PENGERTIAN TEORI KETIDAKBERDAYAAN/KEPUTUSASAAN

39 views

PENGERTIAN TEORI KETIDAKBERDAYAAN/KEPUTUSASAAN – Pada bagian ini kita membahas evolusi scbuah teori kognitif tentang depresi yang berpengaruh sebenarnya, tiga teoriyaltu teori ketidakberdayaan yang asli; versi lanjutannya yang lebih kognitif dan ambusional, dan transformasinya menjadi teori keputusasaan. Ketidakberdayaan yang Dipelajari (Learned Helplessness). Premis dasar teori learned kelplessness adalah kepasifan individu dan perasaan tidak mampu bertindak dan mengendalikan hidupnya terbentuk melalui pengalaman yang tidak menyenangkan dan trauma yang tidak berhasil dikendalikan oleh individu, menimbulkan rasa tidak berdaya yang kemudian memicu depresi.

Teori ini bermula sebagai teori pembelajaran mediasional yang diformulasikan untuk menjelaskan perilaku anjing yang mendapat kejutan listrik yang tidak mungkin dihindari. Tidak lama setelah mendapat beberapa kejutan listrik pertama, anjing-anjing tersebut tampak menyerah dan secara pasif menerima stimulasi yang menyakitkan tersebut. Kemudian, setelah kejutan listrik tersebut dapat dihindari, anjing-anjing tersebut tidak memberikan respons menghindar seefisien dan seefektif hewan-hewan dalam kelompok kontrol yang tidak mengalami kejutan listrik yang tidak_darsfft dihindari. Sebagian besar dari mereka berbaring di suatu sudut dan mengerang. Berdasarkan observasi tersebut, Seligman (1974) berpendapat bahwa hewan mengembangkan rasa tidak berdaya ketika dihadapkan pada stimulasi menyakitkan yang tidak dapat dikendalikan. Selanjutnya, rasa tidak berdaya tersebut melemahkan kinerja mereka dalam situasi penuh stres yang dapat dikendalikan.

Berdasarkan penelitian di atas dan penelitian lain mengenai efek stres yang tidak dapat dikendalikan, Seligman menyimpulkan bahwa learned helplessness pada hewan dapat menjadi model bagi sekurang-kurangnya beberapa bentuk tertentu depresi manusia. Seperti halnya pada banyak orang yang depresi, hewan-hewan tersebut tampak pasif ketika menghadapi stres, gagal melakukan tindakan yang memungkinkan mereka menghadapi stres tersebut. Mereka mengalami kesulitan makan atau sulit menghabiskan makanan mereka, dan mengalami penurunan berat badan. Lebih jauh lagi, salah satu cairan kimia neurotransmitter yang berperan dalam depresi, norepinefrin, kadarnya menurun pada hewan-hewan dalam penelitian Seligman. Berbagai penelitian baru-baru ini pada hewan menunjukkan bahwa pemaparan berulang pada lingkungan di mana terdapat kejutan listrik yang tidak dapat dihindari memperpanjang efek ketidakberdayaan, bahkan mungkin hingga waktu yang tidak terbatas (Maier, 2001).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *