PENGERTIAN TEORI DEMOGRAFI – Banyak di antara ahli yang mempelajari transisi feodalisme menuju kapitalisme menekankan peranan faktor demografi sebagai penyebab krisis, yang kemudian berakhir dengan runtuhnya sistem feodal (Postan, 1972; P.Anderson,1974a ;197-199; Le Roy Ladurie,1974). Secara umum, argumenargumen para ilmuwan ini kira-kira adalah sebagaiberikut ; Sepanjang abadxii dan xiii, populasi penduduk mengalami pertumbuhan pesat di Eropa Barat dan mulai menjadi masalah yang mendasar. Begitu kepadatan penduduk meningkat dan hasil panen menurun, maka pembukaan lahan baru untuk pertanian dan pemukiman semakin meningkat. Menjelang akhir abad xiii, terj adilah krisis ledakan penduduk. Kelaparan menjadi semakin sering terjadi. Akan tetapi krisis ledakan penduduk mengobati dirinya sendiri; dimulai pada awal abad xiv, populasi penduduk mulai menurun karena bencana kelaparan hebat yang menyebabkan kekurangan gizi, penyakit, dan akhirnya kematian. Menjelang pertengahan abad xiv, tepatnya tahun 1348-1350, wabah penyakit Maut Hitam (Black Death) melanda Eropa dan mempercepat penurunan populasi penduduk. Wabah tersebut kembali lagi menyerang di banyak bagian Eropa sepanjang pertengahan kedua abad xiv dan awal abad xv. Populasi penduduk terus menurun sampai kira-kira tahun 1450, sesudah itu baru mulai naik lagi. Jadi Eropa Barat mengalami penurunan populasi penduduk yang besar dalam periode 150 tahun.

Penurunan populasi penduduk ini mempunyai konsekuensi yang hebat bagi ekonomi feodal. Begitu populasi penduduk menurun, tuan tanah dihadapkan pada kenyataan semakin sedikitnya petani, yang akhirnya membuat mereka kekurangan tenaga kerja. Hal ini membuat kejatuhan ekonomi feodal dan menimbulkan respon yang dramatis dari bangsawan untuk mencegah penurunan pendapatan mereka lebih jauh lagi. Penurunan pendapatan kaum feodal merupakan inti dari “krisis feodalisme”. Pada waktu itu, tuan tanah mengatasi kesulitan ekonomi mereka dengan dua cara: Menyewakan tanah untuk diolah sebagai pertanian kapitalis atau memagari tanah untuk penggembalaan biri-biri. Sebagaimana dikomentari oleh Michael Postan (1972 ; 105): “Penyewaan tanah tersebut sekarang menjadi salah satu cara untuk mencegah menurunnya keuntungan”. Interpretasi demografis tampaknya menunjuk pada segi internal paling penting dari feodalisme yang memberinya sifat dinamis. Akan tetapi, masih tersisa dua pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, jika perubahan demografis merupakan sebab utama krisis feodal, mengapa krisis tersebut berubah sedemikian rupa , sebagaimana yang terjadi pada saat itu ? (Mann, 1986). Dengan kata lain, mengapa tuan tanah mengatasi berkurangnya keuntungan ekonomi mereka dengan cara mengubah sistem ekonomi, bukannya dengan cara meningkatkan penindasan dan eksploitasi terhadap kaum petani ? Kedua, mengapa tipe sistem ekonomi baru yang ditimbulkan bangsawan feodal adalah sistem kapitalis ?

Menjawab pertanyaan pertama, kita perlu menyadari bahwa bangsa-wan feodal sebenarnya telah meningkatkan penindasan dan eksploitasi terhadap kaum petani, seperti dikemukakan Dobb. Tetapi, seperti ditunjukkan Michael Mann (1986), penindasan dan eksploitasi kaum petani hanya memberikan penyelesaian yang bersifat sementara pada masalah ekonomi mereka. Artinya, para bangsawan mulai melihat bahwa lebih mudah memperbaiki ekonomi mereka dengan cara mengubahnya ke arah sistem produksi yang lebih kapitalis. Dan mengapa cara itu merupakan cara penyelesaian yang lebih mudah ? Seperti dikemukakan Mann, pengubahan itu merupakan p enyeles aian yang lebih mudah karena peningkatan kehadiran ekonomi pasar semakin hebat. Kehadiran itu ditimbulkan oleh peningkatan peranan perdagangan jarakjauh antara Eropa dan Asia. Pandangan ini mengingatkan kita pada teori Sweezy dan para teoritisi sistem dunia, tetapi dalam konteks yang lebih mengarah kepada evolusi internal sistem feodal. Dengan kata lain, kita bisa berkata bahwa transisi dari feodalisme menuju kapitalisme ditimbulkan oleh dua kekuatan besar, yaitu krisis internal feodalisme yang disebabkan oleh keguncangan demografis, dan meningkatnya keterlibatan Eropa dalam ekonomi yang berorientasi pasar yang mengikutsertakan Asia.

