Advertisement

PENGERTIAN SUKU BANGSA PASIR – Merupakan suku bangsa asal di Kabupaten Pasir, Propinsi Kalimantan Timur. Mereka ada di seluruh kecamatan dalam kabupaten tersebut, yaitu Kecamatan Tanahgrogot, Kuaro, Longkali, Longikis, Waru, Batusopang, Muarakomam, Pasirbelengkong, dan Tanjungaru. Di antara penduduk Kabupaten Pasir pada tahun 1980 yang berjumlah 83.524 jiwa, orang Pasir diperkirakan berjumlah sekitar 71 persen. Jumlah orang Pasir di setiap kecamatan itu merupakan jumlah mayoritas, yaitu antara 70 – 80 persen. Suku bangsa lain yang jumlahnya cukup berarti di kabupaten ini adalah suku bangsa Banjar dan Bugis.

Orang Pasir menggunakan bahasa sendiri, yaitu bahasa Pasir, yang merupakan salah satu di antara lebih dari 20 bahasa yang ada di Propinsi Kalimantan Timur. Bahasa Pasir terdiri atas 12 dialek, yaitu dialek Pematung, Telake, Tukos, Adang, Pias, Toyo, Lerengan, Nyowo, Tajur, Penuhen, Leburan, dan Megi. Bahasa pengantar lainnya, selain bahasa Pasir, adalah bahasa Banjar, bahasa Bugis, dan bahasa Indonesia.

Advertisement

Daerah Kabupaten Pasir merupakan bekas wilayah kekuasaan sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sadu- rangas. Kerajaan ini konon didirikan pada tahun 1565 dan diperintah oleh seorang ratu bernama Aji Putri Petung. Baru pada tahun 1877 kerajaan ini berada di bawah kekuasaan Belanda, meskipun pada tahun-tahun berikutnya masih sering terjadi pemberontakan terhadap Belanda. Kerajaan Pasir ini tampaknya banyak mendapat pengaruh budaya Bugis, misalnya dalam hal bahasa, bangunan, struktur sosial, dll.

Orang Pasir sebagian berdiam di desa-desa di tepi sungai, dan sebagian lainnya di tengah hutan yang sulit dicapai. Desa-desa itu didiami oleh kelompok- kelompok kerabat yang berjumlah 20 – 30 jiwa. Rumah-rumah terletak dalam jarak sekitar 300 meter antara satu dan yang lain. Hubungan antara satu desa dan desa lain dilakukan melalui sungai atau jalan setapak. Sebagian masih hidup dengan pola berpindah-pindah sesuai dengan pola mata pencaharian berladang.

Pola kegiatan bercocok tanam di ladang sama dengan pada masyarakat peladang lainnya. Pembukaan ladang baru dimulai dengan membersihkan rumput {mpolo numbas) yang dikerjakan dengan pengerahan tenaga tambahan dari luar lingkungan keluarga. Pekerjaan dilanjutkan dengan inenebang-pohon pohon besar (mpolo nato). Pohon yang telah ditebang dipotong dan dihamparkan agar cepat kering untuk memudahkan pembakaran. Masa pengeringan selama satu-dua minggu ini disebut nyasak. Setelah kering, kayu di lahan itu dibakar. Kegiatan ini tidak memerlukan banyak tenaga. Setelah pembakaran, mereka members-ihkan tanah (mopo) untuk ditanami bersamaan dengan datangnya musim hujan. Penanaman dilakukan setelah tanahnya ditugal (mpolonias). Pekerjaan berikutnya adalah membersihkan rumput yang bisa mengganggu pertumbuhan padi, menjaga buah padi dari gangguan burung, dan akhirnya menuai.

Selain mata pencaharian dengan perladangan berpindah, orang Pasir ada yang sudah menetap dengan menanam padi dan tanaman palawija, seperti jagung,, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan, sayur-mayur. Orang Pasir juga mendapat penghasilan dari tanaman kelapa, durian, rambutan, cempedak, langsat, dll. Mereka juga ada yang mengumpulkan hasil hutan, seperti damar dan rotan, serta mengolah sirap. Mereka pun menangkap ikan dan berburu. Orang Pasir yang berdiam di kota bekerja sebagai pegawai dan dalam bidang jasa.

Orang Pasir menarik garis keturunan secara ambilineal, artinya sebagian orang menarik garis keturunan melalui garis laki-laki dan sebagian lainnya melalui garis perempuan. Pilihan adat menetap sesudah nikah ada yang di lingkungan kerabat suami, ada yang di lingkungan kerabat istri, atau memilih tempat yang baru (neolokal). Pada masa lalu orang Pasir mengenal adanya golongan masyarakat bangsawan dan golongan masyarakat biasa. Penggolongan semacam ini merupakan sisa dari masa sistem kerajaan tersebut di atas. Sekarang kedudukan golongan bangsawan telah tergeser oleh orang yang mempunyai ekonomi kuat atau orang yang terpelajar.

Pada masa lalu mereka mengamalkan kepercayaan yang bersifat animisme dan dinamisme. Pada masa kini mereka umumnya memeluk agama Islam. Data tahun 1971 menunjukkan 98,8 persen penduduk Kabupaten Pasir memeluk agama Islam. Namun dalam hal tertentu mereka masih mengamalkan kepercayaan nenek moyang mereka, misalnya dalam pengobatan, dan kepercayaan kepada Sang Hiyang yang memberikan kesuburan kepada tanaman padi. Pada masa panen mereka harus menyajikan makanan pada Sang Hiyang yang disertai mantra-mantra.

Advertisement