Advertisement

Adalah puisi Melayu lama. Istilah syair berasal dari kata Arab syi’ir, yang berarti “perasaan yang menyadari”. Meskipun demikian bentuknya bukan bentuk puisi Arab. Setiap bait syair terdiri atas empat baris, dan tiap barisnya terdiri atas 8 sampai 12 suku kata. Setiap bait memberi arti sebagai suatu kesatuan. Bunyi kata di ujung baris biasanya sama untuk keempat-empatnya (a a a a). Namun ada pula yang menye-rupai pantun pada bunyi suku kata akhirnya, a b a b, meskipun keempat barisnya tetap merupakan satu kesatuan arti. Ada pula yang rima ujungnya a a a b.

Selain itu terdapat pula bentuk syair yang kurang luas penggunaannya, yakni yang terdiri atas tiga baris dengan rima akhir# a b. Juga syair yang hanya terdiri atas dua baris dengan rima akhir a /?, ini bertautan dengan bait sebelumnya yang juga mempunyai rima akhir a b.

Advertisement

Isi syair umumnya sebuah cerita, namun ada pula yang memuat buah pikiran, filsafat, puji-pujian, dsb .

  1. Syair keagamaan, seperti Syair Nur Muhammad, Syair Nabi Ayub.
  2. Syair kiasan, seperti Syair Burung Pungguk, Syair Ikan Terubuk.
  3. Syair Panji, seperti Syair Panji Semirang, Syair Ken Tambuhan.
  4. Syair sejarah, seperti Syair Perang Makasar, Syair Emop, Syair Perang Aceh.
  5. Syair romantik atau percintaan, seperti Syair Cinta Berahi, Syair Bidasari.
  6. Syair saduran, seperti Syair Damarwulan, Syair Tajul Muluk, Syair Wayang.

Bentuk syair paling tua ditemukan di Minye Tujoh, Aceh. Syair ini dipahat di atas batu nisan bertarikh 781 Hijriah (1380 Masehi). Syair tersebut masih memakai bahasa campuran antara bahasa Melayu Kuno, Sanskerta, dan Arab. Bunyi syairnya adalah:

hijrat nabi mungstapa yang prasida

tujuh ratus asta puluh sawarsa

haji catur dan dasa warta sukra

raja iman warda rahmat-allah

gutra barubasa mpu hak kadah pase ma

taruk tasih tanah samuha

ilahi ya rabbi tuhan samuha

taruh dalam swarga tuhan

(setelah hijrah Nabi, kekasih,

yang telah wafat tujuh ratus delapan puluh

satu tahun,

bulan Dzulhijah 14 hari, Jumat,

Ratu iman Werda (rahmat Allah bagi Baginda)

dari suku Barubasa (Gujarat), mempunyai hak

atas Kedah dan Pasai

menaruk di laut dan darat semesta,

ya Allah, ya Tuhan semesta,

taruhlah Baginda dalam surga Tuhan).

Syair tertulis yang tergolong tua adalah karya-karya Hamzah Fansuri dalam abad ke-17, seperti Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Karya-karya sastra berbentuk syair yang terakhir dapat dilihat dalam penerbitan Balai Pustaka sekitar tahun 1920-an dan 1930-an. Syair- syair tersebut dikritik karena hanya mementingkan bentuk sehingga terdapat penggunaan kata-kata yang kurang perlu hanya karena menyamakan jumlah suku kata dan rima akhir.

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, kesalahan bukan pada bentuk syairnya tetapi pada penyairnya yang kurang kreatif dalam menggunakan bentuk itu untuk isi yang benar-benar mengandung “getar jiwa” dan “pengetahuan yang luas”. Boieh dikatakan bentuk syair ini sudah jarang ditulis oleh sastrawan modern Indonesia.

Incoming search terms:

  • syair saduran
  • syair saduran merupakan syair yang
  • contoh syair saduran

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • syair saduran
  • syair saduran merupakan syair yang
  • contoh syair saduran