Advertisement

Ialah puisi dalam kesusastraan Jawa maupun Sunda. Bentuk puisi ini terikat oleh banyaknya baris dalam satu bait, banyaknya suku kaia dalam satu baris, dan rima tetap pada akhir setiap baris. Terdapat berbagai bentuk tembang yang masing-masing memiliki ketentuan banyaknya baris dalam bait, banyaknya suku kata dalam setiap baris, dan rima tetap pada akhir setiap baris. Setiap bentuk tembang memiliki jenis lagu tersendiri yang suasana lagunya sesuai dengan kandungan arti bentuk tembang terse-but. Misalnya bentuk tembang Asmaradana mengandung suasana haru, cinta, terpikat, dsb., y a r, berhubungan dengan suasana mabuk asmara.

Bentuk puisi seperti ini telah dikenal sejak jaman kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, sehingga bentuk puisi ini juga mengalami perkembangan dan perubahan. Berhubungan dengan isi tembang dapat pula disebutkan pengertian pupuh, yakni kumpulan satu jenis bentuk tembang yang memiliki kesatuan arti dan suasana. Beberapa ahli sastra menyebutkan adanya sekitar 17 bentuk pupuh. Pada dasarnya hanya terdapat tiga penggolongan tembang, yakni Tembang Gede (besar) yang juga disebut Tembang Kawi, Tembang Tengah-an atau Tembang Dagelan, dan Tembang Macapat atau Tembang Cilik (kecil). Tembang Gede disebut juga Tembang Kawi karena bentuk-bentuk tembang itu berkembang pada jaman Hindu di Jawa, sejak jaman Mataram sampai dengan jaman Majapahit, sekitar abad ke-8 sampai ke-16. Bahasa yang dipakainya adalah bahasa Jawa Kawi. Tembang Gede terdiri atas berbagai bentuk tembang, seperti Puksara, Gurnang, Kumaralalita, Wastra, Jaraga Tatagati, Ruk- marata, Rukmawati, Citrakusuma, Basanta, Patrasuratma, Gandakusuma, dll. Setiap bentuk memiliki aturan, ciri watak atau suasana, serta lagu-lagunya (cengkok) sendiri.

Advertisement

Tembang Tengahan berkembang pada jaman akhir Majapahit (sekitar abad ke-16) dan diciptakan dalam bahasa Jawa Tengahan. Bentuk tembangnya pada saat itu lazim disebut Kidung. Tembang Tengahan juga terdiri atas berbagai bentuk tembang, termasuk Juru- demung. Wirangrong, Balabak, Pranasmara, Panga- japsih, Palugon, dsb.

Tembang Macapat mulai muncul pada jaman berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa, sekitar abad ke-17. Bahasa yang dipakai Macapat adalah bahasa Jawa Baru. Tembang Macapat terdiri atas Dandanggula, Sinom, Asmaradana, Pangkur, Durma, Mijil, Kinanti, Maskumambang, Pucung, Gambuh, dan Megatruh atau Dudukwuluh.

Karena penggolongan bentuk-bentuk tembang ber- dasarkc aspek kesejarahan puisi Jawa, tidaklah mengherankan apabila sering terjadi perpindahan penggolongan. Misalnya, Girisa yang dahulu termasuk Tembang Gede kini telah menjadi bagian dari Macapat; Megatruh, Gambuh, Wirangrong, Jurude- mung, Balabak, yang dulu termasuk Tembang Tengahan, kini termasuk Tembang Macapat. Berbagai macam bentuk tembang ini dipakai untuk bercerita, memberikan ajaran, mengekspresikan perasaan atau pemikiran, dsb.

Incoming search terms:

  • pengertian tembang
  • pengertian tembang dalam bahasa jawa
  • arti tembang
  • tegese tembang
  • pengertian tembang jawa
  • pengertian tembang bahasa jawa
  • pengertian tembang macapat dalam bahasa jawa
  • pengertian tembang gedhe
  • arti tembang dalam bahasa jawa
  • pengertian tembang tengahan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tembang
  • pengertian tembang dalam bahasa jawa
  • arti tembang
  • tegese tembang
  • pengertian tembang jawa
  • pengertian tembang bahasa jawa
  • pengertian tembang macapat dalam bahasa jawa
  • pengertian tembang gedhe
  • arti tembang dalam bahasa jawa
  • pengertian tembang tengahan