PENGERTIAN TEORI BECK MENGENAI DEPRESI – Teori kontemporer terpenting yang menganggap proses-proses berpikir sebagai faktor penyebab depresi adalah teori Aaron Beck (1967, 1987). Pemikiran sentralnya adalah bahwa orang-orang yang depresi memiliki perasaan seperti demikian karena pemikiran mereka menyimpang dalam bentuk interpretasi negatif. Menurut Beck, pada masa kanak-kanak dan remaja orang-orang yang depresi mengembangkan skema negatif—suatu kecenderungan untuk melihat lingkungan secara negatif—melalui kehilangan orang tua, tragedi yang terjadi susul-me-nyusul. penolakan sosial oleh teman-teman sebaya, kritik para guru, atau si-6p depresif orang tua. (Pembahasan mengenai depresi pada anak-anak akan menunjukkan bahwa terbentuknya skemata negatif pada usia dini kadang dapat memicu depresi sebelum masa dewasa). Setiap orang memiliki berbagai jenis skemata; kita mengatur kehidupan kita dengan menggunakan rangkaian persepsi atau paradigma mini tersebut. Skemata negatif pada orang-orang yang depresi teraktivasi ketika mereka menghadapi berbagai situasi baru yang memiliki kemiripan dalam beberapa hal. mungkin hanya sedikit, dengan situasi di mana skemata tersebut dipelajari. Lebih jauh, skemata negatif pada orang-orang yang depresi memicu dan dipicu oleh berbagai penyimpangan kognitif tertentu, yang membuat orang yang bersangkutan menerima realitas secara salah. Dengan demikian, skema yang salah dapat membuat individu yang depresi mengharapkan kegagalan sepanjang waktu, skema yang menyalahkan diri sendiri membebani mereka dengan tanggung jawab atas semua ketidakberuntungan, dan skema yang mengevaluasi diri secara negatif terus-menerus mengingatkan mereka tentang betapa tidak berartinya diri mereka. Skemata negatif, bersama dengan penyimpangan kognisi, membentuk apa yang disebut oleh Beck sebagai negative triad: pandangan yang sangat negatif tentang diri sendiri, Dunia, dan masa depan. “Dunia” dalam triad depresif dari Beck hngk un gan . Hal ini sangat pribadi—”Saya ndak mungkin dapat menghadapi ber-bagai tuntutan dan tanggung jawab tersebut.” Ini bukanlah kekhawatiran inengenai berbagai peristiwa global yang tidak berdampak langsung pada diri seseorang—contohnya, “Dunia telah berzeser ke selatan sejak Liga Amerika menetapkan peraturan tentang pemukul bola yang telah dirancang sebelumnya”.

Daftar berikut ini menjelaskan beberapa penyimpangan kognitif utama pada individu yang depresi menurut Beck. Ditolak oleh teman-teman sebaya dapat memicu terbentuknya skema negatif yang menurut teori Beck berperan penting dalam depresi.
• Kesimpulan yang subjektif (arbitrary inference)—suatu kesimpulan yang diambil tanpa bukti-bukti cukup atau tanpa bukti sama sekali. Contohnya, seorang laki-laki menyimpulkan bahwa ia tidak berguna karena hujan turun ketika ia menga&kan pesta kebun.
• Abstraksi selektif (selective abstraction)—suatu kesimpulan yang diambil hanya berdasarkan satu elemen dari banyak elemen dalam suatu situasi. Seorang pekerja merasa tidak berguna ketika suatu produk gagal berfungsi meskipun ia hanya salah satu dari sekian banyak orang yang berperan dalam produksinya.
• Overgeneralisasi—suatu kesimpulan menyeluruh yang diambil berdasarkan satu peristiwa tunggal yang mungkin tidak penting. Seorang mahasiswa menganggap prestasinya yang buruk dalam satu mata kuliah pada suatu hari sebagai bukti final atas ketidakbergunaan dirinya dan kebodohannya.
• Magnifikasi dan minimisasi—melebih-lebihkan dalam menilai kinerja. Seorang laki-laki, yakin bahwa ia telah sepenuhnya merusakkan mobilnya (magnifikasi) ketika ia melihat goresan kecil di bamper belakang, menganggap dirinya tidak mampu dalam hal apa pun; seorang perempuan yakin dirinya tidak berguna (minimisasi) terlepas dari berbagai prestasi yang pantas dipuji yang terusmenerus dicapainya.
Penting untuk memahami inti teori Beck yang berpengaruh. Banyak teoris memandang manusia sebagai korban dari berbagai hasrat mereka, makhluk yang kapasitas intelektualnya hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak memiliki kendali atas perasaannya—ini merupakan pemikiran mendasar Freud. Dalam teori Beck hubungan sebab-akibat bekerja secara berlawanan. Reaksi emosional kita terutama dianggap sebagai suatu fungsi dari bagaimana kita menginterpretasi dunia kita. Interpretasi individu yang depresi tidak sama dengan cara sebagian besar orang memandang dunia. Beck menganggap orang-orang semacam itu sebagai korban dari penilaian mereka sendiri yang tidak logis.

