Advertisement

Dalam mitologi Hindu, ialah batu mulia milik Satrajit pemberian Surya. Dikisahkan batu mulia ini dapat mendatangkan delapan lempeng emas murni dan mengenyahkan segala macam firasat buruk, binatang buas, kobaran api, penjahat, dan kelaparan. Betapa pun besar kebajikan syamantaka di tangan orang baik, batu itu akan sangat berbahaya bila dikuasai orang yang tidak patut.

Dikisahkan pula kekhawatiran Satrajit memegang batu mulia tersebut sehingga ia menyerahkannya kepada Krishna yang kemudian memberikannya kepada Prasena, saudaranya. Tetapi karena Prasena berwatak buruk ia dibunuh oleh seekor singa. Jambavat, raja segala beruang, membunuh singa itu dan membawa lari syamantaka. Setelah bertempur melawan Jambavat dan merebut syamantaka, Krishna menyerahkannya kembali kepada Satrajit. Namun Satadhanwan yang berhasil membunuh Satrajit ketika sedang tidur nyenyak, membawa lari syamantaka. Karena diburu oleh Krishna dan Balarama, Satadhanwan menyerahkan batu mulia itu kepada Akrura. Dalam pengejaran iiu Akrura dibunuh Krishna namun batu mulia itu tidak diambil oleh Krishna. Balarama curiga danjrie- ngutuk Krishna. Saat Akrura hidup kembali, ia menyerahkan batu mulia yang dipegangnya dan diperebutkan oleh Krishna, Balarama, dan Satyabhama. Setelah ketiganya berdebat sengit, akhirnya diputuskan bahwa batu mulia tersebut tetap dipegang Akrura. Demikianlah Akrura lenyap di udara, ia terbang bagaikan matahari berkalung kembang api di lehernya.

Advertisement

 

Advertisement