PENGERTIAN TEORI PSIKOLOGIS TENTANG GANGGUAN MOOD – Pandangan psikoanalisis yang menitikberatkan pada berbagai konflik bawah sadar yang berhubungan dengan duka dan kehilangan; berbagai teori kognitif yang memfokuskan pada proses berpikir yang menghancurkan diri sendiri pada penderita depresi; dan faktor-faktor interpersonal yang menitikberatkan pola interaksi negatif penderita depresi dengan orang lain. Berbagai teori tersebut sebagian besar menjelaskan berbagai diathesis yang berbeda dalam suatu teori diathesis-stres umum. Peran stresor dalam memicu episode depresi juga dijelaskan dengan baik (Kendler, Karkowski, dan Prescott, 1999), meskipun pentingnya stresor tersebut tampaknya berkurang seiring meningkatnya jumlah episode (Lewinsohn dkk., 1999; Pardoen dkk., 1996). Berbagai teori yang kami bahas berupaya menjawab pertanyaan tersebut. Bagaimana karakteristik psikologis orang-orang yang merespons stres dengan mengalami episode gangguan mood?

Teori Psikoanalisis Depresi – Dalam tulisannya yang terkenal “Mourning and Melancholia,” Freud (1917/1950) berteori bahwa potensi depresi diciptakan pada awal masa kanak-kanak. Dalam periode oral, kebutuhan seorang anak dapat kurang dipenuhi atau dipenuhi secara berlebihan sehingga menyebabkan seseorang terfiksasi pada tahap ini dan tergantung pada pemenuhan kebutuhan instingtual yang menjadi ciri tahap ini. Dengan terbawanya kondisi tersebut dalam tahap kematangan psikoseksual, fiksasi pada tahap oral tersebut, orang yang bersangkutan dapat memiliki kecenderungan untuk sangat tergantung pada orang lain untuk mempertahankan harga dirinya.
Dari peristiwa masa kanak-kanak tersebut, bagaimana bisa setelah dewasa menderita depresi? Penalaran yang kompleks didasarkan pada suatu analisis terhadap rasa berduka. Freud mengemukakan hipotesis bahwa setelah kehilangan seseorang yang dicintai, apakah karena kematian atau, yang paling umum terjadi pada anak-anak, perpisahan atau berkurangnya kasih sayang, orang yang bersangkutan pertama meleburkan dirinya dengan orang yang meninggalkannya; ia mengidentifikasi diri dengan orang yang meninggalkannya, mungkin sebagai upaya sia-sia untuk mengembalikan kehilangan tersebut. Karena, Freud berpendapat, secara tidak sadar kita menyimpan berbagai perasaan negatif terhadap orang-orang yang kita cintai, orang yang bersangkutan kemudian menjadi objek kebencian dan kemarahannya sendiri. Selain itu, orang yang bersangkutan tidak suka diabaikan dan merasa bersalah atas dosa-dosanya yang nyata atau yang dibayangkan terhadap orang yang meninggalkannya tersebut.
Menurut teori tersebut, kemarahan orang yang ditinggalkan kepada orang yang meninggalkannya terus-menerus dipendam, berkembang menjadi proses menyalahkan diri sendiri, menyiksa diri sendiri, dan depresi yang berkelanjutan. Orang-orang yang sangat tidak mandiri diyakini sangat rentan terhadap proses tersebut. Teori ini merupakan dasar pandangan psikodinamika yang diterima secara luas yang menganggap depresi sebagai kemarahan terpendam yang berbalik menyerang diri sendiri. Meskipun beberapa penelitian berdasarkan sudut pandang psikoanalisis telah dilakukan, namun sedikitnya informasi yang tersedia tidak memberikan dukungan kuat bagi teori ini. Dari sisi positifnya, beberapa orang yang depresi memiliki ketergantungan tinggi dan cenderung menjadi depresi setelah ditolak (Nietzel & Harris, 1990). Beberapa peneliti menganalisis mimpi dan tes-tes proyektif orangorang yang depresi, dengan pertimbangan bahwa hal itu merupakan cara mengekspresikan kebutuhan dan rasa takut yang tidak disadari. Namun, Beck dan Ward (1961) menganalisis mimpi orang-orang yang depresi dan menemukan tema tentang kehilangan dan kegagalan, bukan kemarahan dan hostilitas.
Terlebih lagi, jika depresi disebabkan oleh kemarahan yang terpendam, kita dapat berharap bahwa orang-orang yang depresi akan mengekspresikan sedikit hostilitas pada orang lain. Memang orang-orang yang depresi sering kali mengekspresikan kemarahan dan hostilitas yang kuat kepada orang lain (Weissman, Klerman, & Paykel, 1971).
Meskipun Freud membungkus berbagai pemikiran klinisnya dalam berbagai pernyataan teoretis yang ditolak oleh banyak teoris kontemporer, kita harus menghargai bahwa beberapa teori dasarnya tetap berpengaruh hingga saat ini. Contohnya, penelitian kognitif (dibahas setelah ini) menemukan bahwa para pasien depresi sering kali memiliki berbagai keyakinan yang tidak rasional seperti, “sangat penting bagi saya untuk dicintai dan diterima oleh semua orang. Hal ini dapat berhubungan dengan pemikiran Freud bahwa seseorang menjadi depresi setelah kehilangan orang yang dicintai. Secara sama, sangat banyak bukti yang mengindikasikan bahwa depresi dipicu oleh berbagai peristiwa kehidupan yang penuh stres, yang sering kali mencakup peristiwa kehilangan, contohnya, perceratan atau PHK.

Filed under : Bikers Pintar,