Advertisement

Di Indonesia, penelitian tentang cara-cara berladang awal pada masa prasejarah belum banyak dilakukan. Karena itu, amat sedikit pengetahuan yang diperoleh tentang tata cara berladang pada masa itu. Namun, ada sedikit informasi tentang berladang yang didapat dari hasil rekonstruksi kosakata bahasa Austronesia awal (sekitar 4.000 tahun lalu), di antaranya lahan yang ditanami (ladang), menanam, menyiangi, lahan dibiarkan tak tertanami, tugal, dan mungkin juga pagar bambu. Beberapa jenis tanaman yang dibudidayakan termasuk padi, ubi, taro, jahe, jeruk, pisang, sukun, sejenis semangka, sagu dan tebu. Ada pula beberapa kosakata yang menunjukkan aktivitas penyiapan makanan seperti menampi, menanak nasi, dan periuk (gerabah). Dari sedikit informasi tadi, ditambah dengan perbandingan dengan data etnografi yang ada sekarang, tidaklah sulit dibayangkan bagaimana perladangan dilakukan pada awal Masa Bercocok tanam di Indonesia. Tampaknya, tahapan berladang pada masa itu tidak jauh berbeda dengan yang ada sekarang, yaitu menyiapkan lahan dengan menebang pohon dan membersihkan lahan dari semak dengan cara membakar, kemudian lahan dibiarkan dingin dan abu menjadi penyubur tanah. Ketika lahan sudah siap lalu ditanami dengan memasukkan benih dalam lubang yang dibuat dengan tugal. Selama tanaman tumbuh, lahan harus tetap disiangi dari rumput liar dan dipagari agar tanaman tidak terganggu. Setelah tanaman dipanen, lahan dibiarkan tidak ditanami sementara agar kesuburannya kembali.

Gambaran cara berladang untuk tanaman taro pada masa prasejarah didapatkan hasil penelitian di daerah Kuk yang terletak di Lembah Wahgi, dataran tinggi Mount Hagen (Papua Nugini). Menurut beberapa ahli, cara ini mungkin juga diterapkan di Lembah Baliem di masa yang lampau. Di situs Kuk, yang merupakan daerah berawa, ditemukan jaringan parit, selokan, pematang, dan tanah yang ditinggikan membentuk seperti pulau-pulau dikelilingi parit. Jaringan ini membentuk pola seperti jaring-jaring persegi yang sebarannya cukup luas. Selain itu, juga beberapa sekop kayu berasal dari sekitar 4.000 tahun lalu. Rupanya, sekop kayu itu digunakan untuk menggali tanah membuat parit dan selokan. Parit dan selokan ini berfungsi untuk membuang air agar taro dapat ditanam di bagian lahan yang ditinggikan (pulau). Untuk membangun jaringan seperti ini, tentu dibutuhkan energi yang cukup besar. Cara berladang dengan prasarana seperti ini dianggap suatu tahapan maju dari sistem ladang berpindah atau tebas bakar. Diduga, pada awalnya cara berladang seperti itu diterapkan untuk berbagai tanaman secara tumpang sari, tetapi kemudian berkembang menjadi lahan tanaman tunggal (Bayliss-Smith dan Golson, 1992).

Advertisement

Teknologi berladang tentu harus didukung dengan seperangkat peralatan khusus. Pada tahap ini memang tidak semua teknologi subtraktif ditinggalkan. Pembuatan alat-alat batu untuk bercocok tanam atau berladang masih tetap mempertahankan teknologi substraktif. Hal ini terlihat dari temuan alat-alat batu masa bercocok tanam (neolitik) di Indonesia, terutama kapak persegi dan kapak lonjong.

Kapak persegi umumnya mempimyai bentuk persegi, baik kesan seluruh alat maupun penampangnya. Tajamannya kadang dibentuk melandai ke satu muka seperti pahat, tetapi umumnya dibentuk dari dua muka. Namun, ada berbagai variasi bentuk kapak persegi yang tidak mengikuti bentuk umum, misalnya belincung yang mempunyai penampang segilima karena mempunyai punggung tinggi. Sebaliknya, kapak lonjong cenderung mempunyai penampang maupun bentuk umum lonjong. Kapak persegi maupun kapak lonjong dipasangkan pada tangkai dari kayu dan diikat dengan tali (mungkin rotan atau serat tanaman), bahkan sering direkatkan dengan getah. Tajaman kapak dapat dipasang melintang, atau sejajar dengan tangkainya. Apabila dipasang sejajar, biasanya disebut sebagai beliung.. Kedua jenis alat batu ini merupakan alat yang penting dalam sistem berladang. Ada yang berpendapat kapak-kapak batu itu dipakai untuk mengerjakan tanah dan menebas pohon ketika membuka ladang. Namun, tidak tertutup kemungkinan hanya untuk menguliti pohon agar pohon itu kering (mati) dan dapat dibakar. Cara ini mungkin lebih efektif daripada menebang batang pohon langsung hingga tumbang.

Kapak-kapak batu tersebut dibuat dengan memadukan penyerpihan lang-sung dan tak langsung dengan pengupaman. Cara penyerpihan langsung diterapkan ketika membentuk bahan batu menjadi calon kapak (blank atau plank) berbentuk persegi agak pipih dengan faset-faset yang masih kasar. Selanjutnya, ketika bentuk calon kapak sudah mendekati bentuk yang dikehendaki dan faset-fasetnya semakin kecil dan rapi, penyerpihan tak langsung atau bahkan penyerpihan tekan diterapkan. Cara ini diterapkan untuk mengurangi dan merapikan tonjolan-tonjolan faset yang belum rapi dan menuntaskan bentuk akhir kapak. Setelah itu, baru calon kapak hampir jadi ini diasah pada batu asah sehingga permukaannya halus. Mungkin dalam proses pengasahan atau pengupaman digunakan juga pasir dan air yang berfungsi sebagai pengaus batu (Tanudirdjo, 1991). Untuk membuat permukaan semakin mengkilat, permukaan kapak atau beliung batu digosok dengan bambu.

Salah satu teknologi baru yang muncul pada budaya berladang adalah pembuatan gerabah atau benda-benda dari tanah liat bakar, terutama berupa wadah. Teknologi ini termasuk bersifat aditif. Bahan utamanya memang tanah liat, tetapi untuk dapat dibuat sebagai gerabah harus mengalami percampuran dengan bahan tambahan, antara lain sekam, abu, pasir, atau bahan lain yang dapat membuat tanah liat tidak mudah pecah. Secara umum, proses pembuatan gerabah umumnya dilaksanakan dalam tahap-tahap sebagai berikut (Hodges, 1981).

  1. Mendapatkan bahan tanah liat dari sumbernya.
  2. Menyiapkan tanah liat menjadi bahan gerabah (adonan) dengan menambahkan bahan baru (filler) dan mengaduk menjadi rata.
  3. Membentuk adonan menjadi benda (wadah) yang dikehendaki dan menghias jika perlu.
  4. Mengeringkan dan membakar.

Ada berbagai cara untuk membentuk benda dari gerabah, antara lain dengan teknik kumparan, lembaran, tatap pelandas, menggunakan roda putar, dan mencetak. Dari pengamatan terhadap artefak gerabah Masa Prasejarah di Indonesia, cara pembuatannya yang diterapkan antara lain teknik kumparan, tatap pelandas, dan roda putar lambat. Pada teknik kumparan, adonan dibentuk silinder panjang lalu ditata melingkar sehingga terbentuk kumparan yang tersusun dari lingkaran-lingkaran satu di atas lainnya. Susunan kumparan disesuaikan dengan bentuk wadah yang dikehendaki. Celah antara satu lingkaran dengan lingkaran lain lalu dirapatkan dengan memijit dan menekan bagian-bagian di dekat celah tersebut sampai akhirnya semua celah tertutup dan permukaan wadah menjadi rata.

Pada teknik tatap-pelandas, biasanya adonan bahan gerabah awalnya dibuat menjadi gumpalan, lalu dengan tangan dibuat cekungan pada gumpalan tersebut yang dilanjutkan dengan membentuk dinding wadah. Setelah dinding wadah agak tinggi, dipakai tatap dan pelandas untuk memadatkan sekaligus membentuk dinding wadah yang dikehendaki. Tatap umumnya dibuat dari kayu berbentuk persegi dengan tangkai pegangan, sedangkan pelandas dibuat dari batu bulat yang permukaan halus. Kadangkala, batu pelandas dibentuk sehingga memiliki pegangan. Tatap dipakai untuk memukui dinding luar wadah gerabah, sementara pelandas menahan pukulan pada bagian dalam wadah. Pada tahap yang lebih maju, teknik tatap pelandas sering digabungkan dengan penggunaan roda putar lambat. Dengan meletakkan wadah gerabah di atas roda putar, proses pembentukan akan menjadi lebih mudah karena si perajin tidak perlu terlalu banyak bergerak ketika membentuk dinding wadah. Lagipula, proses pembentukan dapat dilakukan lebih cepat.

