Advertisement

Ibu kota Republik Honduras, Amerika Tengah, sejak 1880. Kota ini terletak di tepi Sungai Choluteca (100 kilometer) dan di kaki Gunung El Picacho. Dahulu daerah sekitar kota Tegucigalpa dikenal sebagai pusat peradaban suku bangsa Maya. Sampai kini wilayah di sekitar ibu kota Honduras masih berupa pegunungan terjal dan hutan yang sangat lebat, hampir tidak ada jalan darat yang dapat dilalui.

Beberapa sejarawan menyatakan nama kota itu berasal dari bahasa Indian yang berarti “bukit perak”; beberapa yang lain mengartikannya “tempat batu-batu runcing”. Pernyataan apapun yang benar, yang jelas kota ini terletak di tengah-tengah tambang perak dan dikelilingi oleh pegunungan yang tinggi dan terjal. Gunung dan lembah di sekitar kota ini banyak mengandung bijih emas dan perak. Meskipun meru-pakan kota besar, kota ini kurang terkenal bila dibandingkan dengan kota-kota lain di Amerika Latin. Hal itu dikarenakan keterpencilannya dari dunia luar (sebab kota dan negara ini terletak di tanah genting di Benua Amerika) dan sedikitnya lapangan keija di sektor industri.

Advertisement

Penduduk kota ini sekitar 571.400 jiwa (1985), sebagian besar keturunan mestizo (campuran Indian dan Spanyol). Kebanyakan penduduk menggantungkan hidupnya di sektor pertanian, terutama sebagai petani pisang. Oleh karena kekacauan politik dan sulitnya sarana transportasi, sebagian besar penduduk masih buta huruf, meskipun pemerintah sendiri memberi hak pada warga untuk mengenyam pendidikan secara cuma-cuma sampai mencapai umur 15 tahun. Hasil utama wilayah ini adalah pisang, buncis, ja-gung, kopi, beras, tebu, kapas, dan tembakau. Selain itu di daerah ini mulai dikembangkan industri tekstil, pakaian jadi, pengalengan makanan, dan kayu gelondong.

 

Advertisement