Advertisement

taboo (tabu)

Kata tabu berasal dari bahasa Polinesia yang berarti ‘terlarang’. Secara lebih spesifik, apa yang dianggap terlarang adalah persentuhan antara hal-hal duniawi dan hal-hal keramat, termasuk yang suci (misalnya ketua suku) dan yang cemar (misalnya mayat). Pemikiran Antropologis modern tentang tabu berasal dari Durkheim (1976 [1912]), di mana pemisahan (disjungsi) antara yang cemar dan yang suci adalah batu penjuru agama  yang suci dibagi lagi menjadi suci yang ‘bertuah’ dan suci yang ‘tidak bertuah’. Tabu memisahkan apa yang seharusnya tidak boleh bersatu menjaga batas antara yang keramat dan cemar, antara yang ‘baik’ dan yang ‘buruk’ sementara ritual pada umumnya dimaksudkan untuk menciptakan solidaritas kelompok. Dalam mengembangkan proposisi tentang solidaritas kelompok tersebut,Radcliffe-Brown (1952) menyatakan bahwa tabu menonjolkan dan memperkuat nilai-nilai yang penting dalam pemeliharaan masyarakat.

Advertisement

Pemikiran ini diperdalam oleh Douglas (1966; 1975). Kotoran, menurut Lord Chesterfield, adalah persoalan di luar dimensi ruang (matter out of place), yang mencerminkan ketidakteraturan dan kebingungan terhadap nilai-nilai yang dianut. Bahkan dalam satu pemikiran, tabu memagari nilai-nilai dengan menggarisbawahi dan membakukan batas-batasnya. Margin dan perbatasannya dengan demikian cenderung dihuni oleh berbagai jenis keganjilan, di mana mereka harus diciptakan jika memang tidak ada. Dewa Hindu berkepala gajah, Ganesa, dalam mitos seringkah tampak sebagai penipu. Dialah yang bertugas menjaga batas antara ruang dan tempat yang suci dan yang cemar, karena biasanya ia berdiri di pintu masuk candi, serta disembah pada awal dan akhir ritual.

Anomali biasanya dihadapi dengan berbagai cara: yang pertama ditindas dan dibasmi. Dalam banyak kebudayaan, anak kembar seringkah dibunuh karena mereka mengaburkan batas-batas antara manusia (yang dicirikan dengan kelahiran tunggal) dan binatang (yang berciri kelahiran ganda). Sebagai hasil dari proses kelahiran yang sama, anak kembar secara mistik dianggap satu meskipun terlahir dua orang; dalam masyarakat yang menekankan pentingnya urutan kelahiran, hal ini akan sangat membingungkan karena anak kembar dianggap dua makhluk yang menempati satu peran struktural yang sama dalam sistem kekerabatan (Turner 1969). Kemungkinan yang kedua anomali dianggap sebagai sesuatu yang jahat dan cemar dalam karya Leviticus disebut sebagai “hal-hal yang sangat dibenci (abominationsJ’. Sebagai contoh, hewan darat dibedakan menjadi binatang yang bercakar dan berkuku. Hewan berkuku (belah) adalah pemamah biak dan dianggap sebagai satu-satunya daging yang halal. Binatang seperti babi (yang berkuku belah tetapi tidak memamah makanannya), unta, kelinci dan hyrax (yang memamah makanannya tetapi tidak berkuku belah) diharamkan dan ditabukan. Yang ketiga, anomali diterima sebagai mediator antara yang suci dan yang cemar, atau antara alam dan budaya. Dengan demikian dalam sistem taksonomi Congolese Lele, pangolin adalah makhluk yang sangat membingungkan. Makhluk ini berjenis arboreal dengan tubuh bersisik dan memiliki ekor seperti ikan, serta memiliki sejumlah ciri antropomorfis seperti ‘kesederhanaan’ kelamin dan reproduksi yang hanya satu keturunan. Ini berlaku juga bagi manusia sebagaimana penghasil anak kembar terhadap binatang. Keduanya menjadi penengah antara alam dan budaya serta menjadi fokus bagi kelompok-kelompok yang menjaga perburuan dan kesuburan.

Incoming search terms:

  • arti tabu
  • pengertian tabu
  • arti kata tabu
  • apa itu tabu
  • tabu adalah
  • arti taboo
  • Taboo adalah
  • tabu artinya
  • pengertian taboo
  • apa itu taboo

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti tabu
  • pengertian tabu
  • arti kata tabu
  • apa itu tabu
  • tabu adalah
  • arti taboo
  • Taboo adalah
  • tabu artinya
  • pengertian taboo
  • apa itu taboo