PENGERTIAN TEORI KETERGANTUNGAN KE TEORI SISTEM DUNIA – Walau lebih unggul dari teori modernisasi di dalam menjelaskan pola-pola ketergantungan yang lama dan yang baru, namun teori ketergantungan mempunyai kelemahan yang cukup mencolok. Pada tahun 1970an kelemahan ini dibahas bahkan oleh para pendukung utama pendekatan itu sendiri, dan sekarang teori keterbelakangan dianggap sebagai suatu perspektif yang cacat, walau masih sangat bermanfaat. Dari sanggahan-sanggahan yang telah muncul, yang paling penting adalah sebagai berikut (Roxborough, 1979; Hoogvelt, 1982; Leys, 1982; Blomstrom dan Hettne, 1984):

1. Walaupun banyak kritik terhadap kegagalan teori modernisasi dalam menempatkan masyarakat-masyarakat terbelakang sekarang dalam konteks historis mereka, dalam satu hal tertentu teori ketergantungan juga ahistoris. Sementara teori inimemberi perhatian istimewa terhadap hubungan historis masyarakat terbelakang dengan pusat kapitalis, ia cenderung mengabaikan sejarah pra-kapitalis dari masyarakat-masyarakat tersebut. Sejarah ini sangat penting, karena ia mengantarkan suatu masyarakat pra-kapitalis terlibat dalam sistem kapitalis dan memberi pengaruh akibat keterlibatan itu (Chase-Dunn, 1989a, Lenski dan Nolan, 1984).

2. Teori ketergantungan cenderung terlalu merampakkan negara-negara

terbelakang kontemporer. Teori ini berasumsi bahwa status ketergart-tungan mereka menunjukkan bahwa mereka semua mirip satu sama lain. Sedangkan perbedaan-perbedaan penting masih ada di antara negara-negara tersebut terutama dalam struktur kelas, sistem politik, ukuran geografis dan demografis; dan perbedaan-perbedaan ini memainkan peran dalam mengarahkan tingkat perkembangan suatu negara dan prospek perkembangannya di masa depan. Dengan kata lain, teori ketergantungan terlalu memperhatikan hubungan eksternal antara suatu masyarakat terbelakang dan pusat kapitalis, dan kurang memperhatikan karakteristik internal negara-negara tersebut.

3. Teori ketergantungan terlalu pesimistik dengan mempercayai bahwa

ketergantungan ekonomi tidak memungkinkan kemajuan ekonomi, hal ini bertentangan denganpercobaanbanyaknegara pada dekade terakhir ini. Misalnya, Brazil mengalami pertumbuhan ekonomi secara substansial antara pertengahan 1960an hingga pertengahan 1970an, dan negaranegara Asia Timur seperti Taiwan dan Korea Selatan telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sejak tahun 1950an.

4. Rekomendasi kebijakan yang utama dari teori ketergantungan untuk

negara-negara terbelakang — membongkar sistem kapitalis dengan revolusi sosialis — hasilnya terlalu kecil, mayoritas terbesar dalam dekade-dekade terakhir telah gagal untuk mengadakan kemajuan-kemajuan yang nyata; sesungguhnya hasil yang mereka capai lebih rendah dari negara-negara yang masih kapitalis.

Kritik-kritik ini cukup kuat, tapi perlu dipahami bahwa kritik-kritik ini lebih ditujukan kepada beberapa penganut teori ketergantungan daripada kepada seluruh teori itu sendiri. Adalah penting untuk membedakan teori ketergantunganmenjadi dua macam (Bornschier dan Chase-Dunn, 1985) yakni teori ketergantungan yang “keras” dan “lemah”.

