Advertisement

Adalah program intensifikasi penanaman tebu dalam rangka menunjang industri gula Indonesia yang ditetapkan melalui Instruksi Presiden No. 9 tahun 1975. Pada prinsipnya program ini bertujuan: (1) meningkatkan pendapatan petani; (2) memenuhi kebutuhan gula dalam negeri; (3) mengalihkan sistem sewa menjadi sistem budi daya tebu di lahan sendiri, sehingga para petani menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Sebelum program TRI dicanangkan, pabrik-pabrik gula, yang sebagian besar berada di Pulau Jawa, menyewa tanah milik petani untuk ditanami tebu. Dengan sistem sewa ini para petani pemilik tanah hanya menerima penghasilan tetap berupa sewa tanah per musim tanam, tanpa memperhitungkan hasil produksi tanah yang disewakan. Tingkat sewa yang ditetapkan oleh pabrik-pabrik gula tersebut (biasanya melalui camat dan lurah setempat) pada waktu itu sudah tidak memadai lagi, umumnya jauh tertinggal oleh inflasi, sehingga jumlah areal yang tersedia untuk disewakan semakin menciut. Keadaan ini dianggap membahayakan perkembangan industri gula nasional di masa mendatang.

Advertisement

banyak 20 juta ton per tahunnya. Akibat ramalan itu, harga gula di pasaran internasional naik drastis dari 18 sen dolar AS per pon pada awal tahun 1974 menjadi 45 sen dolar AS pada akhir tahun, dan kecenderungannya terus meningkat. Kenaikan harga ini sangat mempersulit posisi Indonesia yang ketika itu masih mengimpor sebagian besar kebutuhan gulanya, terutama untuk keperluan industri. Atas dasar keinginan memenuhi kebutuhan dalam negeri itulah program TRI dicanangkan, dan karena hampir semua pabrik gula berlokasi di Jawa, areal intensifikasi pun dibatasi hanya di Pulau Jawa saja.

Dalam pola TRI, yang dulu juga dikenal sebagai Bimas Tebu, tiap petani tebu memperoleh kredit yang besarnya bervariasi, tergantung pada struktur lahan serta tahap penanamannya, dengan bunga relatif rendah. Selain itu disediakan pula paket kredit untuk obat antihama dan biaya penyemprotannya. Kredit ini diberikan secara bertahap sebanyak tiga kali, sesuai dengan jadwal penanaman sampai waktu panen. Penghasilan petani peserta program TRI terdiri atas: hasil penjualan tebu yang harus dijual ke pabrik gula dengan harga standar (provenu) yang ditetapkan oleh pemerintah, serta diperhitungkan menurut rendemen masing-masing; bagian gula dari hasil penggilingan tebu milik masing-masing yang berkisar 45-70 persen, tergantung pada rendemen yang dihasilkan.

Dengan demikian, pola TRI selain merupakan pola kredit, juga mencakup prinsip bagi hasil. Dalam kenyataannya para petani memang tidak menerima bagiannya in natura, karena harus diberikan dalam bentuk uang.

Ditinjau dari tujuannya, program TRI memang sangat ideal, tetapi hasil pelaksanaan di lapangan selama 15 tahun ini ternyata tidak seideal yang direncanakan. Sejauh ini, satu-satunya tujuan yang telah tercapai adalah yang ketiga, yakni petani menanam tebu di tanahnya sendiri. Itu pun tidak seluruhnya berhasil, sebab banyak petani yang, karena tidak ingin menanam tebu sendiri, terpaksa menyewakan tanahnya kepada pemilik-pemilik modal yang secara terselubung ikut memanfaatkan program TRI atas nama petani pemilik.

Incoming search terms:

  • tebu rakyat
  • tebu rakyat intensifikasi adalah
  • apa itu tri tebu
  • guna Unit Tebu Rakyat Intensifikasi
  • tanam tebu intensifikasi
  • tebu intensifikasi rakyat
  • tebu rakyat sengkang
  • tebu tri 1
  • TRI tebu

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • tebu rakyat
  • tebu rakyat intensifikasi adalah
  • apa itu tri tebu
  • guna Unit Tebu Rakyat Intensifikasi
  • tanam tebu intensifikasi
  • tebu intensifikasi rakyat
  • tebu rakyat sengkang
  • tebu tri 1
  • TRI tebu