PENGERTIAN TEORI KONFLIK WEBER: RANDALL COLLINS ADALAH – Suatu alternatif yang berbeda dengan partikularitas teori aliran Marx dari Bowles dan Gintis yang mempertahankan suatu fokus teoritis konflik ialah argumen aliran neo-Weber dari Randall Collins (1979). Teori Collins disusun sejalan dengan garis-garis konsepsi umum mengenai stratifikasi sosial yang dikembangkan oleh Max Weber. Dalam mengembangkan teorinya, Collins secara khusus menggunakan konsep Weber mengenai kelompok status dan ia melihat kelompok-kelompok status itu sebagai lebih penting daripada kelas dalam pembentukan sistem pendidikan Amerika. Collins percaya bahwa kelompok-kelompok status yang paling penting dalam masyarakat Amerika ialah kelompok-kelompok etnik.

Collins memandang karakter pendidikan Amerika dan ekspansinya yang dramatis sepanjang abad yang lalu adalah terutama sebagai akibat adanya keragama_n etnik yang besar dalam masyarakat Amerika. Keragaman demikian telah menimbulkan perjuangan di kalangan kelompok-kelompok etnik itu tmtuk memperoleh hak-hak istimewa dan prestis. Perjuangan itu bermula terutama dalam akhir abad xix danberlangsung terus sampai abad xx. Collins percaya, pendidikan telah menjadi senjata utama yang digunakan dalam perjuangan demikian itu. Kelompok-kelompok yang dominan meng-gunakan sis tem pendidikan sebagai suatu alat untuk mempertahankan keung-gulan kebudayaan dan ekonomi mereka. Bagimereka pendidikan adalah suatu mekanisme untuk mengalihkan nilai-nilai budaya mereka yang dominan kepada kelompok-kelompok pekerja imigran yang baru, maupun sebagai surnber daya yang hendak digunakan untuk memperkuat keunggulan ekonon-ti mereka. Tetapi kelompok-kelompok di bawahnya juga melihatnya sebagai suatu sumber daya yang dapat mereka gunakan dalam upaya-upaya mereka unt-uk memperbaiki status ekonomi mereka. Pemilikan sejumlah tertentu pendidikan dipandang bagaikan membuat seperangkat surat kepercayaan (credentials) yang akan memberi akses ke posisi-posisi pekerjaan tertentu yang diinginkan. Dengan demikian pendidikan telah menjadi suatu arena utama di manaberbagai kelompok berjuang untuk mencapai sukses ekonomi. Sementa-ra perjuangan-perjuangan itu berlangsung, pendidikan mulai meningkat dalam ukuran dan arti pentingnya.

Akan tetapi, sementara semakin banyak orang yang memperoleh surat kepercayaan pendidikan, surat-surat kepercayaan itu berkurang nilainya. Dengan menarik suatu analogi inflasi moneter, Collins menyebut proses ini sebagai inflasi kredensial. Dalam dunia pendidikan inflasi kredensial itu berarti bahwa jumlah pendidikan yang sama tidak lagi “dapat membeli” apa yang pernah terbeli. Orang harus memperoleh lebih banyak agar dapat tetap sebanding dalam perjuangan memperolehsukses ekonomi. Collins menandaskan bahwa hal ini adalah yang terjadi dalam sistem pendidikan Amerika selama abad yang lampau. Perjuangan untuk memperoleh pendidikan telah menyebabkan inflasi pendidikan yang terus-menerus, yang menyebabkart ekspansi masif sistem pendidikan (dan persyaratan pendidikan untuk inern peroleh pekerjaan) sepanjang waktu. Karena sekarang ini kesarjanaan pergu-ruan tinggi menjadi syarat untuk “membeli” suatu pekerjaan yang tadinya dapat diperoleh dengan diploma sekolah menengah atas pada 30 tahun lampau, maka lebih banyak jumlah pemuda yang masuk perguruan tinggi. Kebanyakan dari mereka masuk bukan karena adanya keinginan tintuk belajar, demikian Collins, tapi karena ingin memperoleh surat kepercayaan yang mereka harapkan akan dapat memberi hasil dalam sukses ekonomi.

Collins juga membuat suatu catatan khusus tentang kenyataan, sementara pendidikan Amerika meluas, bahwa lembaga-lembaga pendidikan dipaksakan tmtuk membuat perubahan besar dalam kurikulum mereka dan dalam karakter keseluruhan mereka agar dapat menarik perhatian peminat massa yang semakin meningkat. Perubahan-perubahan yang paling penting meliputi dituangkannya kurikulum seni liberal yang klasik dan diperkenalkannya sejumlah kegiatan ekstra-kurikuler. Transformasi sekolah menengah atas menjadi suatu lembaga massa, misalnya, disertai oleh apa yang disebut gerakan progresif dalam pendidikan. Dua inovasi besar dari progresivisme ialah diperkenalkannya atletik dan kegiatan ekstrakurikuler lainnya dan upaya untuk “menggantikan suatu latihan ‘penyesuaian hidup’ yang agak kabur dengan kurikulum klasik” (R. Collins, 1979: 115-116). Perubahan-perubahan yang sama telah terjadi ketika perguruan tinggi dan universitas mulai dimasuki oleh lebih banyak peminat, yang kebanyakan hanya ingin memperoleh kredential pendidikan, bukan stimulasi intelektual. Sebagaimana dikemukakan oleh Collins (1979:124-125): Penampilan utama universitas yang dihidupkan kembalibagi kelompok-kelompok mahasiswa yangbesarjumlahnya bukan latihan yang ditawarkannya tetapi pengalaman sosial dalam mengikutinya. Elit yang lebih tua sedang dilestarikan dalam bentuk baru dan yang Iebih mudah. Melalui permainan foofball perguruan-perguruan tinggi pertama kali menjadi penting di mata publik, dan alumni serta legislator negara menemukan loyalitas yang diperbaharui kepada sekolah-sekolah mereka. Pada saat yang sama, persauclaraan menjadi tersebar luas, dan bersamaan dengan itu tumbuhlah tradisi minum-minurn, pesta, parade, menari, dan “semangat sekolah”. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa perguruan tinggi yang agung telah berubah, dan bahwa football, bukannya ilmu, menjadi penyelamat pendidikan tinggi Amerika. Munculnya budaya undergraduate pertama-tama menunjukkan bahwa pendidikan perguruan tinggi mulai dipandang sebagai konsumsi oleh kelas atas industri baru, meskipun juga menarik perhatian semakin banyak orang yang berorientasi intelektual dan mereka yang hendak berkarir dalam mengajar.

Ekspansi pendidikan yang rnasif, pada hakikatnya tidak berpengaruh kepada ketidaksetaraan ekonomi, sebuah fakta telah ditunjukkan Collins dan oleh Bowles dan Gintis. Dalam hal ini penjelasan Collins tidak seharusnya mengejutkan. “wibawa” pendidikan tidak menjalar ke segala tingkat, karena itu kelompok-kelompok status yang telah memiliki gelar-gelar kependidikan yang diraih beberapa tahun lalu mampu mempertahankan keunggulannya. Ketika beberapa kelompok dengan susah menyele’ yikan SMA-nya ke Perguruan Tinggi, yang lain dengan lancar bergerak dari satu titel ke titel lain kesarjanaannya dan begitulah seterusnya. Pengikut perguruan tinggi telah menjadi selingan kegembiraan dalam hidup para pemuda kelas-atas dan kelas-menengah Amerika.

