Advertisement

Bentuk organisasi perusahaan dan struktur pasar harus disesuaikan sedemikian rupa demi menunjang kinerja ekonomis, dan hal ini sudah menjadi topik penting bagi para ekonom sejak zaman Smith. Peran spesialisasi dalam kemajuan ekonomi sudah ditekankan oleh Adam Smith. Kini kegiatan- kegiatan terspesialisasi yang terkoordinasi kian dirasakan penting, dan wujudnya antara iain adalah penyesuaian organisasi perusahaan dengan kondisi pasar. Namun ternyata sedikit saja ekonom yang mencoba mempelajari bentuk-bentuk organisasi perusahaan yang relatif paling baik dibandingkan dengan bentuk-bentuk yang lain. Marshall adalah salah satunya. Ia mencoba merumuskan struktur dan fungsi organisasi perusahaan yang dirasa paling tepat untuk menghadapi lingkungan ekonomi yang di masa itu sudah cukup kompetitif. Dalam kajiannya Marshall juga memperhitungkan arti penting unsur-unsur lain yang berada di luar perusahaan, yakni konsumen, pemasok atau agen dan juga para pesaing yang kesemuanya harus diperhitungkan demi menguasai pasar. Meskipun cenderung bersifat statis dan evolusioner, kajiannya itu telah membuahkan pedoman rintisan yang bermanfaat walaupun apa yang dirumuskannya pada saat itu tidak begitu relevan dengan kondisi yang ada pada saat ini. Para ekonom sesudah Marshall cenderung mengabaikan kontribusinya sehingga studi tentang perusahaan pun mengalami disintegrasi. Para ekonom lebih suka menyimak fungsi-fungsi permintaan atau biaya, sedangkan struktur dan fungsi perusahaan dianggap sebagai sesuatu yang bisa dikuasai secara sambil lalu. Istilah “teori perusahaan” itu baru muncul kemudian, ketika topik ini mulai diminati sehubungan dengan kian beragamnya lingkungan ekonomi atau pasar yang harus dihadapi oleh perusahaan-perusahaan, mulai dari kompetisi sempurna dan tidak sempurna, oligopoli dan monopoli, yang kesemuanya mempengaruhi bentuk kurva permintaan maupun kurva biaya. Analisis Coumot berjasa untuk membangkitkan minat untuk mengkaji perusahaan secara teoretis, disusul oleh karya Robinson yang berjudul Economic of Imperfect Competition (1933) yang menandai munculnya model-model formal perusahaan yang sekaligus hendak merangkum kajian mengenai lingkungan ekonomi yang dihadapi oleh perusahaan (hal inilah yang tidak terdapat pada analisis Marshall). Konsepsi kompetisi monopolistik Chamberlin menyadarkan para ekonom akan adanya bentuk pasar atau sistem ekonomi yang berbeda dari yang mereka kenai sebelumnya. Kalau Marshall memperlakukan elemen-elemen kompetisi dan monopoli sebagai sesuatu di luar struktur organisasi perusahaan, Chamberlin justru berusaha memadukannya ke dalam analisis formal yang didasarkan pada metode ekuilibrium statis. Meskipun karyanya tidak terlalu berpengaruh, ia telah memberi inspirasi besar bagi para ekonom Amerika khususnya dari generasi yang lebih muda untuk secara lebih serius mempelajari teori perusahaan (meskipun inspirasi tersebut bersumber dari pemikiran-pemikiran Robinson). Pendekatan Chamberlin terhadap kasus oligopoli membangkitkan minat untuk mempelajari perilaku oligopolistik yang ternyata sangat relevan dengan teori perusahaan. Ada sejumlah model oligopoli meskipun beberapa di antaranya bersifat tumpang tindih Model-model ini ternyata cukup mampu memberikan gambaran mengenai perilaku perusahaan dalam menghadapi atau mengganjal perusahaan lain dalam rangka memenangkan kompetisi. Andrews (1949) mencoba mengembangkan teori non-formal oligopoli kompetitif di mana setiap perusahaan berusaha “menyeleksi” muka baru yang hendak masuk dalam lingkungan bisnisnya. Namun determinisme situasional yang dipentingkan oleh Andrews dalam prakteknya tidak terlalu berperan, sehingga untuk memahami perilaku perusahaan seperti itu para ekonom menggunakan teori-teori lain seperti teori permainan, atau rumusan ekuilibrium Cournot yang aspek prediktifnya diakui sangat tajam. Kelemahan rumusan di atas dicoba diatasi oleh Baumol (1959) yang tidak menelaah perilaku standar perusahaan dalam berbagai struktur pasar, melainkan ia membatasi kajiannya pada tujuan-tujuan manajerial dalam sistem oligopoli yang dalam banyak hal mencerminkan perilaku perusahaan dalam rangka menghadapi perusahaan lain. Ia mengasumsikan bahwa pada dasarnya setiap perusahaan tidak bermaksud memaksimalkan laba, melainkan memaksimalkan pendapatan dari penjualan. Pendapatnya ini didukung oleh Williamson (1963) yang mengajukan fungsi utilitas manajerial, dan Marris (1964) yang melihat pertumbuhan usaha merupakan tujuan terpenting yang ingin diraih oleh perusahaan-perusahaan. Dalam ketiga model ini pembuat keputusan dalam tubuh perusahaan tidak hanya menghadapi kendala pasar namun juga batasan-batasan yang ditetapkan oleh para pemilik saham. Ada satu hal penting yang disumbangkan oleh ketiga model tersebut, yakni kajian yang langsung terarah pada para pembuat keputusan dalam tubuh perusahaan, sehingga mereka tidak lagi melihat perusahaan sebagai suatu unit utuh yang mudah dikelola. Pada tahun 1937 Coase melontarkan pendapatnya yang menyatakan bahwa perusahaan muncul sebagai jawaban atas adanya kebutuhan para pengusaha untuk memiliki organisasi formal guna menyelenggarakan transaksi, dan hal ini secara implisit juga telah terkandung dalam pemikiran Williamson. Sebagian besar ekonom lebih suka memfokuskan analisis mereka langsung ke perusahaan, bukannya ke pasar sekalipun mereka juga menerapkan teori-teori yang lazim digunakan dalam menelaah pasar seperti teori permainan. Dalam karyanya yang komprehensif dan rinci Milgrom dan Robert (1992) berhasil menonjolkan pentingnya fungsi tawar menawar dalam operasi perusahaan. Meskipun Williamson tetap berpendapat bahwa unsur utama yang menentukan kelancaran operasi perusahaan adalah efisiensi, ia bisa menerima pendapat yang dikemukakan oleh rekan-rekannya bahwa rasionalitas terikat (bounded rationality) merupakan unsur berikutnya yang tidak bisa diabaikan. Meskipun Williamson tidak memberikan banyak perhatian pada berbagai masalah dan proses aktual dalam pembuatan keputusan-keputusan di lingkungan perusahaan (ini merupakan fokus teori perilaku ekonomi), ia tetap memberikan sumbangan-sumbangan yang penting. Dalam perkembangan selanjutnya kian banyak ekonom yang memberi perhatian besar pada teori perilaku tersebut.

