Advertisement

Cerita berbentuk syair yang dikarang Lie Kim Hok pada tahun 1884. Pada tahun 1922 buku ini telah mengalami cetak ulang yang ketiga, suatu bukti bahwa karya ini cukup digemari. Cerita yang pada tahun 1930-an pernah dibuat film ini menurut C. Hooykaas sebenarnya merupakan saduran dari Syair Abdul Muluk dalam kesusastraan Melayu Klasik.

Ceritanya dimulai dari negeri Barbari dengan rajanya Sultan Abdul Aidid. Sultan ini memenjarakan seorang pedagang Hindustan yang dituduh berbuat curang dalam pengaduannya. Pedagang yang kemudian meninggal di dalam penjara ini ternyata adalah paman Sultan Hindustan. Dendamlah Sultan Hindustan kepada raja Kerajaan Barbari. Tetapi karena Raja Barbari amat kuat, saat pembalasan ditangguhkan oleh Sultan Hindustan.

Advertisement

Syahdan Abdul Aidid wafat dan negerinya diperintah oleh anaknya, Sultan Abdul Mukari. Abdul Muka- ri yang telah beristri, pada suatu hari bertemu dengan putri negeri Ban, Siti Akbari atau Bukit Permata. Putri ini diambilnya sebagai istrinya yang kedua.

Sultan Hindustan yang mengetahui bahwa Sultan Abdul Aidid telah wafat segera menyerbu Barbari dan berhasil menahan Abdul Mukari beserta istri pertamanya. Ketika Sultan Hindustan bermaksud memperistri istri Sultan Abdul Mukari, istri pertama ini setuju asal ia diperistri bersama Siti Akbari. Ketika Siti Akbari dicari, ia kedapatan telah menjadi mayat di kamarnya.

Sebenarnya Siti Akbari belum mati. Ia mengembara dan menyamar sebagai lelaki. Dalam pengembaraannya ia berhasil menolong seorang raja yang dirongrong pemberontakan pamannya sendiri. Dengan pertolongan raja inilah Siti Akbari memerangi Sultan Hindustan dan membebaskan Sultan Abdul Mukari dan istri pertamanya. Meskipun telah dibebas-kan, Sultan Abdul Mukari tetap bersedih karena istri keduanya, Siti Akbari, sudah mati. Maka diaturlah suatu pertemuan untuk menyadarkan Sultan Abdul Mukari dan istri pertamanya bahwa pembebasnya, Bahara, tak lain adalah Siti Akbari.

Advertisement