Gerabah awal di Indonesia pada umumnya polos tidak berhias, tetapi sering kali dipoles dengan warna merah (red-slipped). Pada perkembangan selanjutnya, banyak gerabah yang dihias dengan cara digores atau ditera motif hias tertentu. Hias gores (incised) dibuat dengan menorehkan alat berujung runcing (biasanya dari bambu) pada wadah yang sudah setengah kering. Hias tera dapat dibuat dengan menggunakan tatap yang sudah diukir atau dibalut tali. Sering kali hias tera dibuat dengan menekan benda langsung ke dinding gerabah, misalnya bentuk bergerigi dibuat dari tera kulit kerang, hiasan lingkaran kecil dibuat dengan menekan batang tanaman perdu yang berlubang di tengahnya, dan pola titik-titik dibuat dengan menusukkan lidi. Gerabah berhias di Indonesia pada umumnya dibuat pada Masa Perundagian ketika manusia sudah mulai mengenal logam sejak sekitar 2.500 tahun yang lalu (Bellwood, 1997).

Dengan diperkenalkan logam ke Nusantara, teknologi berladang juga meningkat. Untuk menebang pohon dan membersihkan semak dapat digunakan kapak dan senjata tajam dari logam yang tentunya lebih efektif. Bukti-bukti penggunaan alat-alat dari besi ditemukan pada situs kubur peti batu di daerah Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di dalam peti kubur tersebut ditemukan berbagai alat dari besi, antara lain kapak, cangkul, parang, sabit, dan ujung tombak (Hoop, 1935). Hampir dapat dipastikan alat-alat besi ini digunakan oleh komunitas di daerah itu untuk berladang. Temuan lain yang membuktikan alat logam dipakai untuk mendukung aktivitas berladang adalah mata bajak yang terdapat di situs megalitik di daerah Bondowoso, Jawa Timur.

Tradisi berladang terus dilaksanakan di berbagai tempat di Indonesia, ketika pengaruh Hindu-Buddha memasuki kepulauan Nusantara. Bahkan, di Jawa, Bali, dan Sumatra yang kuat dipengaruhi budaya dari India dan telah menerapkan sistem pertanian sawah, tradisi berladang masih terus dilakukan, Namun, diperkirakan cara berladang tebas bakar (slash and burn atau ladang berpindah (shifting      cultivation)tidak banyak dipraktikkan, karena semakin padatnya penduduk, terutama di Jawa. Tradisi berladang mungkin dilakukan secara lebin permanen dan disebut pertanian tegalan. Beberapa prasasti dan naskah di Jawa. Kitab Arjunawijaya (22:5), misalnya membedakan tanah pertanian menjadi tegal dan sawah. Disebutkan pula, bahwa tanah tegal dipakai untuk menanam tales (taro), uwi (umbi), dan beberapa jenis ketela serta sayuran. Kitab Ramayana dan Bomakawya menyebutkan padi yang ditanam di tegalan adalah padi gaga. Jenis padi ini memang ditanam di lahan kering (Subroto, 1985).

Incoming search terms:

  • pengertian tatap pelandas
  • tatap pelandas
  • apa yang dimaksud dengan tatap pelandas
  • Apa yang dimaksud dengan teknologi tatap pelandas
  • Apa saja pengertian tatap pelandas yaitu
  • arti teknologi berladang
  • salah satu artekfatual berbahan batu yaitu berupa alat sepih dan pelandas yang di
  • teknik tatap pelandas

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tatap pelandas
  • tatap pelandas
  • apa yang dimaksud dengan tatap pelandas
  • Apa yang dimaksud dengan teknologi tatap pelandas
  • Apa saja pengertian tatap pelandas yaitu
  • arti teknologi berladang
  • salah satu artekfatual berbahan batu yaitu berupa alat sepih dan pelandas yang di
  • teknik tatap pelandas