIAN SUBSISTENSI AGRARIS INGGRIS ZAMAN PERTENGAHAN

32 views

PENGERTIAN SUBSISTENSI AGRARIS INGGRIS ZAMAN PERTENGAHAN – Inggris zaman pertengahan merupakan contoh yang sangat bagus untuk pola teknologi subsistensi agraris. Kajian yang dilakukan H.S. Bennett (1937) tentang bagaimana petani dari abad xii sampai xv menanami tanah, memberikan dasar pembahasan berikut ini. Para petani Inggris tinggal dalam masyarakat pedesaan yang sangat banyak di kota-kota kecil. Petani tinggal di desa-desa kecil yang umumnya berjumlah sekitar 100 orang. Mereka menghabiskan kebanyakan hidup mereka dengan pekerjaan pertanian, yang kebanyakan dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok petani.

Sdpagian petani menanami tanah dengan cara “dua ladang”. Mereka bekerja pada satu ladang selama satu tahun, sambil membiarkan ladang yang satunya kosong; kemudian pada tahun berikut mereka akan membalikkan proses tersebut. Para petani lain menanami tanah dengan menggunakan sistem “tiga-ladang”. Satu ladang akan ditanami terigu atau mungkin gandum hitam pada musim gugur; ladang yang lain ditanami gandum, buncis, atau gerst pada musim semi; sementara ladang ketiga akan dibiarkan kosong pada saat yang sama. Tahun berikutnya tanah yang dibiarkan kosong tadi akan ditanami terigu, yang pertama ditanami gandum, buncis atau gerst sementara yang ketiga dibiarkan kosong, begitulah seterusnya. Secara alamiah, dengan menggilirkan bibit dan ladang seperti ini para petani berusaha menjaga kesuburan tanah setinggi mungkin.

Untuk menyuburkan tanah, para petani menggunakan kotoran binatang, tetapi mendapatkan kotoran binatang dalam jumlah yang cukup juga merupakan tantangan yang konstan. Ada beberapa alasan atas kenyataan ini. Pertama, para petani jarang memiliki binatang yang cukup untuk memproduksi semua kotoran yang diperlukan. Juga, para petani tidak membatasi penggunaanbinatang piaraan mereka, karena para tuan tanah menyembelihnya untuk berbagai perayaan. Makanan binatang untuk menghasilkan jumlah kotoran yang cukup juga sangat terbatas. Maka para petani berbuat yang terbaik untuk dapat mengatasi keadaan yang sulit, dan ini berarti bahwa dia kadang-kadang memasukkan marl atau kapur ke dalam tanah sebagai pupuk tambahan. Banyak binatang yang dipelihara oleh para petani, baik sebagai alat kerja maupun sebagai sumber makanan. Sapi jantan dan betina sangat penting dalam pertanian, dan keduanya juga dimanfaatkan untuk bahan makanan dan diambil kulitnya. Babi juga dipelihara, dan ini barangkali merupakan yang paling bernilai di antara semua binatang yang dipelihara, paling tidak sebagai sumber makanan. Babi sangat penting sebagai sumber makanan karena ia dapat dimakan secara ekonomis, tumbuh besar dengan cepat, dan dapat dipersiapkan dengan efisien untuk disembelih.

Pekerjaan pertanian bagi rata-rata petani Inggris sangat memberatkan, dan mereka menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan subsistensi mereka dan membayar pajak. Deskripsi tentang petani berikut ini akan menunjukkan sejauh mana sebenarnya beban kehidupan petani itu (Bennett, 1937:82-83):

Sekali pekerjaan-pekerjaan ini selesai, tenaga petani tidak begitu diperlukan lagi, dan mereka dapat beralih ke banyak pekerj aan sekunder lain yang menunggu untuk dikerjakan. Jika tanahnya keras, operasi pengairan secara konstan diperlukan dan berguna; parit-parit perlu digali setelah banjir di musim dingin, dan tanah yang subur diletakkan kembali ke ladang; pagar yang mengelilingi tempat tinggal memerlukan perhatian dan seterusnya. Kemudian ….tibalah waktu untuk terlebih dahulu membajak tanah yang dibiarkan kosong pada masa sebelumnya, dan selanjutnya berbagai kegiatan di kebun, misalnya ketika sayuran dan buah-buahan yang ditanam mulai tumbuh.

Jadi, hari-hari berlalu dengan penuh kesibukan sampai akhir bulan Mei. Datangnya bulan Juni menuntut mereka melakukan pekerjaan yang baru lagi. Upaya mencari untung memerlukan seluruh kekuatan mereka: pertama, ada beberapa hari wajib di mana mereka harus menghabiskan waktunya untuk keuntungan para tuan tanah

Dengan datangnya bulan Agustus, aktivitas para petani mencapai puncaknya. Sekali lagi, beban yang diberikan tuan tanah kepada mereka seringkali sangat berat. Mereka sendiri harus berkumpul memanen ladang tuan tanah — dan, walaupun mereka biasanya bekerja satu hari atau lebih dalam seminggu pada bulan Agustus sampai hari Michael (29 September) dibandingkan masa-masa lain dalam setahun, ini tidak cukup, mereka harus pula menyediakan beberapa hari ekstra sebagai hadiah kepada tuan tanah. Dan lebih dari itu, mereka harus pula datang bersama semua keluarganya: setiap orang yang mampu bekerja, kecuali mungkin isteri mereka, diharuskan melayani dalam waktu yang begitu lama. Ini menyebabkan usaha mendapatkan nafkah sendiri semakin sulit dan mengkhawatirkan, dan bekerja selama minggu-minggu yang menentukan ini hampir tak ada akhirnya.

Jadi, demikianlah para petani Inggris pada masa pertengahan bekerja keras di ladang dengan cara yang menurut pandangan rata-rata masyarakat pemburu-peramu atau hortikultura tidak mungkin dapat dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *