Advertisement

Karena pentingnya fungsi peramalan dari pengukuran sikap, Fishbein (1967) dan Ajzen (Fishbein & Ajzen, 1975) mengembangkan suatu teori dan metode untuk memprakirakan perilaku dari pengukuran sikap. Teori ini dinamakan reasoned action karena berusaha mengungkapkan latar belakang atau alasan (reason) dari suatu tindakan (action).

Teori ini diawali dengan kritik terhadap teori dan pengukuran sikap yang seringkali tidak tepat, yaitu tidak dapat memperkirakan perilaku yang akan timbul. Seperti sudah dikernukakan di atas, penyimpulan sikap tidak dapat dibuat hanya berdasarkan satu tindakan pada satu saat saja, dan peramalan perilaku yang khusus pada suatu waktu dan situasi tertentu tidak dapat ditetapkan berdasarkan sikap yang lebih umum. Yang lebih tepat adalah dengan menggunakan kriteria observasi berulang (apakah perilaku tertentu berulang pada waktu-waktu yang berbeda) atau dengan menggunakan kriteria tindakan berganda (berbagai perilaku berbeda yang timbul pada siatuasi tertentu yang berulang-ulang).

Advertisement

Selanjutnya, korelasi sikap dengan perilaku juga akan tinggi jika diukur dalam jangka waktu yang cukup panjang. Jorgensen & Jorgensen (1995) dalam penelitiannya {antara tahun 1972-1989) tentang sikap di kalangan penduduk Amerika Serikat berkulit putih (sampel nasional) terhadap kulit hitam (dalam hal perkawinan antarras, menerima tamu orang kulit hitam, dan orang kulit hitam sebagai Presiden Amerika Serikat) menemukan bahwa makin tua usia seseorang, sikapnya makin tidak setuju pada hubungan antarrasial itu.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, untuk dapat meramalkan atau memprakirakan perilaku dengan lebih akurat, Fishbein & Ajzen membedakan antara objek sikap (target) dan perilaku pada objek sikap. Dalam hal sikap beragama, misalnya, target dapat berupa agama itu sendiri, tokoh-tokohnya (nabi, dan sebagainya), dan kepercayaan (halal-haram, dan sebagainya), sedangkan perilakunya dapat berupa bersembahyang, bersedekah, mengajak teman-teman untuk bersembahyang, ikut kegiatankegiatan keagamaan, dan sebagainya. Berbeda dari target yang tidak terikat pada tempat dan waktu, perilaku selalu terjadi dalam kaitan tempat dan situasi (context) serta waktu tertentu. Menurut Fishbein & Ajzen, pengukuran sikap yang terbaik agar dapat memprakirakan perilaku adalah dengan memasukkan sekaligus keempat faktor tersebut di atas, yaitu target, perilaku,     dan waktu.

Dalam hubungan ini, yang dapat mencakup keempat unsur tersebut adalah perilaku tertentu, bukan objek sikap yang umum. Jadi untuk mengukur sikap keagamaan (misalnya, Islam) dan seberapa jauh hubungannya dengan perilaku nyata, yang ditanyakan bukan “apakah Anda senang sebagai muslim” atau “menyukai agama Anda” atau “percaya pada agama Anda”, melainkan, misalnya, “apakah Anda akan merrtbayar zakat tahun ini”. Dalam pertanyaan ini terkandung niat atau intensi (intention) untuk bertingkah laku tertentu dalam              dan waktu tertentu.

Mengukur sikap terhadap niat ini, menurut Fishbein & Ajzen sama dengan mengukur perilaku itu sendiri, karena menurut mereka hubungan antara niat dan perilaku adalah yang paling dekat. Setiap perilaku yang bebas, yang ditentukan oleh kemauan sendiri selalu didahului oleh niat (intensi).

Sebaliknya, perilaku itu jika berulang dalam yang sama pada waktu yang berbeda-beda akan menunjukkan sikap terhadap target. Jawaban terhadap pertanyaan tentang niat ini kemudian diberi nilai dalam skala 1 (paling tidak berniat) sampai 7 (paling berniat).

Selanjutnya, niat untuk berperilaku tersebut ditentukan oleh dua hal yaitu (1) sikap (attitude) terhadap perilaku itu sendiri dan (2) norma subjektif (subjective norms) tentang perilaku itu.

Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh dua hal, yaitu (1) kepercayaan atau keyakinan (belief) tentang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku dan (2) evaluasi terhadap konsekuensi-konsekuensi tersebut untuk diri subjek (orang yang diteliti) itu sendiri.

