Advertisement

Telah menjadikan media tercfcj tak sebagai sarana pemberi informasi yang tidak saji; mampu menyajikan berita tertulis tetapi juga benS bergarnbar tentang kejadian-kejadian aktual hanya beberapa saat setelah peristiwa itu terjadi. Cara pengi- ,-imar c’tra f°t0 melall,i radio atau kabel telepon ini sudab ukup lama ditemukan. Dengan adanya lompatan kemajuan teknologi selama beberapa dasawarsa terakhir dan banyaknya satelit komunikasi canggih yang diorbitkan ke garis edar yang hampir meliput seluruh wilayah dunia, kemampuan menyebarkan ci- tra foto dapat lebih besar lagi. Selain pengiriman dapat dilakukan secara lebih cepat, mutu gambarnya juga dapat lebih baik.

Prinsip kerja mesin telefoto sangat sederhana. Foto positif dipasang ke sebuah drum yang berputar de- ngan kecepatan tertentu. Kemudian, seberkas sinar yang !gat kedi’ yang bergerak sejajar dengan sumbu drum, menyapu dengan cepat permukaan foto tersebut. Sinar yang teipantul dari permukaan foto diterima oleh sel fotosensitif yang bertugas mengubah intensitas sinar itu menjadi tegangan listrik. Tegangan listrik yang ditimbulkan diproses dan disuntikkan ke dalam gelombang radio pembawa yang akan memancarkannya lewat antena ke stasiun-stasiun penerima. Pada telefotografi melalui telepon, sinyal listrik yang terjadi dibawa oleh kabel telepon ke segala penjuru dunia, mungkin lewat kabel bawah laut atau stasiun-stasiun bumi yang menjadi gerbang-darat bagi satelit komunikasi.

Advertisement

Penerima sinyal telefoto – biasanya redaksi majalah, surat kabar, atau kantor berita yang menjadi pelanggan suatu badan sumber telefoto – mempunyai alat penerima sinyal yang prinsip kerjanya kebalikan dari alat pengirim. Setelah sinyal radio atau telepon diterima oleh penerima, tegangan listrik yang terkirim dipisahkan dari gelombang pembawanya dan dipakai untuk menyalakan lampu yang intensitas ca- hayanyr berubah-ubah. Lampu ini menyinarkan cahayanya kc permukaan kertas peka-cahaya sehingga sinyal gambar yang terkirim bisa tercetak dengan resolusi gambar (jumlah titik-titik gambar per satuan luas) yang sama dengan aslinya.

Sejarah. Telefotografi lahir setelah Arthur Korn, ahli ilmu alam Jerman, berhasil membuat alat yang dapat mengirimkan foto atau potret melalui kabel. Ia menggunakan sel-sel fotolektrik dari selenium sebagai penjejak citra potret. Potret itu sendiri ditempelkan ke sebuah drum yang berputar dengan kecepatan tertentu. Sinar yang diarahkan ke permukaan drum memantulkan citra potret ke arah fotosel tadi sehingga timbul pulsa listrik yang dikirimkan melalui media telekomunikasi. Pada tahun 1907, Korn mengomersialkan penemuannya. Layanan telefotografi ini kemudian dengan cepat mendapat pelanggan yang akhirnya menyebar ke negara-negara lain.

Di Amerika Serikat, usaha komersial dilakukan oleh American Telephone and Telegraph Company (AT&T), yang memulai layanan wirephoto atau telefoto ini pada tahun 1925. Perusahaan raksasa RC A membuka layanan telefotografi radio transatlantik setahun kemudian. Setelah itu, berbagai perusahaan berlomba menyediakan layanan ini, termasuk kantor- kantor berita yang biasanya mempunyai jaringan telefotografi sendiri. Kantor-kantor berita besar seperti

UPI, Reuters, dan AFP mempunyai pelanggan Penerima foto-foto hasil jepretan para wartawannya di surat-surat kabar di seluruh dunia.

Sistem cetak-jarak-jauh, yang salah satu komponennya adalah telefotografi yang terintegrasi dengan pengiriman teks yang sudah diatur tata-letaknya, memungkinkan majalah berskala dunia seperti Time, Newsweek, atau Paris Match dapat dibaca pada hari yang sama di seluruh dunia.-Tidak lama lagi, penduduk Jakarta dan masyarakat pembaca di tempat-tempat jauh di Indonesia Timur pada saat bersamaan akan dapat membaca berita yang sama yang diliput surat kabar ibu kota. Demikian pula akan terjadi, foto-foto gempa bumi dfPegunungan Jayawijaya di Irian Jaya, misalnya, akan dapat dilihat oleh pembaca di Medan sama jelasnya dengan foto yang dimuat di surat-surat kabar lokal.

Advertisement