Advertisement

Dari kata Yunani teknon yang berarti anak, adalah suatu konsep yang mengandung beberapa pengertian. Pertama, teknonimi dapat diartikan sebagai istilah kekerabatan yang mempergunakan istilah sebutan atau sapaan yang sebenarnya dipakai oleh anak, misalnya suami menyapa istri dengan istilah “ibu”. Kedua, teknonimi juga berarti istilah yang roengacu kepada nama anak tertentu, umumnya nama anak sulung, misalnya “ayah si Polan” atau “ibu si Polan” untuk menyebut orang tua seorang anak bernada Polan.

Contoh teknonimi dengan pengertian kedua di atas ditemukan dalam banyak budaya suku bangsa di Indonesia. Bahkan beberapa contoh menunjukkan adanya persamaan kosa kata, baik untuk suami maupun untuk istri. Selain istilah Aman Polan dan Inen Polan untuk suami dan istri pada suku bangsa Gayo, di daerah lain dikenal pula istilah lain, misalnya Taman dan Sinen (Dayak Kenyah), Amani dan f nan i (Batak), Si Ama ni dan Si Ina ni (Minahasa), Ama dan Ina (Nias), Ama dan Rihi (Sawu), Ama dan Ina (Timor), Mai dan Inai (Waropen), dll.

Advertisement

G.A. Wilken, seorang tokoh ilmu antropologi abad ke-19 menyatakan bahwa adanya adat teknonimi itu adalah untuk mempererat hubungan sosial antara ayah-ibu dan anaknya. Namun kenyataan lain menunjukkan bahwa adat itu tidak hanya menyangkut kaitan antara orang tua dan anak, tetapi juga mengandung makna lain, yang tampak pada adat Bali berikut ini. Pan dan Men adalah istilah awal yang dipakai untuk menyebut suami dan istri. Istilah ini tidak selalu ter-kait dengan nama anak. Suami-istri yang tidak mampu melahirkan anak, masing-masing disebut Pan Be- kung dan Men Bekung. Seorang suami yang istrinya sedang mengandung disebut Pan B ongkos, sedang istrinya disebut Men Bongkos. Apabila sang istri melahirkan anak laki-laki, suaminya disebut Pan Lecir dan istrinya disebut Men Lecir. Sebaliknya, kalau anak yang lahir perempuan, suami-istri itu masing- masing disebut Pan Lueng dan Men Lueng. Setelah anak itu diberi nama, misalnya Wayan Gejer, barulah orang tuanya itu disebut Pan Gejer dan Men Gejer.

Pada masyarakat Gayo di Aceh Tengah ditemukan bentuk yang sedikit berbeda. Sebutan di depan nama pasangan suami-istri umumnya adalah Aman dan Inen. Sepasang pengantin yang baru saja selesai mengucapkan ijab-kabul disebut Aman Mayak dan Inen Mayak. Apabila dari perkawinan itu mereka mendapat anak laki-laki, sebutan tadi berubah menjadi Aman U win dan Inen Uwin; sedangkan kalau anak pertamanya perempuan mereka disebut Aman Ipak dan Inen Ipak. Setelah anak tersebut diberi nama, misalnya Y, sebutan mereka menjadi Aman Y dan Inen Y. Bila satu waktu mereka mendapat cucu pertama dan diberi nama Z, keduanya mendapat julukan yang sama, yaitu: Empun Z.

Berdasarkan adat, masyarakat Gayo memang merasa tidak wajar menyebut nama seseorang yang sudah kawin. Suatu perkawinan menyebabkan perubahan status seseorang. Dalam budaya Gayo, status orang yang belum kawin disebut warus, artinya ia belum mempunyai hak dan kewajiban yang penuh sebagai anggota masyarakat, dan ia dianggap sebagai “anak kecil” atau kadang-kadang disebut “belum jadi orang”. Sebaliknya, status orang yang sudah kawin disebut wajip, artinya sesuai dengan aturan dan nilai adat ia mempunyai hak dan kewajiban penuh. Status wajip itu ditandai dengan simbol nama yang berganti. Setelah seseorang punya anak dan seterusnya punya cucu, statusnya menjadi semakin tinggi, sehingga tidak wajar bila ia disebut atau disapa dengan nama semasa ia masih warus.

Incoming search terms:

  • arti mayak
  • arti sang pan
  • arti wadanmen
  • ilmu teknonimi
  • tokoh wilken
  • wayan pan men sebutan bali

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti mayak
  • arti sang pan
  • arti wadanmen
  • ilmu teknonimi
  • tokoh wilken
  • wayan pan men sebutan bali