Advertisement

Kota di Kabupaten Jayawijaya, Propinsi Irian Jaya. Kota ini berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, di lereng selatan Pegunungan Jayawijaya, bersuhu udara rata- rata 15°C, dikelilingi gunung-gunung dengan sungai mengalir di lembahnya. Tembagapura dibangun oleh perusahaan Freeport pada tahun 1971 di daerah ter-pencil, sekitar 100 kilometer lebih di pedalaman Irian Jaya. Jumlah penduduknya sekitar 5.000 jiwa (1991), sekitar 95 persennya merupakan karyawan Freeport Indonesia beserta keluarganya.

Kontrak kerja di bidang pertambangan antara pe-merintah Indonesia dan Freeport ditandatangani pada tanggal 7 April 1967. Pada tanggal 3 Maret 1973, Presiden Soeharto meresmikan Proyek Freeport seka-ligus meresmikan nama kota tambang Tembagapura dan mengubah nama Irian Barat menjadi Irian Jaya. Bumi Tembagapura mengandung bijih tembaga cukup banyak.

Advertisement

Kota Tembagapura semula hanya merupakan tempat permukiman karyawan Freeport dengan bangunannya berupa sederetan barak yang sederhana. Setelah kunjungan Presiden Soeharto 1973, rencana pem-bangunan suatu permukiman secara terpadu mulai dibuat dan secara bertahap mulai dibangun. Pada tahun 1986 telah tersedia 446 rumah di pusat permukiman tersebut.

Penduduk kota Tembagapura memiliki komposisi yang unik. Hampir semua suku bangsa Indonesia ter-wakili di Tembagapura, mulai dari Sabang hingga Merauke. Semuanya hadir dengan membawa serta ciri kebudayaannya masing-masing.

Di kota ini tersedia sebuah rumah sakit yang memiliki kapasitas 35 tempat tidur, dikelola oleh 5 dokter. dibantu 60 tenaga kesehatan.

Sejak tahun 1973, Freeport telah menyediakan sarana pendidikan bagi warganya dengan mendirikan yayasan Pendidikan Jayawijaya. Semua keperluan gedung, penyediaan guru, peralatan, biaya operasio- nal, dan sebagainya, disediakan perusahaan.

Advertisement