Advertisement

tribe (suku bangsa)

Istilah suku bangsa (tribe) digunakan pertama kali oleh para sarjana Victorian dalam upaya mereka membangun ilmu yang disebut masyarakat-masyarakat “primitif.” Para antropolog berupaya mengidentifikasi ciri utama dari sejumlah masyarakat asli di kawasan seperti Afrika, Amerika, dan Mela-nesia. Istilah suku bangsa (yang kadang-kadang disebut klan) dipakai pada kelompok-kelompok sosial yang besar, tetapi kemudian ternyata bahwa disini terdapat keragaman/perbedaan yang besar, dan beberapa usaha dicurahkan untuk memutuskan kelompok mana yang seharusnya disebut sebagai suku bangsa dan apa saja ciri-ciri yang membentuknya. Istilah ini kemudian menjadi kata-kata sehari-hari dan tetap bertahan dalam antropologi (sejak tahun 1960-an seperti kasus Lewis 1968). tetapi menjadi salah kaprah ketika ternyata bahwa masyarakat-masyarakat yang digambarkan sebagai suku bangsa tersebut tidak memiliki banyak persamaan. Terlebih lagi, para intelektual di negara-negara yang mengalami dekolonisasi memperdebatkan bahwa para sarjana Barat, terutama ahli-ahli Antropologinya, telah mencampuradukkan penemuan kolonial atas suku bangsa dengan maksud untuk memecah-belah rakyat dan menghalangi nation-building.

Advertisement

Pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak ahli Antropologi melakukan latihan refleksif dalam usaha menemukan mengapa pemikiran tentang suku bangsa telah menimbulkan perlawanan dalam disiplin ilmu ini, terutama sekali dalam imajinasi publik Barat. Mereka memutuskan bahwa sebagian dari jawabannya berada pada pesona abad ke 19 tentang ide evolusi sosial. Para ahli etnografi belum bisa disebut sebagai penganut empiris yang cermat; sebaliknya, mereka telah membangun sebuah imaji masyarakat primitif melalui sebuah inversi yang a priori dari beberapa ciri dari masyarakat mereka sendiri, dan kemudian memilih bukti untuk mendukung visi mereka.

Para ahli ethnografi awal telah mencatat bahwa proses rekrutmen dari kelompok-kelompok besar di masyarakat industri mensyaratkan kriteria prestasi/pencapaian, kontrak dan pilihan, dan mereka berspekulasi bahwa kelompok-kelompok “primitif” direkrut melalui ascription, atas dasar status. Bukti-bukti bahwa kekerabatan memainkan peranan dalam membentuk kelompok-kelompok sosial ini membuat mereka berkesimpulan bahwa suku bangsa adalah kelompok-kelompok ascriptive yang didasarkan pada kekerabatan. Ini sama sekali tidak benar, tetapi ini membuat orang Barat yakin bahwa bahwa dunia yang primitif dan dunia yang beradab sama sekali berbeda, dan dunia beradab telah berubah menjadi bentuk keberadaan sosial yang lebih unggul.

Dari sudut pandang refleksif tahun 1970-an, “suku bangsa” adalah bagian dari proses intelektual yang telah memberikan cap “otherness” (berbeda dan inferior) atas masyarakat di bagian-bagian lain dunia ini.

Pencirian “otherness” juga telah merupakan sebuah proses praktis. Dipengaruhi oleh pemikiran abad 19 tentang suku bangsa, pemerintah telah memaksakan terbentuknya suku-suku bangsa dalam masyarakat di koloni-koloni mereka. Pada saat itu mungkin mudah untuk meyakini bahwa kelompok-kelompok yang mereka bangun sebenarnya adalah kelompok-kelompok alamiah yang telah ada jauh sebelum mereka datang. Antropologi awal abad 20 tidak menentang fiksi ini dengan serius, karena riset-riset mereka yang seharusnya bersifat netral adalah bagian integral dari kekaisaran kolonial, dan bagaimana Barat mempergunakan istilah “yang lainnya” (the Rest) untuk membenarkan ketidakadilan dan eksploitasi.