Evaluasi Kita harus mempertimbangkan dua isu dalam mengevaluasi teori Beck. Pertama, apakah pasien depresi, berbeda dengan individu yang tidak depresi, berpikir secara negatif seperti dikatakan Beck. Poin ini pada awalnya dikonfirmasi oleh pengamatan klinis oleh Beck (Beck, 1967). Mungkin tantangan terbesar untuk teori-teori kognitif tentang depresi adalah menyelesaikan isu kedua—apakah keyakinan negatif orang-orang yang depresi timbul karena depresi yang dialami atau pada faktanya menyebabkan mood depresi. Banyak studi dalam psikologi eksperimental menunjukkan bahwa mood seseorang dapat dipengaruhi oleh caranya menginterpretasi berbagai peristiwa. Namun, memanipulasi emosi juga ditunjukkan dapat mengubah pola pikir (a.1., Fredrickson, 1998). Beck dan beberapa peneliti lain menemukan bahwa depresi dan beberapa pola pikir tertentu memiliki korelasi, namun hubungan sebab akibat yang spesifik tidak dapa: ditemukan dari data semacam itu; depresi dapat menyebabkan pola pikir negatif atau pola pikir negatif dapat menyebabkan depresi. Dalam semua kemungkinan hubungan tersebut dapat berfungsi dua arah; depresi dapat membuat pola pikir semakin negatif, dan pola pikir negatif mungkin dapat menyebabkan dan secara pasti memperparah depresi. Pada tahun-tahun terakhir Beck sendiri telah menempatkan dirinya lebih pada posisi bidireksional ini. Salah satu cara untuk mengetahui apakah pola pikir negatif menyebabkar. depresi adalah meneliti pola pikir dan depresi secara prospektif, seiring berjalannya waktu.

Berbagai studi seperti itu memberikan hasil yang bervariasi. Stader dar. Hokanson (1998) memantau sampel yang mencakup sejumlah orang selama 45 hari, mengumpulkan hasil-hasil pengukuran mood dan kognisi setiap hari. Beberapa episode depresi ringan teridentifikasi, dan para peneliti kemudian mencari tahu apakah episode tersebut didahului dengan peningkatan kognisi negatif. Meskipun peningkatan stres interpersonal dan ketergantungan memang terjadi sebelum episode depresi, namun tidak demikian dengan kognisi negatif. Secara kontras, berbagai studi longitudinal lain menemukan bahwa pola pikir negatif mendahultu terjadinya simtom-simtom depresi. Sebagai contoh, dalam salah satu studi, kognisi dan mood para mahasiswa diukur sebelum ujian tengah semester, kemudian mood mereka diukur setelah ujian berakhir. Instrumen yang digunakan adalah skali self-report yang paling banyak digunakan dalam berbagai studi mengenai teori Beck. yaitu Dysfunctional Attitudes Scale (DAS). Para mahasiswa yang memiliki skor DAS tinggi dan juga memperoleh hasil buruk dalam ujian menunjukkan peningkatan simtom-simtom depresif. Para mahasiswa yang memiliki skor DAS tinggi, namun memperoleh hasil yang baik dalam ujian tidak menunjukkan peningkatan: yang sama dalam simtom-simtom depresif (Joiner dkk., 1999). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pola pikir negatif bersama dengan peristiwa negatif dapat menyebabkan timbulnya simtom-simtom depresif. Secara sama, Lewinsohn dan para koleganya (2001) menemukan bahwa sikap yang disfungsional bersama dengan sejumlah besar peristiwa hidup yang negatif memprediksi timbulnya depresi pada masa remaja. Baru-baru ini, para peneliti mengakui bahwa DAS bersifat multidimensional, mengandung subskala yang mengukur berbagai bidang sikap disfungsional, contohnyi kebutuhan yang tinggi untuk mengesankan orang lain dan keinginan untuk menjadi sempurna (Brown dkk., 1995). Komponen pola pikir disfungsional yang lebih spesifik tersebut dapat lebih berhasil memprediksi timbulnya depresi setelah merelu menghadapi stresor yang spesifik bagi mereka, contohnya, kegagalan diri yant dialami seseorang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk sempurna.

Filed under : Bikers Pintar,