Advertisement

Surat kabar nasional tertua setelah Indonesia merdeka yang masih terbit sampai sekarang. Harian ini pertama kali muncul pada tanggal 1 Oktober 1945, empat hari sesudah di Yogyakarta untuk pertama kali terbit (27 September 1945) Kedaulatan Rakyat, surat kabar daerah tertua yang masih beredar sampai sekarang. Merdeka merupakan terompet Republik yang terkemuka di Jakarta pada masa agresi Belanda hingga pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada akhir tahun 1949. Pendirinya adalah Burhanuddin Muhammad (B.M.) Diah. Pada awal kehadirannya, Diah dibantu oleh sejumlah wartawan, seperti Rosihan Anwar, M. Soepardi, Ahmad Tjokroaminoto, Ramelan, Dal Bassa Pulungan, Soetomo Satiman, Darmawidjaja, dan M.T. Hutagalung.

Sikap Merdeka, sebagai pencerminan sikap Diah yang anti politik Sutan Sjahrir dan partai yan didirikannya, yakni Partai Sosialis Indonesia (p$j? terus berlanjut. Seorang redakturnya, Rosihan Anwar yang pro Sjahrir, disingkirkan oleh Diah pada bula’ Maret 1946. Sejak itu, harian ini dikendaiikan oleh Diah sendiri sebagai pemimpin umum, dan. R.fyj ^ narno sebagai pemimpin redaksi.

Advertisement

Pada usia genap setahun, Merdeka menerbitka edisi Solo, yang dipimpin oleh Dal Bassa Pulungan dan para redakturnya, antara lain, Darmosugondo dan Hetami (yang kelak menerbitkan harian Sua/ Merdeka di Semarang). Penerbitan edisi Solo dilaku kan karena adanya pembatasan terhadap harian ini di Jakarta oleh Belanda. Bahkan, markas besar tentara Inggris pernah mengancam akan menutup harian ini karena pemberitaannya yang pro Republik. Ketika mencapai usia genap dua tahun, jabatan pemimpin redaksi dipegang langsung oleh Diah, dibantu oleh Asa Bafagih, Darmawidjaja, M. H. Lubis, Soemardi M. Isa, dan Soeparman.

Pada tahun 1948, Diah mengeluarkan anak penerbitan, Majalah Merdeka, yang berisi ulasanulasan berita. Diterbitkan pula majalah Keluarga yang diasuh oleh istri Diah, Herawati. Pada tanggal 1 Oktober 1955, Herawati Diah memimpin surat kabar baru dalam bahasa Inggris, Indonesian Observer yang pada mulanya diterbitkan dalam rangka penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika Pertama di Bandung. Penerbitan lainnya dalam kelompok ini ialah majalah berita Ekspres, yang terbit pada tahun 1969. Tidak lama kemudian, sebagian besar redaktur muda majalah ini, yang dipimpin Goenawan Mohamad dan Fikri Jufri, memisahkan diri dan mendirikan majalah berita baru bernama Tempo pada tahun 1971. Ketika terjadi lagi perpecahan, Ekspres meninggalkan Kelompok Merdeka dan berdiri sendiri di bawah pimpinan Marzuki Arifin, sedangkan Kelompok Merdeka mendirikan majalah berita Topik pada bulan Januari 1972.

Bersama Soemantoro dan Adam Malik, yang waktu itu menjabat menteri perdagangan, Diah memprakarsai pembentukan BPS setelah melakukan beberapa pertemuan dengan sejumlah pejabat pemerintahan dan militer. Diah sendiri masih menjabat duta besar, tetapi telah dipindahkan dari Inggris ke Thailand. Tetapi pada bulan Desember 1964, Presiden Sukarno memerintahkan pembubaran BPS, dan pada bulan Februari Maret 1965 melarang terbit semua surat kabar pendukungnya, termasuk Merdeka.

Harian ini baru dapat terbit kembali pada tanggal 1 Oktober 1966, dua bulan setelah Diah menjadi menteri penerangan dalam kabinet yang masih dipimpin Sukarno. Pengalaman Diah dengan BPS meyakinkannya bahwa Sukarno cenderung mempercayai PKI. Karena itu, Merdeka, dalam tajuk rencana tanggal 19 Januari 1967, menganjurkan agar Sukarno berhenti sebagai presiden. Kurang dari dua bulan kemudian, pada tanggal 12 Maret, Jenderal Soeharto dilantik sebagai penjabat presiden, sesuai dengan tuntutan masyarakat politik pada masa itu, seperti yang tercermin dalam tajuk rencana Merdeka.

Walaupun demikian, harian ini tidak melupakan jasa Sukarno. Ketika ia meninggal pada tanggal 21 Juni 1970, Merdeka memuat tulisan panjang Diah yang bersambung tujuh kali, berisi pujian bagi presiden pertama itu. Sejak sebelum harian ini lahir, Diah adalah pendukung Sukarno, yang dikenalnya lebih dekat sewaktu menghadiri sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta pada tanggal 29 Mei 1 Juni 1945.

Dalam masa Orde Baru, harian ini meneruskan garis independennya dehgan menyajikan pemberitaan dan ulasan kritis, yang beberapa di antaranya mendapat teguran dari pemerintah. Merdeka mengritik kebijakan-kebijakan ekonomi pemerintah yang menurutnya banyak dipengaruhi oleh keinginan-keinginan negara-negara Barat, terutama donor dan kreditor dalam kelompok Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI). Surat kabar ini merupakan pers Indonesia pertama yang menggunakan julukan “Berkeley Mafia” terhadap para menteri lulusan Universitas Kalifornia di Berkeley, Amerika Serikat. Merdeka, bersama enam harian ibu kota lainnya Kompas, Sinar Harapan, Pelita, The Indonesia Times, Sinar Pagi, dan Pos Sore (kini Harian Terbit) pernah dilarang terbit selama hampir dua minggu sejak 21 Januari 1978. Peristiwa ini merupakan ekor dari demonstrasi mahasiswa di sejumlah universitas yang mengecam keadaan ekonomi dan pembangunan. Turut pula terkena penutupan sedikitnya tujuh penerbitan mahasiswa di kampus-kampus di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Palembang.

Saat itu, jabatan pemimpin redaksi dipegang oleh Tribuana Said, menantu Diah, yang pernah memimpin harian Waspada di Medan selama beberapa bulan sebelum dilarang terbit karena terlibat dalam BPS. Ia pindah ke Merdeka pada tahun 1966, menjadi penanggung jawab redaksinya pada awal tahun 1970-an, dan menjadi pemimpin redaksi pada bulan Mei 1974. Tribuana Said berhenti pada tahun 1979, dan pimpinan harian ini sepenuhnya kembali ke tangan Diah.

Diah Mengundurkan Diri. Sepuluh tahun kemudian, terjadi lagi pergantian pucuk pimpinan redaksi ketika Diah pada awal bulan Januari 1989 mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi. Mulai saat itu ia digantikan oleh Ahmad Adirsyah, seorang wartawan senior Merdeka yang diangkat sebagai pemimpin redaksi yang baru. Tetapi Diah tetap mempertahankan jabatannya sebagai pemimpin umum, didampingi istrinya, Herawati Diah, sebagai pemimpin perusahaan.

Incoming search terms:

  • surat kabar merdeka terbit pada tanggal
  • ahmad adirsyah wartawan merdeka
  • Surat Kabar Merdeka
  • surat kabar merdeka terbit pad a

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • surat kabar merdeka terbit pada tanggal
  • ahmad adirsyah wartawan merdeka
  • Surat Kabar Merdeka
  • surat kabar merdeka terbit pad a