PENGERTIAN TEORI FUNGSIONALIS

31 views

PENGERTIAN TEORI FUNGSIONALIS – Teori fungsionalis tentang stratifikasi diajukan oleh sosiolog Kingsley Davis dengan perkecualian bahwa Davis dan Moore memusatkan perhatian kepada masya-rakat modern. Argumentasi mereka adalah bahwa stratifikasi timbul dari kebutuhan fungsional dasar untuk terciptanya tatanan kehidupan sosial, sehingga stratifikasi sangat penting dan mutlak dalam kehidupan bermasyarakat.

Davis dan Moore berpendapat, untuk hidup dan berfungsi secara efektif, semua masyarakat menghadapi masalah dasar dalam mendorong anggota masyarakat untuk menempati posisi sosial yang “penting fungsional”. Mereka percaya bahwa sebuah sistem stratifikasi —sebuah sistem dengan imbalan yang tidak sama— adalah mekanisme untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Dengan demikian stratifikasi merupakan sistem insentif, sebagai alat untuk memotivasi orang agar mengemban tanggungjawab sosial. Bagi mereka yang berbakat dan mau bekerja keras, berkorban, dengan tujuan mencapai jabatan penting, imbalan yang tinggi akan diperolehnya. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mempunyai motivasi dan tidak terampil akan mempunyai peran yang kecil dengan imbalan yang kecil pula.

Davis dan Moore berpendapat bahwa tingkatan posisi sosial (yaitu tingkat imbalan yang diterima) pada setiap masyarakat ditentukan oleh dua faktor. Salah satunya adalah sebuah posisi yang disebut sebagai “kepentingan fungsional”, sebuah konsep yang penting dalam argumentasi mereka. Mereka beranggapan tidak semua posisi sosial “penting” untuk berfungsinya sistem sosial. Suatu posisi lebih penting dari posisi lainnya sehingga ia dapat melang-sungkan kehidupan bermasyarakat. Faktor kedua, yang berhubungan dengan posisi-posisi tersebut adalah kelangkaan personal yang siap untuk mengisi posisi dimaksud. Dan biasanya, orang yang mempunyai kemampuan tertentu mendapat status yang tinggi. Kelangkaan akan personal yang sesuai dapat diakibatkan karena kurangnya pengembangan bakat atau juga tuntutan syarat-syarat suatu jabatan yang terlalu tinggi. Dalam hal yang terakhir ini, Davis dan Moore memberi contohbahwa melakukan pengobatan dalam masa modern ini merupakan kemampuan tiap orang, tetapi untuk karir dalam bidang pengobatan sangat banyak tuntutannya, sehingga banyak orang enggan untuk menjalaninya. Dengan memberikan imbalan yang tinggi maka akan banyak yang tertarik sehingga kelangkaan orang yang berkualitas dapat ditanggulangi. Tetapi teori Davis dan Moore banyak dikritik dan diperdebatkan (Tumin, 1953; Huaco, 1963; Anderson dan Gibson, 1978; Chambliss dan Ryther, 1975). Hal yang paling seru diperdebatkan adalah konsep “kepentingan fungsional” dalam teori tersebut. Seperti misalnya, apa alasannya bahwa seorang insinyur pada sebuah pabrik dianggap lebih penting daripada pekerja kasar lainnya (Tumin, 1953)? Adalah jelas bahwa keduanya melakukan peran yang penting dalam pabrik, sehingga konsep tersebut menjadi tidak jelas. Dari logika Davis an Moore, tukang sampah menduduki tingkat rendah dalam posisi kepen, gan fungsional karena ia menerima imbalan yang rendah dan dianggap rendah. Namun, tanpa tukang sampah, masalah sanitasi dan kesehatan akan berkembang seperti yang telah terjadi di New York dan Paris tahun 1960-an, Banyak posisi-posisi sosial lainnya, yang menerima imbalan yang rendah, mempunyai posisi kepentingan fungsional dalam masyarakat. Ini mengakib atkan konsep kepentingan fungsional sulit diterapkan. Banyak kritik lain terhadap konsep ini (Tumin, 1953). Misalnya, asumsi Davis dan Moore bahwa sisem stratifikasi menghasilkan pemanfaatan bakat masyarakat secara efisien adalah tidak jelas: semakin kaku sebuah sistem stratifikasi, semakin kurang masyarakat dapat mengetahui sampai sebaik apa bakatnya, jika imbalan sosial ditentukan oleh faktor turun-temurun daripada suatu perjuangan dan kerja keras. Lebih jauh lagi, stratifikasi tidak hanya mempersulit masyarakat untuk mengetahuibakat-bakatnya, tetapi juga menghalangi pengembangan bakat.

Disamping itu, imbalan selain hak istimewa ekonomi dan prestise dapat menjadi motivator yang efektif bagi seseorang. Sebagai contohnya, imbalan tersebut dapat berupa “kesenangan dalam bekerja” dan “tugas sosial” dapat menjadi insentif penting bagi orang untuk menjalankan peranan sosial yang penting (Tumin, 1953). Akhirnya, sistem stratifikasi jelas mempunyai akibatakibat negatif. Contohnya, stratifikasi dapat menimbulkan citra diri yang disukai dan tidak disukai; ia mendorong timbulnya permusuhan, rasa curiga, dan tidak percaya di antara individu dan menimbulkan rasa tidak sama antar individu dalam masyarakat (Tumin, 1953). Jadi, teori fungsionalis tampaknya tidak memadai untuk menerangkan stratifikasi dalam masyarakat industri. Sebenarnya, beberapa sosiolog menganggap ia adalah justifikasi ideologis dan rasionalisasi atas ketidaksamaan sosial dan ekonomi yang terjadi (Anderson dan Gibson, 1978, Rossides, 1976). Jika demikian teori apa yang dapat menganalisis sistem stratifikasi masyarakat industrial?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *