Advertisement

Pada mulanya teori disonansi kognitif mengilhami penelitian tentang efek perilaku terhadap perubahan sikap dan bagi usaha bertahun-tahun yang menghasilkan satu-satunya interpretasi teoretik tentang penemuan ini. Namun, pada tahun 1967 Bem mengusulkan interpretasi lain dipandang dari sudut teori persepsi-diri. Seperti yang kita lihat dalam bagian sebelumnya, dia menyatakan bahwa sebagian besar sikap kita hanya didasarkan pada persepsi kita tentang perilaku kita sendiri dan/atau keadaan di mana perilaku itu terjadi. Bila kita makan jeruk dan seseorang bertanya kepada kita apa yang kita rasakan dengan jeruk itu, kita katakan pada diri kita sendiri “saya benar-benar makan jeruk; tak seorang pun memaksa saya untuk memakannya; oleh karena itu, saya harus menyukai jeruk.” Sesuai dengan hal itu, kita kapakan pada orang itu bahwa kita menyukai jeruk. Demikian juga bila kita memberikan suara bagi partai Republik dalam suatu pemilihan bebas, kita berasumsi bahwa kita menyukai sikap Republik; jika k’ita pergi ke tempat ibadah, kita berasumsi bahwa kita adalah seorang religius, dan sebagainya.

Adalah hal yang mudah untuk melihat bagaimana hal ini bisa diterapkan pada perilaku-yang-tidak-sesuai-dengan-sikap. Seorang subjek dibayar seribu rupiah untuk mengatakan pada seseorang bahwa tugas tertentu sangat menyenangkan. Bila setelah itu subjek ditanya tentang sejauh mana tugas itu menyenangkan, menurut dia, dia berkata pada dirinya sendiri, “saya mengatakan bahwa, tugas itu menyenangkan dan saya hanya dibayar seribu rupiah. Seribu rupiah tidak cukup untuk memaksa saya berbohong, jadi saya harus benar-benar berpikir bahwa tugas itu menyenangkan.” Di lain pihak, dua puluh ribu rupiah mungkin cukup untuk memaksakan suatu kebohongan. Sehingga kemudian subjek berkata pada dirinya sendiri, “Alasan saya mengatakan bahwa tugas itu menyenangkan adalah untuk memperoleh Rp20.000,—; saya tidak benar-benar mempercayai hal itu.”

Advertisement

Jadi penjelasan persepsi-diri ini menyatakan prediksi yang sama dengan teori dissonansi. Semakin banyak subjek dibayar untuk membuat pernyataan yang menyimpang, dia akan semakin kurang mempercayai hal itu. Penjelasan serupa sebenarnya dapat diajukan untuk semua fenomena ketidaksesuaian. Perbedaan utamanya tidak dalam prediksi, tetapi dalam interpretasi. Kedua teori tersebut mengajukan pandangan yang sangat berbeda tentang sikap dan tentang cara perilaku mempengaruhi sikap. Pandangan yang lebih tradisional tentang sikap yang digambarkan dalam teori disopansi adalah bahwa sikap merupakan predisposisi yang bersifat dipelajari dan langgeng. Bila orang melakukan perilaku yang bertentangan dengan sikap, mereka akan mengalami ketegangan yang tidak menyenangkan yang hanya dapat dikurangi dengan menghentikan sikap mereka. Teori disonansi menggambarkan orang sebagai makhluk yang dengan keras kepala menentang perubahan. Mereka harus dipikat dan dibujuk ke dalam keadaan yang sangat khas di mana akhirnya mereka merasa terlibat dan melakukan perubahan. Teori persepsi-diri dari Bem menyatakan bahwa ekspresi sikap seseorang merupakan fenomena “atas kepala” (top of the head phenomena), pernyataan verbal yang cukup sederhana. Orang tidak memiliki pegangan dalam sikap mereka-, seolah-oleh mereka hanya berusaha untuk bekerja sama dengan seorang penanya yang ingin tahu dengan memberikan jawaban yang masuk akal, tanpa keyakinan atau perasaan yang kuat.

Incoming search terms:

  • teori persepsi diri
  • persepsi diri
  • contoh teori persepsi diri
  • apa itu persepsi diri
  • pengertian presepsi diri
  • teori tentang persepsi diri
  • presepsi diri
  • makalah teori persepsi diri
  • implementasi teori presepsi diri
  • contoh dari teori persepsi diri

Advertisement
Filed under : Uncategorized, tags:

Incoming search terms:

  • teori persepsi diri
  • persepsi diri
  • contoh teori persepsi diri
  • apa itu persepsi diri
  • pengertian presepsi diri
  • teori tentang persepsi diri
  • presepsi diri
  • makalah teori persepsi diri
  • implementasi teori presepsi diri
  • contoh dari teori persepsi diri