Advertisement

Atau gramatika, adalah cabang ilmu pengetahuan yang menel iti unsur-unsur pembentuk ujaran seperti bunyi, morfem, kata, kalimat, dan lain-lain. Dalam bahasa Indonesia, tata bahasa yang mempunyai sinonim jalan bahasa, kaidah bahasa, dan paramasastra mempunyai beberapa pengertian lain, yakni: sistem aturan yang menunjukkan hubungan antara bunyi dan makna; buku yang memuat kaidah- kaidah pemakaian suatu bahasa. Umumnya buku seperti ini merupakan buku pelajaran bahasa asing.

Pemberian tata bahasa di berbagai bahasa umum-nya menggunakah beberapa pendekatan, yakni pendekatan normatif, deskriptif, dan historis. Tata bahasa yang menggunakan pendekatan normatif memberikan sejumlah aturan agar pemakai bahasa dapat berbicara dalam bahasa yang dipelajarinya dengan baik dan benar. Tata bahasa dengan pendekatan ini disebut tata bahasa preskriptif karena memberikan pedoman standar yang ketat bagi pemakainya. Biasanya tata bahasa ini digunakan dalam pengajaran bahasa yang diberikan guru kepada murid. Di sini guru memberikan sejumlah norma yang harus ditaati serta menyalahkan konstruksi yang tidak sesuai dengan norma yang diberikannya.

Advertisement

Dengan memakai pendekatan deskriptif\ suatu ba-hasa disajikan sebagaimana adanya, tidak secara menghakimi menyatakan susunan mana yang betul dan mana yang salah. Semua susunan yang dipakai oleh masyarakat bahasa itulah yang diamati oleh tata bahasa jenis ini. Dari tata bahasa ini dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang pemakaian bahasa oleh suatu masyarakat bahasa.

Dalam pendekatan historis, tata bahasa mempela-jari asal-usul atau bentuk kuno suatu bunyi, kata, dan sebagainya sehingga dapat menerangkan bilamana dan mengapa terjadi perubahan tersebut. Orang yang mempelajari tata bahasa ini harus mengikuti perkembangan tata bahasa dari jaman ke jaman.

Sejak jaman kuno bahasa sudah menjadi objek penelitian para ahli. Beberapa orang yang sudah memberikan sumbangan penting di bidang tata bahasa antara lain adalah Plato (429-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), dua filsuf Yunani, dan yang diteliti adalah bahasa Yunani. Penelitian ini terus berkembang, tidak terbatas pada bahasa Yunani saja tetapi juga mencakup bahasa-bahasa lain di dunia.

Kategori Tata Bahasa. Tata bahasa dapat dibedakan atas dua kategori, yakni tata bahasa tradisional dan tata bahasa modern.

Tata bahasa tradisional merupakan kelanjutan tata bahasa Yunani-Latin yang bersifat preskriptif. Pengkajian bahasa merupakan bagian dari pengajaran bahasa, oleh karena itu tata bahasa ini selalu memberikan rumus atau kaidah untuk membuat kalimat yang benar. Tata bahasa ini tidak membenarkan kalimat yang berlainan dengan rumus yang diberikan.

Dalam meneliti bahasa, semua bahasa di dunia dianggap mempunyai struktur yang sama dengan bahasa Yunani dan bahasa Latin sehingga terasa adanya pemaksaan penelitian dengan menggunakan kerangka bahasa Yunani-Latin terhadap bahasa-bahasa lain. Padahal, dalam kenyataannya, bahasa-bahasa di dunia bervariasi dan jauh berbeda dengan kedua bahasa ini, sehingga harus diteliti sesuai dengan kerangka bahasanya masing-masing. Objek penelitiannya hanyalah bahasa tulisan, sedangkan bahasa lisan tidak diperhatikan karena bahasa tulis dianggap mempunyai “kedudukan lebih tinggi” daripada bahasa lisan. Dengan demikian, bidang fonologi (bunyi bahasa) belum diteliti. Pokok penelitiannya adalah kelas kata, dan apa yang disebut tata bahasa atau gramatika tidak lain daripada kelas kata. Dalam karya Plato dan Aris-toteles belum tertulis dengan jelas apa yang dimaksud dengan kelas kata, tetapi para ahli sejarah linguistik sepakat bahwa dasar-dasar konsepsi kelas kata diletakkan oleh kedua orang ini. Baru kemudian pada abad ke-I Dyonisius Thrax, ahli gramatika Yunani, menyatakan adanya enam kelas kata, yakni: nomina, adjektiva, verba, adverbia, preposisi, dan konjungsi. Selanjutnya kelas kata kedua tokoh ini menjadi sumber semua penggarapan kelas kata di kemudian hari. Tata bahasa tradisional ini memasukkan unsur logika dalam menyelidiki tata bahasa.