Keyakinan tentang konsekuensi perilaku ini sebelum ditanyakan kepada subjek perlu dikumpulkan terlebih dahulu pendapat orang lain yang satu golongan dengan subjek. Jadi, kalau subjek atau sasaran penelitian adalah pemuda, pengumpulan pendapat juga dari sekelompok (6-10 orang) pemuda. Kalau penelitiannya terhadap ibuguru, pengumpulan pendapat juga dari kelompok ibu guru, dan demikian selanjutnya. MakSud pengumpulan pendapat ini adalah untuk mengetahui apa yang ada dalam kognisi ra ta-rata dari orang yang segolongan dengan calon subyek tentang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku yang akan ditanyakan. Proses pengumpulan pendapat ini dinamakan elisitasi(elicitation) karena tujuannya adalah untuk menggali apa yang paling menonjol atau paling muncul (elicit) dalam kognisi sekumpulan orang tersebut. Berdasarkan hasil elisitasi ini kemudian disusun daftar pertanyaan apakah subyek percaya atau tidak pada konsekuensi-konsekuensi dari perilaku itu. Dalam hal perilaku membayar zakat, dari hasil elisitasi dapat ditanyakan, misalnya, apakah subjek yakin bahwa zakat membutuhkan banyak uang, akan membahagiakan orang miskin, merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan, dan akan mendapat pahala dari Allah dan sebagainya. Untuk setiap pernyataan sangat setuju diberi skor 7 dan sangat tidak setuju diberi 1.

Seri pertanyaan berikut adalah evaluasi subjek tentang bermanfaat-tidak-bermanfaatnya atau baik-tidak-baiknya setiap konsekuensi perilaku tersebut menurut pandangan pribadi subjek. Butir-butir pertanyaan evaluasi ini identik dengan butir-butir dalam pertanyaan tentang keyakinan. Terhadap pertanyaan tentang zakat merupakan rukun Islam yang wajib dilaksanakan, misalnya, ditanyakan lagi apakah untuk subjek merugikan kalau tidak melakukannya (-3) atau biasa saja (0), atau menguntungkan (3). Skala -3 +3 digunakan pada pernyataan evaluasi guna memberi kemungkinan kepada subjek untuk menilai negatif, netral, atau positif.

Hasil perkalian skor keyakinan dengan skor evaluasi menunjukkan sikap terhadap perilaku yang diukur. Skor sikap itu sendiri adalah rata-rata dari hasil-hasil perkalian dari semua butir tentang keyakinan dan evaluasinya.

Norma subjektif juga ditentukan oleh dua hal, yaitu (1) pendapat tokoh atau orang lain yang penting yang berpengaruh atau tokoh panutan (significant others) tentang apakah subjek perlu, harus, atau dilarang melakukan perilaku yang sedang diteliti dan (2) seberapa jauh subjek akan mengikuti pendapat orang lain tersebut (motivation to comply).

Tokoh-tokoh panutan juga diperoleh melalui proses Untuk kelompok pemuda di pemukiman perkampungan di kota besar, misalnya, tokoh yang berpengaruh untuk membayar zakat adalah orang tua, teman-teman dekat, pak kiai, lurah, pacar, dan sebagainya. Untuk setiap tokoh tersebut subjek ditanya apakah masing-masing tokoh itu sangat menganjurkan (skor 7) atau sangat tidak menganjurkan (1) subjek untuk membayar zakat atau netral saja (skor 4).

Selanjutnya, subjek ditanya lagi, seberapa jauh ia akan mengikuti anjuran tokoh tersebut Kalau jawabannya adalah akan mengikuti skornya 3, kalau tidak akan mengikuti skornya -3. Perkalian antara skor tokoh dan skor motivasi untuk menurut menunjukkan norma subjektif subjek terhadap perilaku yang sedang diteliti, sedangkan skor norma subjektif itu sendiri adalah rata-rata dari hasil perkalian tersebut.

Makin tinggi skor BI, makin besar kecenderungannya perilaku itu akan dilaksanakan. Sebaliknya, untuk mengetahui apakah suatu perilaku lebih dipengaruhi oleh sikap (faktor dari diri sendiri) atau norma subjektif (pengaruh orang lain) dapat dihitung koefisien korelasi antara kedua faktor tersebut dengan skor intensi itu sendiri yang sudah diukur terlebih dahulu. Makin tinggi nilai korelasinya, makin kuat hubungannya dan yang nilai korelasinya lebih tinggi berarti lebih kuat pengaruhnya.

