Advertisement

Putra sulung Prabu Drestarastra, tokoh pewayangan, sebenarnya hanya berkedudukan putra mahkota. Tetapi ia selalu dapat mendesakkan kemauannya pada ayahnya sehingga praktis yang mengemudikan pemerintahan di Astina bukan ayahnya yang buta, melainkan Suyudana. Suyudana disebut juga Duryudana, atau Kurupati. Ibunya bernama Dewi Gendari. Ia bersaudara seratus orang yang disebut Kurawa.

Walaupun Duryudana bersifat serakah, mau me-nang sendiri dan tega terhadap saudaranya sendiri, yakni para Pandawa, dalam kehidupan rumah tang-ganya ia selalu mengalah pada satu-satunya istri, yaitu Dewi Banowati. Permaisurinya itu adalah putri ketiga Prabu Salyapati, raja Mandraka. Dari Dewi Banowati, Suyudana mendapat dua orang anak. Yang sulung, seorang putra yang memiliki tanda-tanda cacat mental, diberi nama Lesmana Mandrakumara, dan yang bungsu, seorang putri, diberi nama Les- manawati.

Advertisement

Perkawinannya dengan Dewi Banowati bukan perkawinan yang bahagia, karena Banowati secara te-rang-terangan memperlihatkan sikap bahwa ia men-cintai Arjuna. Sikap Banowati ini membuat kesal kerabat Kurawa lainnya, tetapi Suyudana tak dapat berbuat banyak karena sebenarnya ia pun mengharapkan bantuan Prabu Salya, kelak bilamana Baratayuda pecah.

Seperti para Kurawa dan Pandawa, Suyudana berguru pada Begawan Durna dan Resi Krepa. Selain itu, dalam ilmu bermain gada ia pun berguru pada Prabu Baladewa. Dibandingkan dengan adik-adiknya, Duryudana paling sakti di antara keluarga Kurawa. Hampir seluruh tubuhnya kebal karena ia pernah mandi dengan minyak Tala, sejenis minyak yang membuat kebal. Tetapi ada bagian tubuhnya yang tak tersentuh minyak Tala, yaitu betis kirinya.

Suyudanalah yang secara spontan mengangkat Kama sebagai adipati di Awangga, sehingga Karna merasa berutang budi pada Kurawa. Peristiwa ini terjadi ketika Arjuna dengan congkak menolak bertanding melawan Karna, hanya karena Karna anak kusir Adirata, yang dianggap tidak sederajat dengan dirinya. Setelah Karna diangkat menjadi adipati, terpaksa Arjuna melayaninya dalam pertandingan. Suyudana tewas di tangan Bima pada hari kedelapan belas, hari terakhir Baratayuda. Mereka sama-sama ahli bermain gada, sama-sama murid Prabu Baladewa.

Kalahnya Suyudana melawan Bima antara lain juga disebabkan karena Raja Muda Astina itu pernah meremehkan nasihat Resi Maitreya dengan cara menepuk-nepuk betis kirinya, seolah memperlihatkan bahwa ia tiik peduli dengan nasihat itu. Melihat perbuatan Suyudana itu, Sang Resi mengutuk, kelak pada Perang Baratayuda betis kiri Suyudana akan remuk dihantam gada Bima.

Incoming search terms:

  • arti nama suyudana
  • suyudana

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar,

Incoming search terms:

  • arti nama suyudana
  • suyudana