Advertisement

Nama dinasti yang berkuasa di bagian tengah Pulau Jawa pada jaman Kerajaan Mataram kuno. Beberapa prasasti yang ditemukan di Jawa Tengah dan berangka tahun 778 hingga kira-kira abad ke-9, menunjukkan bahwa raja-raja Syailendra menganut agama’Budha, terutama aliran Mahayana, pada masa akhir perkembangannya. Hal ini terbukti dengan adanya bangunan-bangunan kuno, seperti candi Borobudur, Mendut, Sewu, dan lainnya, yang berhubungan dengan raja-raja Syailendra yang beragama Budha. Di samping bangunan yang berkaitan dengan agama Budha, juga dijumpai bangunan-bangunan agama Siwa, antara lain Candi Lara Jonggrang, Gedong Sanga, candi Dieng, dan sejumlah prasasti agama Siwa.

Adanya bangunan-bangunan dan prasasti yang bersifat Budha dan Siwa ini menyebabkan beberapa arkeolog menduga bahwa ada dua dinasti yang memerintah di bagian tengah Pulau Jawa dari abad ke-8 hingga kira-kira abad ke-10. Pendapat ini didukung oleh prasasti Ligor (sisi B) yang dikemukakan oleh Coedes, yang menyebut-nyebut dua orang raja, yakni Visnu yang diibaratkan matahari, bulan, dan dewa Kama, dan Sri Maharaja dari keturunan Syailendra yang ditunjukkan dengan sebutan “pembunuh musuh- musuh yang perkasa”. Adanya perbedaan nama raja- raja beragama Siwa di dalam prasasti Mantyasih yang berangka tahun 907 dengan nama raja-raja dalam prasasti yang bersifat Budha makin memperkuat pendapat yang menyatakan bahwa ada dua dinasti pada saat itu. Dinasti yang beragama Siwa diduga penduduk asli, sedangkan Dinasti Syailendra yang beragama Budha merupakan perebut kekuasaan dari suatu daerah.

Advertisement

Bila ada dua dinasti yang memerintah saat itu, dari mana asal Syailendra? Sejumlah arkeolog memperdebatkan tempat asal Syailendra. Dua sarjana India, Majumdardan Nilakanta Sastri, mengemukakan bahwa Syailendra berasal dari India. Moens secara lebih jelas mengemukakan bahwa Syailendra mengungsi dari India untuk menetap di Palembang pada permulaan abad ke-6. Pada tahun 683, Sriwijaya mengusirnya, dan ia pergi ke tanah Jawa. Sementara itu, pendapat yang banyak dianut hingga sekarang berasal dari Coedes, yang menyatakan bahwa Syailendra berasal dari Funan, yakni dari perkawinan antara seorang raja bernama Visnu dan salah seorang keturunan keluarga tua dari Funan.

Sekalipun demikian, Poerbatjaraka tetap mempertahankan pendapatnya bahwa hanya ada satu dinasti yang memerintah di Jawa Tengah pada saat itu. Menurut dia, pada mulanya Syailendra beragama Siwa, kemudian karena suatu sebab, Sanjaya, seorang raja yang beragama Siwa, memerintahkan anaknya Rakai Panangkaran untuk meninggalkan kepercayaan nenek moyangnya dan menjadi seorang yang beragama Budha. Keluarga lain dari dinasti ini tetap menganut agama Siwa. Pendapat Poerbatjaraka ini makin diperkuat oleh penemuan prasasti di daerah Sragen, di sebelah timur Surakarta. Prasasti ini menggunakan bahasa Sanskerta. Angka tahunnya tidak dapat ditemukan. Namun dari sudut paleografi dapat diperkirakan bahwa prasasti ini berasal dari sekitar pertengahan abad ke-8, cocok dengan masa pemerintahan Raja Rakai Panangkaran. Isi prasasti ini adalah tentang seorang raja bernama Sangkhara, yang setelah kematian ayahnya karena sakit demam selama dela-pan hari, kemudian berganti agama menjadi penganut agama Budha. M. Buchari, berdasarkan prasasti Sojo- merto, mengemukakan bahwa Syailendra adalah penduduk asli Indonesia.

Incoming search terms:

  • arti nama syailendra
  • arti syailendra
  • arti nama syailendra dalam islam
  • arti kata syailendra
  • syailendra artinya
  • Arti nama sailendra
  • arti nama syailendra menurut islam
  • arti sailendra
  • arti saylendra
  • pengertian dinasti syailendra

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti nama syailendra
  • arti syailendra
  • arti nama syailendra dalam islam
  • arti kata syailendra
  • syailendra artinya
  • Arti nama sailendra
  • arti nama syailendra menurut islam
  • arti sailendra
  • arti saylendra
  • pengertian dinasti syailendra