Untuk menjelaskan mengapa sistem feodalisme beralih menjadi sistem kapitalisme harus ada kesepakatan bahwa jawaban tersebut harus berhubungan dengan karakter politik feodalisme (bandingkan Wallerstein, 1974a; Mann,1986; Chirot, 1986). Tidak seperti peradaban agraris yang lain, feodalis-me ini terdesentralisasi secara politik. Peradaban lain, seperti Cina dan India, didominasi oleh birokrasi negara. Dalam peradaban ini sedikit sekali dijumpai adanya insentif bagi usaha pribadi yang kita asosiasikan dengan kapitalisme, karena negara begitu kuat, sehingga usaha-usaha untuk menaikkan peranan usaha pribadi akan ditumpas sedini mungkin. Feodalisme Eropa tidak mempunyai negara yang kuat seperti itu, dan karenanya lingkungan politiknya sangat memungkinkan untuk inovasi individu.

1. Ekonomi feodal Eropa Barat adalah sebuah ekonomi produksi-untuk-dipakai yang diorganisasi di sekitar manor. Tuan tanah menundukkan kaum petani sebagai pencari nafkah untuk mereka, dan pembayar pajak, penyewa danpemberi tenaga untuk melayani tuan tanah. Produksi-untuk-dijual hanya sedikit berperan dalam kehidupan ekonomi. Meskipun kota-kota dan perdagangan telah ada, namun tidak begitu berpengaruh pada kehidupan ekonomi feodal.

2.Akhirnya sistem feodal digantikan oleh pola produksi kapitalis. Sistem kapitalis yang menjual komoditi untuk keuntungan maksimal merupakan inti kehidupan ekonomi. Marx dan banyak kaum Marxis lain memandang kapitalisme dengan berdasarkan pada hubungan upah buruh dan perkembangan revolusi industri pada akhir abad xviii. Mereka membedakan kapitalisme industri (kapitalisme “sejati”, kata Marx) dan sebuah tipe yang dikenal sebagai kapitalisme perdagangan yang ada antara abad xvi dan xviii. Kaum Marxis lain menolak pembedaan antara kapitalisme industri dan kapitalisme perdagangan, dan menganggap abad xvi sebagai asal mula kapitalisme.

3. Usaha untuk menginterpretasikan perkembangan historis kapitalisme dilaku-kan oleh Wallerstein. Wallerstein memandang kapitalisme sebagai suatu sistem-dunia yang mempunyai pembagian kerja yang kompleks secara geografis. Sistem-dunia ini secara geografis terus meluas selama ratusan tahun dan sekarang hampir menjangkau seluruh dunia.

4. Wallerstein membagi sistem dunia kapitalis menjadi bagian pusat, pinggiran dan semi-pinggiran. Negara pusat, secara politis dan ekonomis adalah dominan dan pengambil surplus besar-besaran dari negara pinggiran yang mereka ciptakan untuk dieksploitasi. Negara pusat merupakan negara paling maju dalam ekonomi dan teknologi. Negara-negara pinggiran mempunyai fungsi historis dalam ekonomi dunia sebagai penghasil bahan baku, yang dibutuhkan negara pusat. Negara semi-pinggiran secara ekonomi terletak di antara negara pusat dan negara pinggiran, dan mempunyai karakteristik campuran negara pusat dan pinggiran.

5. Menurut Wallerstein kapitalisme bermula pada abad xvi dengan munculnya Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan Eropa yang melakukan kolonialisme. Ketika kekuatan mereka menurun, kedudukannya digantikan Belanda, Inggris dan Perancis. Negara-negara tersebut mendominasi sistem dunia menjelang abad xvii. Negara pinggiran pada waktu itu adalah Iberian Amerilsra dan Eropa Timur. Semi-pinggirannya adalah Eropa Tengah.

Filed under : Bikers Pintar,