Advertisement

Salah satu dari ti ga desa adat kuno berbudaya asli yang masih bertahan di Pulau Bali. Dua desa lainnya adalah Trunyan di teD; Danau Batur di lereng Gunung Batur, dan Bali Agajjj dekat Singaraja.

Desa Tenganan terletak di Kecamatan Manggjs Kabupaten Karangasem, Propinsi Bali. Berjarak sekitar 66 kilometer sebelah timur kota Denpasar, desaini diapit oleh Bukit Kangin di bagian timur dan Bukit Kauh di barat.

Advertisement

Dalam prasasti Ujung dari abad IX d i sebutkan bah-wa desa Tenganan semula bernama Pabeges. Menurut cerita rakyat setempat, mereka dulu berasal dari dae-rah di pinggir pantai dekat candi Dasa, tetapi karena erosi air laut mereka berpindah ke pedalaman. Dalam bahasa Bali disebut ngetengahan yang kemudian ber-kembang menjadi Tenganan seperti sekarang ini.

Desa adat Tenganan dikenal pula sebagai “surga” penelitian bagi para antropolog dan mahasiswa jurusan antropologi. Namun riwayat desa ini agak sulit juga untuk dilacak kembali, karena banyak pustaka sejarahnya yang musnah akibat bencana kebakaran pada tahun 1763 dan 1841. Namun menurut para ahli, berdasarkan tempat-tempat keramat pemujaan yang dimilikinya, diperkirakan desa kuno Tenganan telah ada sejak jaman megalitikum.

Penduduk desa Tenganan terus mempertahankan tatanan adat, tradisi, serta kepercayaan warisan leluhurnya. Mereka biasanya disebut Bali Aga atau Bali Mula, orang Bali yang masih mempertahankan banyak tradisi pra-Hindui Meskipun mereka mengaku beragama Hindu, masyarakat Tenganan tidak menge-nal sistem kasta serta upacara Ngaben sebagaimana lazimnya dilakukan di Bali. Mereka menyebut aga-manya Hindu Indra. Sapi dianggapnya sebagai binatang suci, kendaraan Dewa Siwa. Mereka bahkan mempunyai upacara ritual mengurbankan puluhan ekor sapi pada satu pesta keagamaan.

Kehidupan masyarakat Tenganan tak terlepas dari berbagai upacara tradisi dan keagamaan yang terus dijaga kelestariannya. Hampir setiap bulan, minggu bahkan setiap hari ada saja upacara yang berlangsung di desa ini. Dari upacara kecil yang berlangsung di keluarga seperti upacara potong gigi, sampai upacara- upacara besar yang harus diikuti seluruh warga ma-syarakat Tenganan, seperti upacara Ngusaba Sambal).

Masyarakat Tenganan mengenal sejumlah upacari inisiasi yang harus dilakukan setiap kali seseorang memasuki tahap tertentu dalam kehidupannya. Sejak lahir hingga mati, seorang Tenganan harus melal» lebih kurang 10 macam upacara, termasuk perk# winan dan kematian. Seorang anak yang menanjak remaja sekitar 14 tahun harus mengikuti upacara ajakan. Dan sebelum dianggap sebagai teruna atau pemuda, mereka harus mengikuti semacam “penfr dikan” khusus yang disebut meteruna nyoman. Dalam masa pendidikan ini calon pemuda selama setahtffl penuh diharuskan tinggal di asrama.

diberi pendidikan dan pengetahuan tentang adat-istiadat desa serta berbagai macam upacara adat dan keagamaan.

Perkawinan di Tenganan menganut sistem perkawinan endogami atau perkawinan antarkeluarga desa. Kalau ada yang melanggar, maka pelanggar harus mendapat sanksi adat yang cukup berat, antara lain kehilangan hak waris, membayar denda, bahkan diusir dari desa Tenganan.

Masyarakat Tenganan seolah hidup hanya untuk adat dan agamanya. Karena banyaknya upacara yang harus dilakukan tersebut, mereka nyaris tak mempunyai wai J untuk mengurus pekerjaan lainnya, termasuk menggarap sawah ladangnya. Kekayaan desa dari tanah perkebunan dan pertanian yang ratusan hektar umumnya digarap oleh warga masyarakat desa se-kitarnya. Hasilnya antara lain merupakan sumber dana bagi berbagai pesta upacara tradisi dan keagamaan yang dilakukan.

Dalam desa adat berpenduduk sekitar 517 jiwa ini, terdapat dua sistem pemerintahan. Secara adat peme-rintahan kolektif yang dipimpin oleh enam kelihan desa adat. Sedangkan secara pemerintah biasa dipimpin oleh kepala desa (lurah).

Pertambahan penduduk desa ini sangat kecil. Pada tahun 1875 penduduknya berjumlah 402 jiwa, dan tahun-tahun berikutnya pertambahannya sangat sedikit. Kini penduduk Tenganan berjumlah 517 jiwa.

Penanganan lingkungan yang dilakukan secara alamiah oleh,masyarakat Tenganan membuahkan Piala Kalpataru pada tahun 1989. Desa ini memiliki sekitar 197 hektar hutan lindung yang hijau; 529 hektar tanah pertanian milik penduduk yang digarap penuh aturan; 839 hektar tanah pertanian kolektif yang dikelola dengan pertimbangan-pertimbangan pelestarian lingkungan. Penanganan pelestarian lingkungan di Tenganan telah menjadi tradisi dan mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya. Semua peraturan adat, termasuk peraturan di bidang pertanian, secara jelas dan tegas termuat dalam awig-awig atau perundang-undangan adat yang harus dipatuhi, dan telah berakar ratusan tahun.

Advertisement