Versi keras teori ketergantungan dikaitkan dengan Frank dan Amin seperti yang telah diuraikan di muka. Versi ini melihat ketergantungan ekonomi selalu menghasilkan perkembangan ke arah keterbelakangan, dan karena itu menuntut kemajuan adalah mustahil (atau paling tidak akan menjadi sangat suli t), sehingga tak akan ada perubahan. Versi yang lentah terutama dikaitkan dengan Henrique Cardoso (1982, Cardoso dan Faletto, 1979) dan eter Evans (1979, lihat Bornschier dan Chase-Dunn, 1985). Versi ini tidak menganggap bahwa ketergantungan harus selalu mengarah pada keterbelakangan. Dalam beberapa keadaan akan terjadi yang oleh Cardoso disebut “perkembangan ketergantungan terkait”, atau lebih sederhana “perkembangan ketergantungan”. Hal ini merupakan sebuah tipe pertumbuhan ekonomi yang semula terjadi sebagai akibat dari investasi perusahaan-perusahaan multinasional ke dalam industri manufaktur . Teori ketergantungan yang lemahberpendirian bahwa dalam dekade-dekade terakhir suatu bentuk ketergantungan yang baru telah tumbuh berdampingan dengan bentuk yang lama. Bentuk ketergantungan yang lebih rama, atau “klasik”, negara-negara pusat menggunakan negara pinggiran sebagai sumber investasi dalam produksi bahan mentah pertanian dan mineral. Tapi dalam ketergantungan yang baru, investasi terjadi dalam sektor-sektor industri. Dan dalam bentuk ketergantungan semacam ini, menurut versi ini, tidak bertentangan dengan arah kemajuan ekonomi. Adalah jelas bahwa versi teori ketergantungan yang lemah jauh lebih lu wes daripada versi yang keras, dan karena itu jauh lebih bebas dari kritikkritik seperti yang terurai di depan, terutama yang ketiga. Ketergantungan dan kemajuan dapat berjalan bersama. Tapi adalah penting agar ini jangan ditafsirkan berlebihan. Akan nampak jelas bahwa jenis kemajuan yang terjadi di bawah ketergantungan yang baru jauh berbeda dari jenis yang terjadi di negara-negara kapitalis pusat. Satu sisi kemajuan itu tak terlalu rnenyimpang arah, tapi di sisi lain dalam beberapa hal juga tidak terkait den i 1n kemajuan di pusat. Brazil sekarang, yang diambil Cardoso dan Evans sebagai contoh utama dari perkembangan ketergantungan, menggambarkan kedua hal ini. Setelah pertengahan 1960an, Brazil mengalami pertumbuhan ekonomi yang terjadi secara simultan dengan perluasan investasi industri multinasional. Pert-umbuhan ini begitu cepat sehingga banyak pengamat mengatakannya sebagai “keajaiban Brazil” (Skidmore dan Smith, 1989). Tapi sekitar pertengahan 1970an pertumbuhan ini menjadi sangat lambat, dan sekarang benar-benar telah berhenti. GNP perkapita Brazil masih sangat kecil dibandingkan dengan GNP per kapita negara-negara pusat (lihat Tabel 9.1). Selain itu, pertumbuhan ekonomi yang telah terjadi dalam periode ini hanya menguntungkan segelintir penduduk, yang mungkin kurang dari 20 persen. Ketidaksetaraan pendapatan meningkat dengan tajam, dan sekarang terjadi kesenjangan yang lebar antara orang-orang yang bekerja di sektor industri dan jasa modern dengan orangorang yang masih hidup dan bekerja dalam sektor tradisional (Skidmore dan Smith, 1989) (Brazil sekarang telah menjadi salah satu negara dengan distribusi pendapatan yang paling tidak-setara di dunia). Untuk membuat barangbara.ng yang bagus, untuk membiayai perkembangan ketergantungannya, Brazil meminjam sejumlah besar uang dari lembaga keuangan pusat; dan sekarang Brazil telah menjadi penghutang besar yang akan menghambat pertumbuhan ekonominya di masa (lihat World Bank, 1988). Teori sistem-dunia adalah lanjutan dari teori perkembangan ketergantungan. Wallerstein telah menyatakan bahwa keseluruhan sis tem ekonomi kapitalislah yang berkembang, dan bukan masyarakat-masyarakat tertentu. Ia mengakui karakteristik internal masyarakat adalah hal yang amat penting, tapi karakteristik-karakteristik itu hanya akan berperan dalam konteks posisi suatu masyarakat dalam sistem-dunia pada masa tertentu dalam sejarah. Seiring dengan perkembangan sistem-dunia, ada peningkatan polarisasi antara pusat dan pinggiran, dan sulit bagi negara kurang berkembang untuk memperbaiki status mereka. Tapi dalam hubungan historis yang khusus, peluang tercipta bagi negara-negara ini untuk .bergerak maju. Wallerstein (1979b) mengajukan 3 strategi dasar yang dapat dipakai negara-negara ini untuk maju: “merebut kesempatan (seizing the chance)”, “kemajuan karena undangan (development by invitation)”, dan “kemandirian (self reliance)”.

Dalam periode kontraksi ekonomi-dunia, negara-negara pusat mungkin dalam posisi dilemahkan. Jika demikian, negara-negara pinggiran atau semi pinggiran dapat melakukan tindakan agresif untuk memperbaiki status mereka. Inilah strategi merebut peluang. Wallerstein yakin bahwa Rusia memakai strategi ini pada akhir abad xix, dan begitu pula Brazil dan Mexico dalam tahun 1930an. Kemajuan karena undangan, sebaliknya, terj adi dalam periode perluasan ekonomi-dunia. Dalam periode ini “ruang” atau “peluang” tercipta bagi beberapa negara untuk maju karena terjadinya peningkatan permintaan komoditas dalam skala dunia. Negara-negara terbelakang diperlakukan jauh lebih baik oleh negara-negara pusat. Akibatnya, negara-negara terbelakang dapat memanfaatkan hasil keuntungan ekonomi untuk menuju kemajuan. Wallerstein yakin bahwa Skotlandia mengikuti strategi perkembangan ini pada akhir abad xviii. Mungkin contoh yang paling baik pada masa sekarang ialah Taiwan dan Korea Selatan (lihat topik khusus pada akhir bab ini). Meskipun demikian, beberapa negara melihat kesempatan terbaik mereka untuk memajukan perekonomian tergantung pada penarikan diri dari sistem dunia dan penerimaan terhadap beberapa versi sosialisme. Memang strategi demikian sangat berhasil dilakukan oleh Rusia (Uni Soviet), sejak tahun 1917.

Walaupun ada perbedaan antara teori sistem dunia dan teori ketergantungan klasik, jelas bahwa yang pertama adalah versi dari yang terakhir. Wallerstein menekankan apa yang disebutnya “kemungkinan terbatas” bagi transformasi negara-negara terbelakang dalam ekonomi-dunia. Kenyataannya, sebagian besar negara tidak menjadi maju, dan hanya sedikit yang menjadi maju. Mereka bergerak dari posisi pinggiran ke semi pinggiran. Tidak ada satupun negara yang pernah betul-betul bergerak dari pinggiran ke pusat. Dengan adanya kecenderungan sebagian besar negara menjadi mandeg daripada bergerak, dan dengan semakin meningkatnya polarisasi dalam sistem, Wallerstein tidak optimis mengenai nasib negara-negara terbelakang dalam konteks kapitalis. Baginya, penyelesaian yang sesungguhnya untuk masalahmasalah dunia terbelakang ialah penyelesaian jangka panjang: hancurnya dunia kapitalisme dan diganti dengan pemerintahan dunia sosialis.

Filed under : Bikers Pintar,