Tata bahasa modern dimulai pada abad ke-19. Penelitiannya terutama ditujukan terhadap bahasa-bahasa di Eropa. Lingkup yang diteliti adalah perkembangan bahasa dari satu masa ke masa lain serta perbandingan satu bahasa dengan bahasa lain. Pada abad ke-20 penelitian meluas ke bahasa-bahasa di Amerika, Afrika, dan Asia. Sekarang tata bahasa sudah dianggap sebagai bagian dari ilmu bahasa (linguistik) dan teorinya sangat berkembang. Sarjana yang diakui sebagai pelopor linguistik modern adalah Ferdinand de Saussure (1857-1913), ahli bahasa Swis. Bidang yang diteliti dalam tata bahasa modern adalah morfologi dan sintaksis. Ada pula ahli bahasa yang memasukkan fonologi ke dalam tata bahasa. Berbeda dengan tata bahasa tradisional, yang menjadi objek penelitian dalam tata bahasa modern adalah bahasa lisan dan bahasa tulis.

Morfologi yang disebut juga tata kata atau tata bentuk merupakan penelaahan mengenai struktur kata. Morfologi merupakan bagian dari tata bahasa atau gramatika. Satuan gramatika terkecil yang bermakna disebut morfem. Berdasarkan maknanya, morfem terdiri atas morfem yang mempunyai makna leksikal seperti meja, duduk, indah dsb.; dan morfem yang mempunyai makna gramatikal seperti di-, ier~, tetapi, yang, dsb. Makna gramatikal ialah makna yang terjadi karena hubungan antara unsur-unsur bahasa dalam satuan lebih besar dan tidak mempunyai makna leksikal. Bila morfem di- digabung dengan morfem makan menjadi kata dimakan, timbul makna pasif akibat hubungan kedua morfem tersebut. Kategori makna gramatikal adalah jumlah, jenis, milik, kala, aspek, diatesis, persona, dan modus.

Morfem dapat juga digolongkan berdasarkan ke-mungkinannya untuk berdiri sebagai kata. Morfem meja, duduk, indah yang mempunyai kemungkinan berdiri sendiri sebagai kata disebut morfem bebas. Sebaliknya morfem di-, ter-, tetapi, dan yang yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata dan harus selalu bergabung dengan morfem lain disebut morfem terikat. Ada morfem bebas yang mampu menjadi kata tanpa melalui proses morfologis. Contohnya, morfem jual menjadi kata jual tanpa melalui proses morfologis berupa prefiksasi dengan menambahkan prefiks me (n). Proses morfologis yang dapat mengubah morfem menjadi kata, antara lain, adalah afiksasi yang berupa prefiksasi (penambahan awalan), infiksasi (penambahan sisipan), sufiksasi (penambahan akhiran); reduplikasi bersisipan seperti tali-temali, redupli- kasi variasi fonem seperti sayur-mayur, dsb.

Berdasarkan jumlah morfem pembentuknya, kata dapat dibedakan atas dua jenis. Kata monomorfemis, kata yang terdiri atas satu morfem seperti jual; kata polimorfemis, kata yang terdiri lebih dari satu morfem, seperti menjual terdiri-atas morfem jual dan morfem me (n).

Sintaksis atau tata kalimat, yakni studi mengenai kalimat, bersama-sama morfologi merupakan bagian dari tata bahasa atau gramatika. Dalam gramatika terdapat satuan-satuan yang tersusun dari ‘ ngkat yang rendah sampai ke tingkat yang tinggi. Satuan bertingkat lebih rendah menjadi bagian pembentuk dari konstruksi yang bertingkat lebih tinggi. Dalam tata bahasa atau gramatika dikenal tingkat morfem tingkat kata, tingkat frase, tingkat klausa, tingkat kalimat, tingkat paragraf, dan tingkat wacana. Morfem adalah tingkat paling rendah yang merupakan konstituen dari kata; kata merupakan konstituen dari konstruksi yang lebih tinggi lagi, yakni frase, demikian seterusnya sampai ke tingkat wacana. Studi mengenai sintaksis berusaha menerangkan pola-pola yang mendasari satuan-satuan sintaksis serta bagian-bagian yang membentuk satuan-satuan tersebut.

Kata. Kata sebagai satuan gramatika mempunyai ciri dapat dipindah-pindah letaknya di dalam ujaran tanpa berubah identitasnya, la duduk merupakan dua kata yang bila ditukarkan letaknya menjadi duduk ia tidak berubah identitasnya. Di samping itu, kata mempunyai ciri tidak dapat disisipi apa pun, misalnya kata duduk tidak dapat diberi sisipan apa pun. Tetapi ada beberapa kata yang merupakan kekecualian seperti kata gigi, getar, kilau, walaupun setelah mendapat sisipan dan berubah menjadi gerigi, gemetar, kemilau tetap dianggap sebagai satu kata.

Selain ciri kata, hal lain yang cukup penting adalah kelas kata. Dalam tata bahasa tradisional dinyatakan bahwa kelas kata merupakan inti tata bahasa. Plato dan Aristoteles yang hidup pada masa sebelum tarikh Masehi merupakan perintisnya. Buah pikiran mereka mempengaruhi deskripsi kelas kata untuk bahasa di masa-masa selanjutnya, termasuk bahasa Indonesia.

Dyonisius Thrax, Donatus, dan Priscianus yang hidup pada awal tarikh Masehi membuat pembagian kelas kata secara jelas. Karya tertua mengenai pembagian kelas kata dalam bahasa Melayu dihasilkan oleh seorang Belanda, Joanes Roman, pada tahun 1953. Roman melakukan pembagian kelas kata berdasarkan pembagian kelas kata yang berlaku dalam Bahasa Belanda, jadi berdasarkan tradisi yang berlaku di Eropa. Kelas kata dibaginya menjadi: namen (nomina), voornamen (pronomina), woorden (verba), bijwoor- den (adverbia), voorzetsels (preposisi), koppelingen (konjungsi), dan inroepen (interjeksi). Selain Joanes Roman, Raja Ali Haji juga melakukan hal yang sama tetapi berdasarkan tradisi yang berlaku bagi bahasa- bahasa Arab. Ahli sastra Melayu ini menghasilkan karyanya pada tahun 1857 dan 1859.

Orang Indonesia pertama yang melakukan pembagian kelas kata, pada tahun 1910, adalah Koewatin Sasrasoeganda. Ia menggunakan tradisi Yunani-La- tin-Belanda dalam penelitiannya. Karyanya, Kitab jang Menjatakan Djalan Bahasa Melajoe, sangat mempengaruhi pengajaran bahasa Melayu di sekolah- sekolah Indonesia. Konsep-konsep dan kerangka pikiran bahasa Melayu Sasrasoeganda menurun kepada penulis-penulis kemudian, bahkan sampai sekarang. Menurutnya kelas kata dalam bahasa Melayu terdiri atas: perkataan pekerjaan, perkataan nama benda, perkataan nama sifat, perkataan bilangan, perkataan

^ngganti nama, perkataan tambahan, perkataan ngantar, perkataan penghubung, dan perkataan pe- ^ ru. pembagian kelas juga dilakukan oleh banyak ana Belanda maupun orang Indonesia lainnya se- ^rti^George Henrik Werndly (1736), William Mars- (1812), Ch. A. van Ophuysen (1915) yang terlenai dengan sistem ejaan Melayunya, S. Takdir Ali- “ahbana (1953), Slametmuljana (1957), Anton M. Moeliono (1967), Gorys Keraf (1969), S. Wojowasito 11978), M. Ramlan (1985), dan Samsuri (1985). Pembagian kelas kata yang paling akhir dilakukan oleh Harimurti Kridalaksana (1986) yang membagi kelas kata menjadi 13 kelas, yakni: verba, adjektiva, nomina pronomina, numeral ia, adverbia, interogativa, de- riionst; va, artikula, preposisi, konjungsi, kategori, dan interjeksi.

Sarjana dari luar Indonesia yang meneliti kelas kata bahasa Melayu adalah Asmah H. Omar dari Malaysia (1968 dan 1980), Liaw Yock Fang dari Singapura (1985), Zainal Abidin bin Ahmad (Za’ba) dari Malaysia (1940), dan E.M.F. Payne (1964) dari University of London. Adanya pelbagai macam kelas kata ini merupakan pencerminan perbedaan kriteria yang digunakan. Ada yang menggunakan kriteria semantis, morfologis, maupun sintaksis.

Fra se adalah satuan gramatikal berupa gabungan kata dengan kata yang bersifat non-predikatif, seperti adik saya, teman lama, dan tukang kayu. Frase berbeda dengan kata majemuk. Untuk mengetahui perbedaannya, kita lihat istilah kata pada kata majemuk. Berdasarkan cirinya, kata tidak dapat diimbuhi sisipan. Jadi kata majemuk masih berstatus kata dan tidak tersisipi, sedangkan frase bukan kata karena dapat diperluas. Ciri kata majemuk lainnya ialah tidak dapat diperluas dan tidak dapat ditukar letaknya. Dengan berpegang pada tiga prinsip tersebut, perbedaan antara frase aan kata majemuk menjadi jelas serta hapuslah keragu-raguan dan ketidakjelasan yang terjadi selama ini. Susunan kambing hitam yang selama ini dikenal sebagai kata majemuk sebenarnya frase sebab susunan ini dapat diperluas menjadi kambing yang hitam, kambing saya yang hitam, dsb. Bahwa yang dimaksud kambing hitam tidak mengacu kepada binatang kambing yang berbulu hitam, itu persoalan lain. Jadi untuk menentukan apakah suatu susunan merupakan frase atau kata majemuk, susunan itu harus ditinjau dari sudut gramatikanya. Begitu pula duta besar merupakan frase karena dapat diperluas menjadi kedutaan besar, sedangkan rumah sakit merupakan kata majemuk karena memenuhi tiga syarat kata majemuk. Frase mempunyai makna “milik”, misalnya adik saya; makna “mengandung”, misalnya obat anti- biotika; makna “penyebab”, misalnya kuman penyakit; makna “seperti”, misalnya merah delima; makna “di” atau “dari” misalnya pempek Palembang.

Klausa ialah satuan gramatikal bei jpa gabungan kata yang terdiri atas subjek dan predikat, misalnya suara Ana merdu. Dalam klausa ini pembicara membicarakan suara Ana; bagian ini disebut subjek. Tentang suara Ana, ia mengatakan merdu; bagian ini disebut predikat. Subjek dan predikat merupakan inti klausa. Di samping itu terdapat unsur lain, yakni ob- Jek, yang terdiri atas objek langsung dan objek tak | langsung; pelengkap dan keterangan. Objek langsung maupun objek tak langsung terdiri atas nomina atau frase nomina yang menyertai verba transitif. Bedanya, objek langsung dikenai perbuatan, sedangkan objek tak langsung merupakan penerima atau yang diuntungkan oleh perbuatan yang dinyatakan oleh predikat yang berupa verba. Conjoh: Dia memberi saya buku. Saya adalah objek tak -langsung, buku adalah objek langsung. Unsur berikutnya adalah unsur yang menjadikan predikat dalam klausa itu menjadi predikat yang lengkap, yaitu pelengkap. Contoh: guru dalam ia seorang guru adalah pelengkap subjek; mobil dalam anjing ditubruk mobil adalah pelengkap pelaku. Unsur ketiga, keterangan, berfungsi meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat. Contoh: dari emas dalam cincinnya terbuat dari emas adalah keterangan asal; besok dalam besok ia datang adalah keterangan waktu. Klausa suara Ana merdu, ia seorang guru dan cincinnya terbuat dari emas bila diberi intonasi final dapat menjadi kalimat lengkap; klausa demikian disebut klausa bebas. Klausa karena sakit dalam kalimat la tidak pergi ke sekolah karena sakit tidak dapat menjadi kalimat yang berdiri sendiri; klausa demikian disebut klausa terikat sebab terikat dengan klausa lain.

Kalimat. Kalimat adalah satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final, serta terbentuk dari klausa. Dalam ragam tulis, kalimat ditandai oleh huruf kapital pada bagian awalnya dan tanda akhir, seperti titik, tanda tanya, dan tanda seru pada bagian akhirnya. Berdasarkan jumlah klausa penyusunnya, terdapat kalimat tunggal, kalimat bersusun, kalimat majemuk, kalimat bertopang, dan kombinasi keempat jenis kalimat itu.

Kalimat tunggal terdiri atas satu klausa bebas yang dapat mempunyai intonasi deklaratif seperti Ratusan orang meninggal dalam kecelakaan kereta api itu; mempunyai intonasi interogatif seperti Apa gerangan yang terjadi di sana?; atau mempunyai intonasi imperatif seperti Jangan merokok di ruangan yang memakai alat penyejuk. Kalimat yang terdiri atas satu klausa bebas dan sekurang-kurangnya satu klausa terikat disebut kalimat bersusun. Kalimat bersusun dapat berintonasi deklaratif seperti Apa pun katanya, dunia “gay” tampak lebih semarak akhir-akhir ini; mempunyai intonasi interogatif seperti Kalau kau saja berkata begitu, apa pula kata anak buahmu; atau mempu-nyai intonasi imperatif seperti Walaupun susah, jangan minta bantuan orang lain.

Kalimat majemuk terdiri atas beberapa klausa bebas seperti Mengapa eksekusi tetap terjadi walaupun keputusannya sudah lewat seperempat abadi Bila kalimat itu terdiri atas klausa terikat saja, kalimat tersebut disebut kalimat bertopang. Misalnya Betapa pun beratnya cobaan hidup ini tetap dijalaninya dengan hati tabah. Jenis kalimat yang merupakan kombinasi dari empat jenis kalimat ini adalah: kombinasi kalimat bertopang dengan kalimat tunggal seperti Betapa pun beratnya cobaan hidup ini, tetap dijalaninya dengan hati tabah, dan saya salut padanya; kombinasi kalimat majemuk dengan kalimat tunggal seperti Mengapa eksekusi tetap terjadi walaupun keputusannya su-dah lewat seperempat abad dan terhukum sudah me-nunjukkan rasa bertobat?; kombinasi kalimat bersusun dengan kalimat tunggal seperti Apa pun katanya, dunia “gay” tampak lebih semarak akhir- akhir ini, walaupun penganutnya belum berani menonjolkan diri secara terang-terangan. Masih terdapat jenis-jenis kalimat lain, seperti kalimat lengkap, kalimat tak lengkap, kalimat verbal, kalimat non-ver- bal, dsb.

Paragraf. Paragraf adalah sekelompok kalimat berkaitan yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu.

Wacana. Wacana merupakan satuan bahasa ter-lengkap dan satuan gramatikal yang menempati tingkat tertinggi. Wacana dapat berbentuk karangan utuh seperti novel, buku, paragraf, dan kalimat atau kata yang membawa makna lengkap.

Incoming search terms:

  • pengertian tata bahasa
  • pengertian gramatika
  • gramatika adalah
  • ilmu tata bahasa
  • pengertian tata bahasa menurut para ahli
  • tata bahasa adalah
  • definisi tata bahasa
  • arti tata bahasa
  • pengertian tata bahasa indonesia
  • arti gramatika

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tata bahasa
  • pengertian gramatika
  • gramatika adalah
  • ilmu tata bahasa
  • pengertian tata bahasa menurut para ahli
  • tata bahasa adalah
  • definisi tata bahasa
  • arti tata bahasa
  • pengertian tata bahasa indonesia
  • arti gramatika