PENGERTIAN TEORI MARX TENTANG SIFAT MANUSIA DAN ALIENASI – Proses kerja telah mengalami transformasi di bawah kapitalisme industri, dan teru tama di bawah fase monopoli pertumbuhan kapitalis. Beberapa pandangan filosofis Marx yang paling penting sangat relevan untuk memahami sifat dan arti transformasi yang luar biasa ini.

Dalambeberapa tulisan awalnya, Marx (1963; aslinya 1844) berspekulasi tentang apa yang membedakan manusia dari berbagai species lain. Marx menyebut manusia sebagai homo faber, Manusia Pekerja. Manusia saling berbeda, menurutnya, dalam mewujudkan tujuan kehidupan sendiri. Hanya manu-sia bertindak atas dasar lingkungan fisik dan mengubahnya sesuai dengan keinginannya sendiri. Tentu saja benar bahwa lebah membanguri sarang, dan burung membuatjaring. Tapibinatang ini tidak dianggap melakukan aktivitas produktif dalam kacamata Marx. Tindakanmereka adalah bawaan instink, jadi lebih merupakan program biologis ketimbang hasil konseptualisasi dan kemauan. Dalam sebuah bukurtya yang terkenal Marx menulis bahwa apa yang membedakan keunggulan arsitek dari lebah ialah bahwa arsitek membangun struktur dalam imajinasinya sebelum ia membentuknya dalam kenyataan. Kepercayaan bahwa manusia lebih dicirikan oleh kap asitasnya melakukan kegiatan produktif, diartikan oleh Marx bahwa kerja harus menghasilkan daripada sekadar dilakukan saja. Kerja harus mengandung hasil, dalam arti bahwa manusia menghendaki makna dan kepuasan dalam hidup. Dalam melakukan pekerjaan membuat konsepsi, manusia menyadari hakekat kebenaran mereka dan merasa terpenuhi dan terpuaskan. Pada kenyataannya, bagi Marx, kerja tidak sekadar bertujuan mencari makna dan melaksanakan kepentingan. Kerja adalah alat penting yang dipakai manusia untuk memperoleh makna dan memenuhi kebenaran. (dalam Sayers, 1988). Bagi Marx, persoalannya ialah apakah manusia akan benar-benar dapat mewujudkan keinginannya dengan menjadi buruh yang tergantung pada organisasi masyarakat. Yang tersirat dalam tulisan-tulisannya ialah catatan bahwa sepanjang sejarah, manusia sebenarnya hidup dalam kondisi yang rriemungkinkannya bekerja dengan caranya sendiri. Pemburu primitif, mengintai, membunuh dan mengangkutnya ke perkemahan dan membaginya untuk semua, adalah pekerja yang memenuhi hasratnya. Pengrajin pedesaan, merancang ciptaannya, membuat dan menjualnya kepada orang lain, juga telah mencapai keinginan dasar mereka. Bahkan petani, walaupun ditekan dan ditindas, menjadi pekerja yang memenuhi hasratnya dalam arti dasarnya. Mereka bekerja dalam harmoni dengan alam dan musim, mereka menentukan sendiri kegiatan kerja mereka, dan hidup dari apa yang merekahasilkan. Tentu saja, budak dalam inasyarakat pertanian jelas bukan pekerja yang demikian, sifat kemanusiaan mereka tak tersalur karena kondisi mereka. Tapi para pekerja semacam itu secara umum menjadi kekecualian dalam aturan dunia pra-kapitalis.

Ketika kondisi sosial tidak membolehkan manusia mewujudkan ke-inginannya melalui kerja, Marx mengatakan adanya kondisi alienasi yang bersifat patologis. Ketika para pekerja teralienasi, mereka tidak memperoleh makna dan kepuasan dari kerja mereka, tapi hanya menjumpai frustrasi dan kekosongan. Mereka adalah, dalam arti ketat kaum Marxian, pekerja yang mengalami dehumanisasi. Marx nampak menganggap kapitalisme industrial sebagai sis tem ekonomi yang menghasilkan pekerja yang teralienasi. Alienasi menjadi ciri kapitalisme karena pembagian kerja merupakan ciri khusus kapitalisme. Pembagian pekerja ini meliputi pemisahan yang penting antara kortsepsi dan keputusan kerja. Buruh pabrik biasanya membawa konsep kerja yang milik orang lain. Selain itu, proses pekerjaan dipisah-pisahkan, ditingkattingkatkan, dan para pekerja biasanya hanya melakukan satu atau sedikit dari proses ini. Lebih lanjut, mereka kehilangan kontrol terhadap arah hasil yang mereka buat, hasil produksi ini akan dimiliki oleh orang lain dan dijual pemiliknya di pasar. Karena aspek-aspek organisasi kerja, para buruh tidak dapat merasakan identifikasi dengan suatu produk yang mereka hasilkan ataupun merasakan makna partisipasi dalam proses kerja. Pekerjaan mereka menghasilkan kesedihan, frustrasi, dan rasa tak berarti karena tak merasa memenuhi hasrat mereka sendiri.

Filed under : Bikers Pintar,