Advertisement

Atau temu-temuan, suatu kelompok terna yang terdiri atas 53 marga dan 1.200 jenis. Akar rimpang terna yang umum digunakan untuk obat ini mengandung minyak asiri. Daunnya yang melanset, biasanya terletak Berseling, kadang-kadang spiral, sering kali berpelepah. Bunganya selalu terdiri atas satu bibir yang berasal dari stamen yang termodifikasi. Temu- temuan tersebar luas di daerah tropika, terutama Indo- malaya.

Nama temu diperuntukkan bagi sekitar 40 jenis yang dikelompokkan dalam satu marga. Kegunaan utama temu ini adalah sebagai rempah-rempah, sumber karbohidrat, pewarna, penyedap, sayur, kosmetik, dan jamu. Karena temu bernilai ekonomi tinggi, penduduk di daerah tropika sering kali mengusahakannya secara besar-besaran di ladang.

Advertisement

Pembudidayaannya sangat mudah, yaitu dengan cara menanam potongan akar rimpangnya pada tanah yang berdrainase baik dan daerah bercurah hujan kurang sampai cukup. Beberapa penduduk di Jawa mengusahakan pembudidayaannya di antara tanaman jati atau karet.

Temu Batok mempunyai akar rimpang kuning cerah dengan dasar kumpulan braktea yang ujungnya berbintik-bintik ungu. Permukaan atas tulang daunnya cokelat keunguan. Kegunaan tumbuhan ini belum pernah dikemukakan orang; namun, ada dugaan temu ini dapat dipakai sebagai pengganti kunyit.

Temu Blobok tumbuh di hutan jati, hutan sekunder, dan padang rumput, pada ketinggian 10-700 meter di atas permukaan laut. Akar rimpangnya yang tidak berkembang baik berwarna putih dan tidak berbau. Ada laporan bahwa akar rimpangnya mengandung bahan kimia seperti kamfor. Bunga mudanya kadang- kadang dapat dimakan.

Temu Giring berdaun hijau dan berakar rimpang putih dengan bagian tengah kekuningan. Temu yang berasa pahit ini sering digunakan untuk campuran jamu. Perasan airnya dapat digunakan untuk obat cacing.

Temu Glenyeh mempunyai akar rimpang berwarna kuning jingga dan daun berwarna hijau. Di Solo akar rimpangnya sering dijual di pasar untuk dijadikan bahan jamu.

Temu Hitam mempunyai akar rimpang berwarna kehitaman; ada juga yang agak keputih-putihan. Temu ini tumbuh di Myanmar, Laos, sampai Jawa. Jenis ini sudah mulai dibudidayakan oleh penduduk. Umumnya, akar rimpangnya digunakan sebagai jamu; ada juga yang melaporkan bahwa temu ini berkhasiat sebagai obat asma dan batuk. Campuran tumbukan akarnya dan minyak kelapa dapat digunakan untuk mengobati ketombe.

Temu Lawak mempunyai akar rimpang berwarna kuning tua atau cokelat kemerahan dengan bagian dalam jingga kecokelatan. Rimpang ini berbau harum dan berasa pahit agak pedas. Temu lawak merupakan tanaman asli Indonesia. Terna ini sudah dibudidayakan di Jawa, Malaya, Thailand, dan Filipina. Umumnya pembudidayaannya terutama untuk diambil akar rimpangnya yang dipakai dalam ramuan obat tradisional atau dimakan sebagai lalap.

Klasifikasi Ilmiah. Temu termasuk suku Zingiberaceae (temu-temuan). Nama ilmiah temu batok Curcuma euchro- ma\ temu blobok C. aurantiaca; temu giring C. heyneana; temu glenyeh C. soloensis; temu hitam C. aeroginusa\ dan temu lawak C. xanthorrhiza.

Incoming search terms:

  • temu glenyeh
  • pengertian temu ilmiah
  • manfaat temu glenyeh
  • temu batok
  • temu blenyeh
  • Rimpang temu giring pembudidayaannya
  • definisi temu ilmiah
  • khasiat temu batok
  • yg di maksut temu giri adalah
  • Tanaman temu blenyeh

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • temu glenyeh
  • pengertian temu ilmiah
  • manfaat temu glenyeh
  • temu batok
  • temu blenyeh
  • Rimpang temu giring pembudidayaannya
  • definisi temu ilmiah
  • khasiat temu batok
  • yg di maksut temu giri adalah
  • Tanaman temu blenyeh