Pada tahun 1960-andan 1970-an para sarjana menyatakan bahwa suku bangsa tidak pernah ada kecuali di benak para pengamat. Ini sudah diluar batas dan menghina masyarakat yang justru ingin diteliti. Ini berarti mereka secara pasif mengizinkan suku bangsa, dan paraphernalia otherness yang bersangkutan, untuk diberlakukan.

Pada tahun 1980-an para sarjana dari berbagai ilmu pengetahuan berusaha membuat sebuah analisis dari cara-cara praktis di mana ide suku bangsa dipakai oleh kaki tangan kolonialisme. Usaha ini menghasilkan penjelajahan tentang bagaimana orang-orang jajahan bereaksi dengan mengambil ide-ide dan praktek-praktek baru menuju cara-cara lama, mengubahnya, dan menggantikannya bagi kepentingan-kepentingan mereka. Dalam kata-kata Comaroffs (1991), perhatian telah diberikan baik bagi kolonisasi kesadaran maupun kesadaran kolonisasi (” coloni¬zation of consciousness dan consciousness of colonization”.

Sejak pertengahan tahun 1980-an riset telah membuktikan siapa yang memimpin tanggapan dari adaptasi, adopsi, dan subversi, dan mengapa yang lain mengikuti. Dalam melakukan itu, riset juga menyingkap tabir ambiguitas suku bangsa. Istilah suku bangsa memperkenalkan ide-ide yang sangat baru bagi dunia primordialitas, ascription, dan perbatasan absolut. Tetapi sekali dipakai, ide-ide ini tidak dapat dibendung pada satu tingkatan masyarakat. Cara berpikir ini menunjukkan persepsi baru dari kelompok-kelompok yang lebih besar dan lebih kecil. Cara berpikir ini sering kaii digunakan untuk membangun gambaran- gambaran kelompok-kelompok etnik dan bangsa,dan untuk memisahkan perbedaan dari inferioritas. Masyarakat dimungkinkan untuk mengklaim, dan menebus, otherness mereka dalam berbagai konteks. Suku bangsa adalah salah satu kunci kotak Pandora yang berisi klaim tentang identitas.

Imbasnya masih tetap terasa, dan bahkan mem-peroleh signifikansi di dunia pasca-industri di mana impian populer tentang kemajuan dan mobilitas sosial menjadi basi. Saat ini terdapat tendensi yang besar untuk memberikan penekanan pada identitas dan kelompok di mana orang dinilai melalui ascription dan bukannya melalui prestasinya. Berbagai kekuasaan dari kelompok seperti ini adalah cara untuk menegaskan martabat dan bersaing memperoleh sumber daya dalam konteks nasional maupun global. Suku bangsa hanyalah sebuah label yang dapat dipakai bagi alasan-alasan sejarah, untuk ditempatkan di bawah istilah-istilah kelompok etnik, bangsa, dan ras. Tetapi pada tahun 1990-an akan sangat naif untuk menyebut bahwa idiom suku bangsa telah mati.

Incoming search terms:

  • bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • bukti bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • bukti-bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • suku bangsa disebut juga sebagai
  • jelaskan bukti bukti dari peranan sejarah dalam pembentukan keberagaman kelompok sosial
  • suku bangsa disebut juga sebagai?
  • bukti peranan sejarah dalam pembentukan keberagaman kelompok sosial
  • jelaskan peranan sejarah terhadap proses terjadinya keberagaman
  • bukti peranan sejarah dalam pembentukan keragaman kelompok sosial
  • suku bangsa jg d sebut sbgai

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • bukti bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • bukti-bukti yang menyatakan bahwa kelompok masyarakat dikatakan sebagai suku bangsa
  • suku bangsa disebut juga sebagai
  • jelaskan bukti bukti dari peranan sejarah dalam pembentukan keberagaman kelompok sosial
  • suku bangsa disebut juga sebagai?
  • bukti peranan sejarah dalam pembentukan keberagaman kelompok sosial
  • jelaskan peranan sejarah terhadap proses terjadinya keberagaman
  • bukti peranan sejarah dalam pembentukan keragaman kelompok sosial
  • suku bangsa jg d sebut sbgai