Advertisement

Berdiam di wilayah pantai barat daya Irian Jaya, dari tepi timur Teluk Etna sampai ke Sungai Otokwa. Wilayah orang Mimika di utara dibatasi oleh Pegunungan Charles Louis, sedangkan di sebelah timurnya terbentang Pegunungan Carstenz dengan puncak salju abadinya. Wilayah tempat tinggal orang Mimika ini merupakan suatu dataran rendah.

Bahasa Mimika, yang disebut juga bahasa Kamora, digolongkan ke dalam rumpun bahasa Irian. Bahasa ini dipakai oleh sekitar 7.000 8000 jiwa dari 8.500 8.600 jiwa pendukung kebudayaan Mimika (J. Pouwer, 1955:8). Bahasa Kamora terdiri atas enam logat, yaitu: (1) logat barat yang dipakai sekitar 450 jiwa penduduk di pinggir-pinggir Sungai Yakopare, Su ngai Keawka, dan Sungai Umari; (2) logat Tarya yano diucapkan oleh sVkitar 500 jiwa; (3) logat Tengah yang dipergunakan oleh sekitar 4.300 jiwa di daerah Sungai Wakia sampai kampung Mioko yang terletak di Sungai Kamora, terkecuali di kampung kecil Muya; (4) logat Kamora atau logat Hamza yang diucapkan oleh sekitar 400 penduduk kampung-kam pung Iweka, Marapiri, dan Temare di Sungai Kamora dan penduduk kampung Muya; (5) logat Wania yang dipakai oleh sekitar 1.300 penduduk di Sungai Wania yang terdiri atas empat kampung; (6) logat Mukumuga yang dipakai oleh 800 jiwa orang Koperapoka yakni penduduk kampung-kampung di Sungai Mukumuga, dan di kampung Kawkapu.

Advertisement

Mata pencaharian mereka adalah meramu sagu Ada tiga jenis sagu, yaitu pohon sagu liar (amota) pohon sagu yang sewaktu-waktu dibersihkan dan dirawat (amota pareta), dan pohon sagu yang ditanam sejak kecil (amota marepema). Mereka juga menangkap ikan di sungai atau rawa-rawa, berburu, dan berladang. Dalam penangkapan ikan, mereka menggunakan tombak, harpun (lembing bermata dua atau tiga), sauk atau sambet (imi), jala dari serat kulit kayu, pancing, atau membuat tanggul kali dan tawuan. Jenis ikan yang ditangkap, antara lain, ikan todak, kakap besar, kura-kura, belut, dan udang kecil. Alat berburu terdiri atas busur dan panah, tombak, dan gada. Binatang yang diburu adalah babi, burung kasuari, biawak, beruang. Alat pertanian terdiri atas tugal dan baji pembelah kayu. Mereka menanam tembakau (kapaki), tebu (mone), dan pisang (kaw), yang merupakan jenis tanaman asli Mimika. Tanaman yang bukan asli setempat adalah ubi, kelapa (utiri), labu, pepaya (tena), sukun (apago), ubi manis (pamea), dan timun.

Mereka mengenal alat angkut berupa perahu pantai (torepa), yang merupakan pengaruh luar daerah Mimika, dan perahu sungai atau perahu sendok atau perahu lesung. Semua jenis perahu ini terbuat dari kayu. Proses pembuatan perahu melibatkan suami, anak-anak, dan suami saudara perempuannya.

Pakaian sehari-hari orang Mimika sangat sederhana; kaum pria memakai cawat dan kemeja yang tidak tiap hari dipakai, sedangkan kaum wanita memakai cawat dari kulit kayu yang bagian belakangnya lebih panjang dan menggantung ke bawah. Pakaian anakanak juga berupa cawat dari kulit kayu. Selain sebagai pakaian, kulit kayu juga dipakai sebagai alat penggendong anak-anak. Pakaian seperti yang umum sekarang dipakai pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya ke gereja atau acara resmi lainnya. Sebelum Perang Dunia II, mereka juga menggunakan kulit kerang, daun sagu, atau bahan bambu sebagai pakaian.

