PENGERTIAN TEORI ANIMISME ADALAH – Lebih dari tokoh-tokoh antropologi lainnya, Tylor menekankan pentingnva unsur `jiwa’ dalam mendefinisikan agama dan dalam memahami tahap-tahap evolusi yang dilalui oleh gejala agama. Baginya, keyakinan adanya jiwa—animisme—merupakan definisi minimum dari agama.

Uraian singkat ini mungkin tidak begitu jelas menunjukkan posisi evolusioner dari Tylor, tetapi jelas bahwa ia sangat menaruh perhatian pada asal usul dan perkembangan agama. Pertama, ia merasa terusik dengan pertanyaan bagaimana manusia pada mulanya menciptakan konsep jiwa, dan menemukan jawabannya pada upaya manusia untuk menafsirkan mimpi, halusinasi, dan fenomena psikis lainnya. Ia mengatakan bahwa gagasan mengenai jiwa tidak hanya universal, tetapi juga konsisten dengan teorinya tentang mimpi. Sejalan dengan itu, ia juga mempelajari asal usul pengurbanan manusia (human sacrifice). Bahwasanya pengurbanan itu adalah suatu jalan membebaskan jiwa dari jasad dan menyatukannya dengan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Maka masuk akal apabila manusia pertama itu kemudian memperluas gagasan mengenai jiwa,itu menjadi berlaku pula bagi hewan dan tumbuh-tumbuhan, karena makhluk itu juga hidup dan mati, bisa sehat dan bisa pula sakit. Rangkaian logis kemudian adalah gagasan ini juga berlaku bagi konsep pengurbanan hewan, di mana roh hewan tadi ditugaskan untuk membantu orang yang sudah meninggal di alam sana; tetapi logika ini tidak berlaku untuk tumbuh-tumbuhan karena tidak dikenal pengurbanan tumbuh-tumbuhan demi membantu roh orang vang sudah meninggal. Selanjutnya, Tylor mengembangkan analogi bahwa manusia pertama dulu memperluas tentang jiwa atau roh itu meliputi pula batu-batuan, senjata, makanan, ornamen-ornamen, dan objek-objek lainnya (lihat Lessa dan Vogt, 1979).

Tylor memperluas teorinya yang asli mengenai roh (jiwa) menjadi doktrin tentang jiwa yang lebih luas, yakni teori animistik tentang alam; perkembangan pandangan bahwa makhluk halus adalah penyebab personal dari fenomena dunia; asal usul roh penjaga dan roh alam; asal usul politeisme; dan akhirnya, perkembangan gagasan monoteisme sebagai kelengkapan dari sistem politeistis dan akibat dari filosofi animistik.

Teori Tylor mengenai asal usul roh atau jiwa itu mendapat kritik tajam dari ahli lain. Salah satu kritik adalah persoalan penjelasan intelektual, dan bahwasanya kebutuhan rasio untuk menjelaskan gejala fisio-logis dari keadaan psikis yang luar biasa seperti mimpi tidak hanya tak ada kaitannya dengan manusia primitif, tetapi juga gagal menghasilkan kualitas emosional yang dibutuhkan bagi suatu agama. Itulah sebabnya sebagian ahli teori mengganti kriteria supranaturalisme untuk animisme itu menjadi syarat minimum bagi suatu agama.

Filed under : Bikers Pintar,