Advertisement

Suatu jenis ikan air tawar yang berkerabat dekat dengan ikan gurami. Seperti gurami, tambakan termasuk bangsa Labyrinthici, yaitu kelompok ikan yang mempunyai alat pernapasan tambahan, sehingga dapat tetap hidup pada perairan yang kualitas airnya kurang baik. Hal ini dimungkinkan karena ikan-ikan anggota kelompok ini dapat mengambil oksigen langsung dari udara.

Tambakan mempunyai bentuk tubuh gepeng. Punggungnya berduri banyak, sehingga ular pemakan ikan enggan mengusiknya. Panjang tubuhnya dapat mencapai 30 sentimeter. Punggungnya berwarna kehijauan atau keabu-abuan, dan semakin ke arah perut warnanya menjadi lebih terang. Beberapa strip atau garis yang berwarna gelap memanjang sepanjang sisik-sisiknya. Di Indonesia tambakan dapat dijumpai di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan. Selain itu, ikan ini dapat juga ditemukan di Thailand dan Semenanjung Malaya. Ada beberapa nama lain yang diberikan un-tuk ikan ini, antara lain tabakang, sapil, dan biawan, serta tambakan gibas (untuk tambakan bertubuh besar yang bobotnya dapat mencapai 0,5 – 1 kilogram) dan tambakan kanyere (untuk tambakan berwarna kekuningan yang tubuhnya tidak dapat besar, dengan bobot maksimal 200 gram).

Advertisement

Perilaku perkawinan tambakan sangat menarik. Ikan jantannya membuat sarang busa yang mengapung dekat permukaan air. Ikan betinanya bertelur dan telurnya segera dibuahi ikan jantan. Jumlah telurnya dapat mencapai 1.000 butir, kadang-kadang lebih. Telur ini akan mengapung dan kira-kira 48 jam kemudian menetas. Larva ikan yang baru menetas ini masih tetap mengapung sampai kantung kuning telurnya habis; lalu ikan mudanya bebas berenang- renang.

Tambakan, terutama yang muda dan belum matang kelamin, sering menghiasi akuarium penggemar ikan hias, karena mempunyai perilaku yang sangat menarik. Dua ekor tambakan muda biasanya berhadapan dengan bibirnya yang tebal dan dapat dijulurkan saling menempel, seolah-olah melekat satu sama lain. Perilakunya ini menyebabkan tambakan mendapat nama lain, yaitu green kisser untuk tambakan hijau dan kissing gourami untuk yang kekuningan. Anehnya, perilaku ini akan semakin berkurang sejalan dengan bertambahnya usia. Di dalam akuarium, tambakan memerlukan ruang luas. Sekalipun demikian, pertumbuhannya sangat lambat dibandingkan jika dipelihara dalam kolam.

Di kolam pemeliharaan, tambakan dapat dipijah- kan setiap saat sepanjang tahun. Kolam pemijahannya dilengkapi potongan jerami atau daun pisang untuk melindungi telur-telurnya dari sengatan sinar matahari atau titik-titik hujan.

Tambakan termasuk ikan pemakan fitoplankton. Ikan ini baru beralih ke pakan lain, seperti epifiton dan perifiton, apabila makanan utamanya sudah tidak ada.

Pembudidayaan tambakan dapat berhasil baik pada daerah berketinggian 150 – 750 meter di atas permukaan laut, dengan suhu air optimum 25 – 30° C. Ikan ini dapat dipelihara bersama-sama dengan jenis ikan lain (polikultur), seperti ikan mas, tawes, atau pun nilem, karena pakan maupun penempatan ruangnya berbeda. Tambakan merupakan penghuni daerah permukaan dan pertengahan perairan dan pakannya fitoplankton; ikan mas menempati daerah dasar perairan dan pakannya detritus; sedangkan tawes dan nilem menghuni daerah pertengahan perairan dan mencari makan di antara tanaman air.

Incoming search terms:

  • ikan tabakang

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • ikan tabakang