sample surveys (survai sampel)

Survai sampel modem berkembang semenjak gerakan survai sosial model Victoria yang saat itu bertujuan mengumpulkan fakta tentang kemiskinan penduduk. Survai sampel juga merupakan pengembangan dari teori statistik tentang probabilitas. yang pada awalnya dipakai untuk melaksanakan pooling pendahuluan (“straw pools”) sebelum pemilihan umum. Di abad 20, Bowley dkk menggunakan sampel untuk meneliti (seperti model Booth) keseluruhan populasi modelnya. Pada perkembangan selanjutnya (terutama di Amerika Serikat) survai tersebut diperluas sehingga tidak hanya mencakup fakta-fakta tapi juga sikap manusia. Survai tersebut akhirnya lebih terfokus pada individu ketimbang kombinasi eklektik dari unit-unit analisis. Survai pada masa kini mempelajari masyarakat (disebut juga ‘ responden”). Responden ditanyai tentang kehidupan mereka atau kehidupan masyarakat di sekitar mereka. Informasi tidak hanya didapatkan dari berbagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan seringkah disusun dalam struktur formal berupa kuesioner namun informasi tersebut juga bisa dikombinasikan dengan pengamatan pribadi peneliti di lapangan. Variabel hasilnya (informasi- informasi yang diklasifikasikan oleh responden) kemudian disusun dalam sebuah matriks yang dapat digunakan untuk analisis statistik. Beberapa penulis-kendati hanya sebagian kecil-juga menggunakan istilah sampel untuk berbagai penyusunan data dalam bentuk lain seperti himpunan statistik untuk organisasi, kelompok sosial, atau unit daerah. Dalam hal ini, sebuah survai merupakan sebuah analisis non-eksperimen (ex post facto), yang dapat dibedakan dengan sebuah desain eksperimen.

Survai sampel dimaksudkan untuk menyediakan informasi tentang populasi yang lebih besar. Ketepatan dari penerapan survai sampel sebuah populasi dapat dihitung dengan menggunakan tes matematis, selama memenuhi syarat tertentu. Syarat yang paling penting adalah sampling acak di mana setiap anggota dari sebuah sampel populasi mempunyai kesempatan yang setara untuk dipilih dalam sampel. Untuk populasi tertentu, para murid yang ada dalam suatu sekolah sebagai contoh sangat memungkinkan untuk menggunakan sampling acak, namun untuk anggota populasi yang lebih beragam sangat tidak mungkin menerapkannya. Dalam sebuah populasi nasional yang terus-menerus berubah tiap individu di dalamnya ada yang lahir, hidup, dan mati sebuah kerangka sampling (daftar anggota- anggota populasi yang dijadikan sampel) menjadi ketinggalan zaman sebelum sempat digunakan. Pada kenyataannya, sampling acak berdasarkan perhitungan kira-kira itulah yang akhirnya dipakai untuk survai. Untuk memungkinkan diterapkannya tes signifikansi, akhirnya dipakai prosedur khusus untuk memperkirakan faktor koreksi (“efek desain”)-nya.

Subyek manusia tidak hanya mempersulit sampling karena persoalan penuaan, perubahan karakteristik sosial, dan perpindahan tempat tinggal, tapi juga kadang-kadang tidak tersedia atau tidak mau memberikan respons pada survai. Kajian terhadap non repsons ini menjadi perhatian banyak ahli metodologi survai, dan dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan teknis dan etis. Secara teknis, hanya terjadi sedikit kerepotan penyusutan basis kasus sampel sepanjang menyangkut non respons pada acak. Namun, banyak bukti menunjukkan bahwa non respons terhadap survai mengikuti garis yang bisa diprediksi. Sekalipun non respons berasal dari suatu faktor kesediaan biasa, seperti kesulitan menghubungi para pekerja giliran malam di rumahnya selama jam-jam yang biasanya luang, hasil kuesioner yang tidak lengkap atau jadwal wawancara menyebabkan suatu bentuk sampling yang keliru tidak diakomodasi dalam tes signifikansi standar. Banyak literatur mengenai bagaimana memaksimalisasi respons survai, khususnya tentang kuesioner yang diposkan. Survai melalui pos bisa mengatasi problem kesediaan, di mana responden bisa membaca surat pos mereka pada saat yang mereka kehendaki. Nyatanya, elastisitas respons akibat pengkondisian ini memang terbukti. Respons terhadap kuesioner yang diposkan, kadang-kadang hasilnya mencengangkan ketika pengeposan lanjutan dilakukan, atau penghargaan atau insentif uang dilibatkan dalam kuesioner, atau bahkan setelah tes-tes dilakukan untuk menarik berbagai saran perbaikan yang disertakan dalam surat bersama kuesioner.

Maksimalisasi upaya mendapatkan respon kadang-kadang menyentuh persoalan etika. Apabila masyarakat mengacuhkan telepon si penanya atau permintaan lewat surat berdasarkan pertimbangan tertentu, haruskah kita menghormati keinginan mereka ? Ini tergantung motivasi mereka. Banyak peneliti mengganggap penolakan secara prinsip jarang ditemui, jadi dari sudut pandang mereka, pekerja survai lapangan sah-sah saja menggunakan taktik persuasif, tak beda dengan taktik seorang penjual mobil atau asuransi jiwa. Namun, kepekaan terhadap hak penduduk atas hal-hal yang bersifat pribadi dan rahasia makin meningkat, dan hak-hak tersebut kini makin ditekankan oleh badan-badan keuangan yang banyak mendanai penelitian survai.

Lepas dari adanya problem-problem seperti ini, survai sampling berkembang menjadi metode yang dominan dalam penelitian sosiologi (khususnya di Amerika Serikat), dan juga dalam beberapa ilmu sosial lainnya. Tidak semua ahli metodologi menyambut perkembangan ini, dan terdapat kelompok besar yang lebih menyukai alternatif lain seperti observasi partisipan. Survai berguna terutama dalam pengumpulan informasi komprehensif tentang fenomena sosial yang terjadi alamiah. Hasil data yang diperoleh tidak saja dapat digunakan sebagai deskripsi terperinci, namun juga dapat digunakan untuk analisis multivariat, di mana teknik statistik digunakan untuk mengukur pengaruh berbagai faktor variabel dependen (akan dijelaskan kemudian). Untuk setiap penggunaan tersebut, daya tarik metode survai terletak pada kemampuannya menggeneralisasi sebuah sampel menjadi sebuah popu¬lasi. Kesulitan praktisnya adalah desain survai harus dibentuk lebih dahulu, dan dapat diubah di pertengahan penelitian tapi menyebabkan kesulitan dan biaya yang besar. Konsekuensinya, survai lebih diarahkan untuk tujuan-tujuan konfirmasi daripada eksplorasi. Logika survai sampling idealnya sesuai dengan topik-topik penelitian yang memungkinkan untuk mengasumsikan bahwa setiap respon anggota sampel setara dengan aspek penting sosial dan keperluan analitis.

Salah satu alasan mengapa survai tetap menarik bagi para ilmuwan sosial adalah bahwa survai tersebut memenuhi beberapa syarat penting prosedur ilmiah. Prosedur yang digunakan sebuah survai sampel dapat dikodifikasi, dicermati, dan diulang dengan tingkat akurasi yang tidak dimiliki metode tak formal. Aturan dalam menarik kesimpulan tentang keterkaitan antar berbagai variabel yang dipertimbangkan dalam survai dapat dispesifikasi lebih dahulu (contohnya, saat memilih suatu tingkat signifikansi dari tes hipotesis yang hendak dijadikan patokan). Para ilmuwan sosial yang memandang harafiah (bahkan mungkin terlalu harafiah, menurut sebagian pengamat) pada kata ilmuwan’-nya cenderung memilih survai sampel.