Untuk tujuan perubahan perilaku (dalam pendidikan, pelatihan, konseling, dan sebagainya), jika sudah diketahui mana yang lebih berpengaruh, strategi yang diambil lebih mudah. Jika ternyata sikap yang lebih berpengaruh, perlu diadakan pendekatan kepada orang yang bersangkutan (memberi penjelasan, informasi, dan sebagainya) untuk mengubah struktur kognisinya, sementara kalau ternyata norma subjektif yang lebih kuat pengaruhnya, Untuk mengubah perilaku subjek perlu didekati orang-orang atau tokoh-tokoh yang berpengaruh pada subjek. Misalnya, untuk mengubah perilaku siswa yang sering membolos, jika ternyata perilaku itu lebih disebabkan oleh sikapnya sendiri yang malas sekolah, pendekatan perlu dilakukan terhadap siswa itu sendiri. Sebaliknya, kalau ternyata ia hanya terpengaruh teman (norma subjektif lebih berpengaruh), temannya yang perlu didekati.

dari pengalaman, melalui proses belajar. Pandangan ini mempunyai dampak terapart, yaitu bahwa berdasarkan pandangan ini dapat disusun berbagai upaya (penerangan, pendidikan, pelatihan, komunikasi, dan sebagainya) untuk mengubah sikap seseorang. Dari pandangan seperti inilah berangkatnya segala jenis perogram pendidikan, pemasaran, iklan, kampanye politik, dan sebagainya yartg maksudnya sama semua, yaitu mengubah sikap seseorang atau masyarakat dari sikap tertentu ke sikap lainnya terhadap suatu objek. Pada gilirannya, perubahan sikap ini akan mengubah pula perilaku, sehingga terjadilah perilaku-perilaku yang lebih sesuai dengan yang diharapkan (dari tidak membeli jadi membeli, dari tidak memilih jadi memilih, dari membuang sampah sembarangan jadi membuang sampah pada tempatnya, dan sebagainya) (Eagly & Chaiken, 1993). ,

Proses belajar itu sendiri dapat terjadi melalui proses kondisioningklasik atau melalui proses belajar sosial atau karena pengaiaman langsung. Eksperimen tentang proses klasik dalam proses pembentukan sikap dilakukan oteh Staats & Staats (1958). Mereka menggunakan kata-kata yang tidak bermakna (netral) yang diikuti dengan kejutan listrik atau suarasuara bising. Setelah mengalami beberapa kali percobaan, orang-orang percobaan (subjek) mengembangkan rasa tidak suka pada katakata yang tidak bermakna tersebut. Dengan perkataan lain, timbul sikap negatif pada kata-kata itu.

Dengan proses kondisioning klasik ini pula dapat dijelaskan tentang anak yang tidak suka sayur atau ikan, misalnya. Mulamula mereka tidak suka pada sayur karena merasa pahit dan tidak suka pada ikan karena bau amisnya. Akan tetapi, lama-kelamaan mereka tidak suka pada sayur dan ikan, walaupun sudah diolah sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi rasa pahit atau bau amisnya.

Proses belajar lainnya adalah proses belajar sosial dari Bandura (1977), yaitu melalui peniruan dari perilaku model sebagaimana sudah dijelaskan pada bagian lain dari bab ini. Melalui proses belajar sosial itulah dapat dijelaskan bahwa anggota tentara dapat belajar menyukai ular dalam latihan hidup di hutan karena mencontoh instrukturnya. Demikian pula bapak dan ibu guru rekan-rekan Fat berfeikap positif terhadap pemberian uang karena meniru modelnya, yaitu Bapak Kepala, sementara Fat masih mengacu kepada model lain yaitu orang tuanya sendiri atau suaminya.

Akan tetapi, pembentukan dan juga perubahan sikap yang paling efektif adalah melalui pengalaman langsung. Menurut Fazio & Zanna (1981), sikap yang terbentuk melalui pengalaman langsung lebih kuat daripada sikap yang terjadi melalui proses belajar lainnya. Seorang remaja yang suka mengebut, misalnya, tidak bisa diberi nasihat dan tetap mengebut walaupun sudah banyak melihat contoh kecelakaan akibat mengebut (dari koran, tv, melihat mobil rusak bekas tabrakan yang sengaja dipajang di tepi jalan oleh polisi). Akan tetapi, begitu ia sendiri mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit selama sebulan, sejak itu ia tidak mau lagi naik motor.

Demikian pula sikap positif terhadap agama, misalnya, akan jauh lebih kuat kepada orang-orang yang karena satu dan lain hal mengalami sendiri suatu peristiwa yang berkaitan dengan rasa keagamaannya (misalnya, melihat cahaya di saat sedang berdoa di malam hari, mendapat “wahyu” berupa “suara” atau “bisikan”, dan sebagainya).

Incoming search terms:

  • pengertian tra
  • teori reasoned action
  • teori action
  • teori reason action
  • teori TRA
  • teori reason of acti
  • theory of reasoned action adalah
  • Jelaskan dengan teori TRA
  • gambar untuk teori reasoned action
  • contoh penerapan reasond action

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian tra
  • teori reasoned action
  • teori action
  • teori reason action
  • teori TRA
  • teori reason of acti
  • theory of reasoned action adalah
  • Jelaskan dengan teori TRA
  • gambar untuk teori reasoned action
  • contoh penerapan reasond action