PENGERTIAN TEORI EVOLUSIONER-FUNGSIONALIS – Beberapa teori perkembangan stratifikasi telah dikemukakan oleh ilmuwan sosial pada halaman terdahulu. Teori yang paling terkenal tentang stratifikasi adalah teori evolusioner-fungsionalis Talcott Parsons (1966, 1977). Parsons menganggap bahwa evolusi sosial secara umum terjadi karena sifat kecenderungan masyarakat untuk berkembang, yang disebutnya sebagai “kapasitas adaptif”. Kapasitas Adaptif adalah kemampuan masyarakat untuk merespon lingkungan dan mengatasi berbagai masalah yang selalu dihadapi manusia sebagai makhluk sosial. Masyarakat telah berevolusi berabad-abad, menurut Parsons, melalui kapasitas adaptif yang makin tinggi. Jadi, masyarakat kontemporer memiliki kapasitas adaptifnya yang semakin efisien dibanding masa sebelumnya. Parsons beranggapan bahwa timbulnya stratifikasi sebagai aspek penting dari evolusi akibat meningkatnya kapasitas adaptif dalam kehidupan sosial. Bagi Parsons, “dobrakan evolusioner” (evolutionary breakthrought) lah yang membuat banyak bentuk-bentuk kemajuan sosial.

Stratifikasi berperan penting bagi Parsons, karena mengakibatkan inasyarakat dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan mereka. Jika tiap orang diperlakukan sama dan mempunyai kesamaan derajat, maka peran kepemimpinan yang diperlukan suatu masyarakat untuk mengatasi tantangan dan pertnasalahan dalam kehidupan sosial tidak terjadi. Dengan adanya stratifikasi, maka individu akan melakukan peran kepemimpinan. Sebab dengan melakukannya ia akan mendapat ganjaran berupa hak istimewa dan prestise. Dengan demikian, stratifikasi menjadi alat yang diperlukan untuk memusat-kan aktivitasnya dengan tujuan memecahkan masalah dan menghadapi tantangan. Makin besar masalah dan tantangan yang dihadapi, makin besar kebutuhan akan stratifikasi.

Namun, interpretasi tentang stratifikasi ini menimbulkan banyak kesulitan. Pertama, konsep Parsons tentang kapasitas adaptif sangat diragukan. Parsons berpendapat bahwa semakin kontemporer dan kompleks masyarakat, semakin unggul efektivitasOrganisasinya dibandingkan masyarakat terdahulu. Pendapat ini berbau etnosentrisme. Padahal semakin kontemporer suatu masyarakat, maka mekanisme adaptifnya juga berbeda (yakni, infrastruktur, struktur dan suprastruktur yang berbeda) dari masyarakat terdahulu. Banyak sosiolog menemukan bahwa bukti empirik yang tidak mendukung argumen bahwa mekanisme tersebut lebih unggul. Parsons terjebak dalam etnosentrisme yang juga dialami oleh ahli abad xix lainnya. Kedua, Parsons tidak melihat sisi negatif dari stratifikasi sosial yang mungkin berpengaruh. Parsons juga tidak memperhatikan penindasan, eks-ploitasi dan penderitaan yang dialami oleh kelas bawah. Begitu juga dengan akibat stratifikasi yang lain, yakni makin tingginya tingkat konflik dalam kehidupan sosial. Adalah sulit untuk melihat fenomena ini sebagai “mening-katnya kemampuan/kapabilitas adaptif”.

Filed under : Bikers Pintar,