Advertisement

Berasal dari kata Latin sub dan stare yang berarti berdiri di bawahnya, identik dengan landasan atau dasar. Dalam filsafat arti substansi jauh lebih luas daripada arti etimologisnya. Substansi bukan saja dasar atau landasan melainkan seluruh “aku” sebagai s’tbjek yang berarti bahwa “aku”, manusia, ada dan bahwa aku berada di bawah semua perbuatan dan perubahan. Dalam hidupku selalu terdapat fakta yang tetap dari dulu hingga sekarang.

Menurut Aristoteles, substansi merujuk kepada empat hal yang berbeda, yakni esensi, universal,jenis, dan subjek. Aristoteles menggunakan istilah ousiti (sinonim dengan physis, asal mula sesuatu dan hypo keimenon, yang berada di bawah sesuatu) untuk substansi. Dalam logika, terutama pengelompokan konsep, Aristoteles membedakan substansi dengan aksidens (keterangan adalah sesuatu yang menambah). Substansi adalah kategori (ada sepuluh) konsep yang menyatakan sesuatu dapat berdiri sendiri, sedangkan kategori-kategori lain menunjuk keterangan-keterangan substansi.

Advertisement

Menurut Rene Descartes, subjek adalah “aku” yang sadar. Bukan saja aku tetap ada, melainkan aku juga tahu bahwa aku ada. Melalui metode kesangsiannya, Descartes mendapatkan kebenaran pasti yang tidak tergoyahkan melalui kenyataan Cogito ergo sum (saya berpikir jadi saya ada). Aku sadar akan diriku dalam semua perbuatanku. Bagi Descartes subjek

dalah substansi yang semata-mata bersifat berpikir, papat disimpulkan bahwa substansi berada di dalam dirinya sendiri tanpa membutuhkan yang lain. Aku iangsung mengenal diri sendiri. Pengenalan atau pemikiran adalah proses yang sama sekali tidak membutuhkan sesuatu yang bukan pengenalan atau pemikir-

flfl Baruch de Spinoza menyatakan bahwa hanya ada satu substansi, yakni Allah yang meliputi dunia maupun manusia. Melalui dan di dalam substansi segala sesuatu terjadi. Substansi mempunyai ciri-ciri yang tak terhingga jumlahnya dan setiap ciri mengeks-

resik n hakikat Allah. Maka bagi Spinoza tidak ada lagi persoalan mengenai hubungan jiwa dengan tubuh karena jiwa dan tubuh merupakan dua aspek yang menyangkut substansi yang sama.

Gottfried Wilhelm Leibniz (1646- 1716) meng-anggap substansi sebagai monade. Monade-monade itu tak terhingga jumlahnya; tidak bersifat jasmani dan tidak dapat dibagi-bagi. “Monade-monade tid<ik mempunyai jendela, tempat sesuatu bisa masuk atau keluar.” John Locke, Berkeley, David Hume, dan para penganut empirisme menyatakan bahwa konsep substansi adalah konsep kosong, ilusi yang tak bermakna. Subjek atau ego merupakan ringkasan banyak hal yang bertepatan atau berbarengan. Itu adalah pluralitas yang digabungkan. “Aku” hanyalah penggabungan dari berbagai persepsi berturut-turut satu sama lain. Agar lebih mudah, manusia menggabungkan semuanya dengan nama “aku” namun tidak ada alasan untuk mengandaikan bahwa betul-betul ada semacam landasan yang tetap.

Immanuel Kant berusaha mengatasi keberatsebelahan antara rasionalisme dan empirisme. Kalau para ff uf terdahulu memahami pengenalan dengan mengandaikan subjek mengarahkan diri kepada ob-jek, Kant bisa mengerti pengenalan yang beranggapan bahwa objek mengarahkan diri kepada subjek. Maka pengenalan pada dasarnya berpusat pada subjek, bukan objek.

Para filsuf kontemporer lazimnya menolak anggapan “Cogito” tertutupnya Descartes dan idealisme (konsekuensi paham Immanuel Kant) yang mendewakan kemampuan akal budi manusia. Fenomenologi mengkritik Descartes karena menyangkal dimensi yang esensial subjektivitas, yakni bahwa aku selalu sadar akan sesuatu yang lain dari kesadaran sendiri. Husserl memberi istilah kesadaran yang terbuka sebagai suatu intensionalitas. Namun intensionalitas bukanlah ciri kesadaran yang berbeda dari kesadaran sendiri; bukan sifat yang ditambahkan pada kesadaran, melainkan dengan intensionalitas kesadaran menjadi kesadaran. Intensionalitas merupakan modus es- sendi kesadaran. Kesadaran menjadi kesadaran oleh karena keterlibatannya dalam sesuatu yang berlainan dari kesadaran. Dengan kata lain, subjektivitas ialah Kemampuan berpraksis. Subjek secara hakiki terarah kepada yang lain. Ini berarti bahwa subjektivitas harus dipahami sebagai subjektivitas yang dinamis, sebagai subjektivitas yang membuat, mengusahakan, dan melaksanakan sesuatu. Bentuk-bentuk eksistensi manusiawi bukan pengenalan melainkan kemampu- annya bertindak. Dengan demikian cogito menjadi possum (mampu) untuk melakukan proyek-proVek. Itulah makna substansi sebagai subjek yang ditekankan oleh Husserl, Heidegger, Merleau Ponty. De Waelhens, dan juga oleh Paul Ricoeur.

 

 

PENGERTIAN SUBSTRAT

Adalah zat atau senyawa yang merupakan sumber energi suatu enzim.

Incoming search terms:

  • pengertian substansi dalam filsafat
  • substansi sama dengan
  • substansi logika
  • pengertian segi substansi
  • apa subtansi
  • makna subtansi
  • substansi filsafat
  • pengertian dan contoh substansi
  • apa pengertian subtansi
  • sebutkan pengertian substansi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian substansi dalam filsafat
  • substansi sama dengan
  • substansi logika
  • pengertian segi substansi
  • apa subtansi
  • makna subtansi
  • substansi filsafat
  • pengertian dan contoh substansi
  • apa pengertian subtansi
  • sebutkan pengertian substansi