Sistem kekerabatan merupakan suatu hal yang penting bagi orang Mimika untuk menetapkan status individu dalam keanggotaan kerabat, di samping penting juga untuk menumbuhkan kesadaran akan adanya kesatuan. Orang Mimika sering kali menghitung orang-orang bukan kerabatnya yang telah akrab sebagai anggota kerabatnya, dan menyapanya pula dengan istilah kekerabatan yang berlaku. Prinsip kekerabatan orang Mimika dapat disebut bilineal, karena mengandung unsur unilineal rangkap. Ditinjau dari alur keturunan, mereka memegang prinsip matrilineal, demikian pula halnya dalam pewarisan. Daerah sagu dan tempat sumber ikan selalu diwariskan kepada anak perempuan atau saudara perempuan ibu. Sebaliknya, mereka juga memegang prinsip patrilineal yang terkait dengan ritual, yang selalu diwariskan dari ayah kepada anak laki-laki atau saudara laki-lakinya. Namun, ditinjau dari segi batas lingkungan pergaulan kekerabatannya, mereka memegang prinsip bilateral.

Bentuk-bentuk kelompok kekerabatan mereka, antara lain, taparu atau keluarga luas matrilokal, dan peraeko atau kelompok kerabat matrilineal dan matrilokal, namun anggotanya tidak selalu memiliki hubungan kerabat atau hubungan darah. Anggota pada kelompok kerabat ini sifatnya flktif. Suatu taparu mempunyai tokoh penting, yaitu wali tanah atau taparamako, yang biasanya mamak tertua dalam kelompok. Dia memegang peranan penting dalam upacara teagamaan. Gabungan beberapa taparu, yang disebut rumpun, mendiami sebuah sungai, sehingga nama setiap rumpun selalu nama sebuah sungai yang ditambah dengan akhir we. We artinya orang. Maka taparutaparu yang tinggal di sekitar Sungai Kipya, misalnya, disebut kipya-we.

Di seluruh Mimika terdapat 50 kumpulan taparu atau rumpun, dan dari 50 rumpun ada sekitar 21 rumpun yang terdiri atas dua taparu, sedangkan sisanya, yang 29 rumpun, terdiri atas lebih dari dua taparu. Mereka sering pula membedakan dua golongan taparu, yaitu yang ada di hulu sungai dan di hilir. Dengan demikian, masyarakat “Mimika terbelah menjadi dua bagian, yang dalam ilmu antropologi disebut moety. Rumpun-rumpun biasanya juga tergabung dalam persekutuan-persekutuan pasangan dua, tetapi ada juga persekutuan rumpun yang terdiri atas lebih dari dua rumpun. Dari ke-19 persekutuan rumpun seperti itu, ada enam yang mempunyai nama sendiri, yaitu persekutuan Naoweripi, Kamora-we, Ttukay, Ayka-we, Pamayka-we, dan Tarya-we. Di masa silam, keenam persekutuan rumpun ini merupakan kesatuan perang yang kokoh masing-masing di bawah pimpinan seorang we ayku. Seperti suku bangsa lain di Indonesia, orang Mimika mengenal upacara ritual dalam rangka lingkaran hidup, misalnya pada masa kehamilan, kelahiran, inisiasi, perkawinan, adopsi, dan kematian.

Sistem kepercayaan orang Mimika yang asli adalah kepercayaan akan kekuatan sakti (mbii) yang sifatnya tidak abadi, mitologi, dewa pembawa adat, dan ilmu gaib. Selain itu, kepercayaan terhadap arwah yang telah meninggal diwujudkan melalui upacara pemujaan atau penghormatan arwah, yang disebut mbii kawane. Upacara ini biasanya hanya dilakukan untuk memuja arwah orang terkemuka saja. Kini, sebagian besar orang Mimika telah menganut agama Kristen Katolik, yang masuk pada jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1920-an.

Dalam bidang kesenian, mereka juga mengenal seni patung dengan motif hias mata. Motif mata merupakan ungkapan stilistis dari puser ibu, yang bagi orang Mimika dianggap sangat penting dan diselimuti suasana sakral. Motif mata sering kali terukir pada daun pengayuh, perisai, dan patung nenek moyang. Seni rupa orang Mimika yang khas ini menduduki tempat penting di Irian Jaya.

Incoming search terms:

  • kampung mioko

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • kampung mioko