Teori tersebut ditandai oleh penekanannya pada keterbatasan pengetahuan dan kemampuan manusia sebagai makhluk ekonomi untuk melakukan apa yang mereka anggap bisa mereka lakukan. Kajian Simon (1976) mengenai rasionalitas substantif memperjelas hal itu, yang kemudian dijabarkan dalam tinjauan mengenai sistem kontrol, sistem informasi, teknik-teknik perencanaan, dan mekanisme operasi pemerintah. Bagi Simon (1978) keterbatasan dalam proses pembuatan keputusan itu tidak boleh diabaikan oleh para ekonom dalam menganalisis perusahaan. Cyerc dan March  mempelajari proses pembuatan keputusan berjangka pendek yang selanjutnya tidak ditindaklanjuti secara memadai, namun Nelson dan Winter (1982) berhasil merumuskan pendekatan yang bisa diadaptasikan dan diterapkan untuk memahami perubahan-perubahan teknis yang dialami perusahaan. Perusahaan sebagai agen penemuan dan kemajuan adalah topik berikutnya yang banyak diminati. Hal itulah yang merupakan elemen kunci dalam teori pembangunan ekonomi rumusan Schumpeter (1943) yang ditandaskannya pada konsep “destruksi kreatif”, meskipun Schumpeter jarang dianggap sebagai ahli teori perusahaan. Belakangan muncul pula minat untuk mempelajari konsep pengusaha sebagai agen perubahan, meskipun aliran ekonomi neo-Austria sejak lama telah mempelajari pengusaha semata-mata sebagai sosok individual dalam pasar. Casson (1982) menggambarkan pengusaha sebagai pencipta organisasi yang mampu mengatasi berbagai persoalan yang dikemukakan oleh Marshall. Sementara itu studi-studi mengenai inovasi dan perubahan teknis kian diakui penting guna mempelajari bagaimana bentuk organisasional perusahaan dan juga struktur pasar mempengaruhi penciptaan, penyebaran dan pemanfaatan pengetahuan, yang pada gilirannya memberi pengaruh pada struktur pasar dan bentuk organisasi perusahaan tadi. Di sinilah definisi perusahaan Penrose (1959) yang menyatakan perusahaan sebagai himpunan sumber daya pemanfaatan segala sesuatu secara terorganisir dalam kerangka administratif” terasa relevansinya, dan dalam konteks ini pula definisi tersebut lebih dapat diterima ketimbang definisi yang dirumuskan Chandler. Kapabilitas dari suatu perusahaan sangat ditentukan pada kecakapan dan kekokohan kelembagaannya. Kata kunci berikutnya adalah koordinasi yang memungkinkan suatu perusahaan menghadapi berbagai tantangan pasar, Dalam hal ini Marshall telah menyajikan konsepsi yang sesuai karena ia dapat melihat proses evolusi perusahaan dalam menyesuaikan diri. Hal serupa juga telah dikemukakan oleh Richardson (1972) dan Langlois (1992). Karena itu perusahaan dan pasar sesungguhnya bersifat komplementer sekaligus kompetitif, yang saling mempengaruhi proses evolusi masing-masing.

Advertisement

Incoming search terms:

  • teori perusahaan
  • pengertian teori perusahaan
  • teori perusahaan adalah
  • arti teori perusahaan
  • Apa yang dimaksud dengan teori perusahaan
  • pengertian tentang teori perusahaan
  • Teori perusahaan yaitu
  • jelaskan tentang teori perusahaan
  • teori perusahaa adalah
  • definisi teori perusahaan

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • teori perusahaan
  • pengertian teori perusahaan
  • teori perusahaan adalah
  • arti teori perusahaan
  • Apa yang dimaksud dengan teori perusahaan
  • pengertian tentang teori perusahaan
  • Teori perusahaan yaitu
  • jelaskan tentang teori perusahaan
  • teori perusahaa adalah
  • definisi teori perusahaan