(Suatu upaya) untuk mengembalikan pendidikan sebagai fungsi sentral perguruan tinggi mengalami kegagalan. Para mahasiswa tidak ingin mengganggu ritual perpeloncoan, dan hak-hak istimewa senior…. Kebanyakan mahasiswa menemukan essensi pendidikan perguruan tinggi sebagai ritual yang dapat dinikmati dan yang memberi status serta kehidupan sosial perguruan tinggi, bukannya kepuasan pelajaran,dalam kelas.

Meskipun Bowles dan Gintis membatasi pembahasannya pada kasus Amerika Serikat, tapi Collins (1977) telah mengajukan beberapa data kompa-ratif untuk menyokong argumennya. Seperti yang dicatatnya, ada perbedaan-perbedaan penting di kalangan sistem-sistem pendidikan dalam masyarakat industri. Inggris, Jerman, dan Perancis, misalnya, mempunyai sistem pendi-dikan yang sangat kecil dari tipe mobilitas yang disponsor, sementara masyarakat industri seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet mempunyai sistemsistem bertipe mobilitas-kontes yang besar. Inflasi pendidikan sangat khas dalam sistem-sistem mobilitas-kontes. menandaskan bahwa argumen tentang disiplin kerja dari Bowles dan Gintis tidak dapat menjelaskan perbedaan demikian, karena semua masyarakat industri pada dasarnya mempunyai kebutuhan yang sama akan disiplin kerja. Tetapi Collins percaya bahwa teorinya dapat secara efektif menjelaskan perbedaan-perbedaan di antara sistem-sistem pendidikan industri. Ia percaya bahwa sistem-sistem mobilitastersponsor yang kurang inflasioner telah berkembang dalam masyarakatmasyarakat di mana tingkat segregasi kelas adalah tillggi. Dengan kata lain, karakter sistem pendidikan dengan segregasi kelas mencerminkan karakter persegregasi-kelas masyarakat yang lebih besar. Sebaliknya, sistem-sistem mobilitas-kontes yang sangat inflasioner cenderung muncul dalam masyarakat di mana tingkat segregasi kelas adalah rendah dan “di mana konflik kelas telah terbenam dalam suatu pasar tunggal demi kehormatan kebudayaan” (Collins, 1977:26).

Teori Collins adalah perbaikan utama atas interpretasi aliran Marx dari Bowles dan Gintis. Akan tetapi, ada dua kesulitan dasar dalam teori itu yang perlu diberi perhatian. Pertama-tama, argumen Collins bahwa keragaman etniklah yang merupakan akar penyebab daripada ekspansi pendidikan ditentang oleh penelitian empiris (Boli, Ramirez, dan Meyer, 1985). Memang, malah pengamatan kausal akan menunjukkan adanya skeptisisme yang ekstrim dalam hubungan ini. Sebagai contoh, masyarakat yang paling heterogen secara etnis di dunia ini, yakni Uni Soviet, kurang mengalami ekspansi pendidikan bila dibandingkan dengan masyarakat yarig paling homogen secara etnis di dunia ini, yakni Jepang. Seperti yang akan kita lihat kemudian, ada suatu cara yang lebih sederhana dan jauh lebih cermEit secara empiris untuk menjelaskan ekspansi pendidikan bila dibandingkan dengan mengemukakan faktor heterogenitas etnik.

Akan tetapi, bila kita singkirkan elemen ini dari teoriColl’u1s, maka kita tidak akan mempunyai uraian yang masuk akal mengenai mengapa sistem pendidikanlah yang menjadi fokus perjuangan untuk sukses ekonomi dan mobilitas sosial (Boli, Ramirez, dan Meyer, 1985). II1i adalah kesulitan kedua dengan teori itu. Agar dapat melihat bagaimana kesulitan ini dapat diatasi, kita perlu memperhatikan suatu tipe teori keempat mengenai munculnya dan ekspansi pendidikan massa. Teori ini tidak saja berlaku untuk sistem pendidikan Amerika, tapi juga untuk kemunculan dan ekspansi pengajaran massa di semua masyarakat Barat selama dua abad lampau.

Filed under : Bikers Pintar,