Advertisement

Yang berasal dari kata Yunani theos atau Allah, merupakan filsafat tentang Allah yang menegaskan Allah sebagai dasar ultim (paling mendasar) dari dunia. Filsafat ini berbeda dengan ateisme yang menolak pengakuan adanya Allah, dengan skeptisisme dan agnostisisme yang menolak setiap jawaban atas pertanyaan tentang Allah sebagai dasar ultim, dengan deisme yang mengakui Allah sebagai dasar ultim namun menyangkal keterlibatanNya di dunia, dengan panteisme yang mengidentifikasikan Allah dengan dunia, dan dengan politeisme yang mengakui pluralitas realitas absolut. Gagasan ini mendapat tempat dalam pemikiran Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Abad Pertengahan, seperti Thomas Aquinas, Moses Maimonides, dan Ibn Rushd. Di sisi lain, pemikiran ini ditolak oleh W. Ockham dan Im- manuel Kant. Menurut keduanya akal budi manusia tidak dapat membuktikan adanya Allah.

Teisme mempunyai arti yang tepat sama dengan monoteisme, atau percaya dengan adanya satu Allah, yang patut dihormati, yang berbeda dari dunia, dan yang aktif dalam perkembangan dunia. Sebagai pribadi, Allah merupakan subjek yang memiliki akal budi dan kehendak; karena itu Dia dapat dipanggil dengan sapaan Engkau. Dia patut dihormati karena baik dan memiliki kekuatan yang jauh melampaui kekuatan manusia; kekuatannya tak terbatas. Esensinya lain dari dunia dan karena itu mampu menciptakan dunia secara ex nihilo. Dia aktif dalam dunia; bahkan semua unsur dunia harus tergantung pada aktivitas kontinyu dari Allah, Sang Pencipta.

Advertisement

Advertisement