PENGERTIAN TEORI-TEORI MATERIALIS ADALAH – Teori-teori Marxis. Suatu interpretasi Marxis mengenai subordinasi kaum wanita telah dikemukakan oleh Frederick Engels dalam bukunya yang terkenal The of the Family, Private Property, mul the State (1970, aslinya 1884). Engels memperoleh inspirasi untuk bukunya itu dari ide-ide Marx sendiri, dan dari karya antropolog evolusioner abad xix, Lewis Henry Morgan. Menurut Engels, bentuk-bentuk masyarakat manusia dahulu kala dicirikan oleh ekonomi pro-duksi-untuk-digunakan sendiri. Rumah tangga bersifat komunal, dan semua pekerjaan dilakukan untuk rumah tangga sebagai keseluruhan. Wanita adalah peserta yang sama dalam masalah-masalah kelompok dan mempunyai kontri-busi yang penting dalam produksi ekonomi.

Dengan berkembangnya hak milik pribadi, semua itu menjadi sirna. Laki-laki menjadi pemilik harta benda dan produksi untuk tukar-menukar rrienggan tikan produksi untuk digunakan sendiri. Sebagai pemilik harta benda pribadi, laki-laki unggul secara politik. Wanita mulai berproduksi untuk suami-suami mereka bukan untuk kelompok secara keseluruhan. Jadi, menurut Engels, perkembangan harta benda pribadi dan kontrol oleh laki-lakilah yang merupakan sebab mendasar subordinasi kaum wanita.

Interpretasi ini paling tidak hanya benar sebagian. Engels berpikir bahwa masyarakat-masyarakat yang tidak mempunyai hak milik pribadi dan kelas sosial memberi kedudukan yang sama kepada kaum wanita. Tapi seperti dengan jelas telah kita lihat, tidak demikian halnya. Bukan saja sampai tingkat tertentu keunggulan laki-laki adalah universal, tapi banyak masyarakat pranegara dan prakelas dicirikan oleh bentuk subordinasi wanita yang intensif. Jadi, bukan bahwa harta milik pribadi dan kelas sosial yang merupakan penyebab fundamental subordinasi kaum wanita. Namun demikian, faktor-faktor itu memang telah diassosiasikan dengan penurunan yang tajam dalam status kaum wanita. Engels dengan demikian telah membuat suatu pengertian yang signifikan meskipun teorinya tidak dapat diterima sebagai teori umum mengenai subordinasi kaum wanita. Teori-teori Marx yang secara khusus memfokuskan perhatian kepada subordinasi kaum wanita di dalam masyarakat kapitalis modern juga telah menjadi penting dalam tahun-tahun terakhir ini (cf. Mor ton, 1971; Vogel, 1983). Teori-teori itu menghubungkan pembagian jenis kelamin dengan kebutuhan kaum kapitalis akan angkatan kerja yang dapat dieksploitasikan. Teori-teori itu mengemukakan bahwa keungsulan kaum pria atas kaum wanita adalah hasil dari keunggulan kaum kapitalis atas kaum pekerja. Kaum wanita memainkan peran yan.g penting di dalam memproduksi angkatan kerja yang tak dapat dilakukan oleh kaum pria. Jadi, karena kaum wanita adalah yang mengandung anak maka rnereka harus memproduksi dan terus berproduksi keturunan yang lebih banyak pekerja di masa datang bagi kaum kapitalis. Hal ini memerlukan konsentrasi mereka dalam pekerjaan rumah tangga, yang ikut membantu: menjamin keunggulan suami-suami atas diri mereka.

Pengertian bahwa peranan khusus wanita sebagai yang mengandung anak yang membuatnya berada pada posisi subordinat adalah suatu ide yang penting. Konsentrasi kaum wanita dalam pekerj aan rumah tangga dan tersisih-kannya mereka dari angkatan kerja telah merampas mereka dari sumber-sumber daya yang berharga yang dapat digunakan dalam perjuangan mereka untuk mendapat kesetaraan dengan kaum pria. Akan tetapi, masalah dalam analisis Marx mendesak untuk melihat hal ini sebagai suatu fenomenon kelas. Jadi bagaimana kita dapat menjelaskan posisi inferior kaum wanita yang tidak termasuk dalam kelas subordinat? Kesulitan yang dihadapi kaum Marxis dalam menjawab pertanyaan ini dengan sesuatu konsistensi teoritis menunjukkan bahwa ada yang lebih besar terhadap subordinasi kaum wanita dibandingkan dengan yang mereka maksudkan.

Teori-teori Materialis Non-Marxis. Suatu teori materialis non-Marxis mengenai perananjenis kelamin telah dikembangkan olehMartin dan Voorhies (1975). Mereka menandaskanbahwa peranan jenis kelamin hendaknya sebagi an besar dilihat sebagai konsekuensi adaptif daripada susunan ekologi, teknologi, dan ekonomi tertentu.

Bahwa pria berburu dan wanita meramu di dalam masyarakat pemburu-peramu harus dilihat sebagai sangat adaptif dalam kerangka cara berproduksi. Karena kegiatan peramuan oleh wanita berarti mereka sangat membantu subsiterisi, maka laki-laki tidak mampu monopoli sumber-sumber daya ekonomi, dan agar dapat memonopoli adalah dengan menciptakan bentukbentuk subordinasi wanita. Karena wanita banyak membantu subsistensi, mereka lalu menguasai sumber-sumber daya sendiri dan mampu mengubah kontrol sumber daya ini menjadi status yang relative Status kaum wanita di dalam masyaakat hortikultur dikaitkan dengan kondisi-kondisi material yang menentukan kontrol mereka atas sumber-sumber daya. Dalam masyarakat hortikultur yang tidak memberi penekanan atas sumber daya alam, keturunan matrilineal adalah umum. Pada umumnya memberi wanita st-atus yang cukup tinggi karena wanita menjadi fokus struktur sosial seluruhnya; tanah dimiliki dan diwarisi oleh kelompok-kelompok kerabat matrilineal, dan tenaga kerja produktif wanita diusahakan untuk keuntungan matrilineal mereka sendiri. Dalam masyarakat hortikultur di mana terdapat penekanan yang kuat atas sumber daya, maka keturunan patrilineallah yang berkembang. Tenaga kerja wanita dilakukan untuk keuntungan garis patrilineal suami atau ayah, dan wanita dipandang sebagai sumber daya yang digunakan untuk keuntungan laki-laki. Dalam kondisi demikian, status wanita secara relatif rendah.

Dominasi produksi laki-laki dalam masyarakat agraris oleh Mar tin dan Voorhies dipandang sebagai sangat adaptif. Dibandingkan dengan wanita, laki-laki jauh lebih cocok untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan tenaga kerja yang intensif, karena wanita harus menerima tanggung jawab n.lengandung dan mengasuh anak. Kontrol pria atas sumber daya ekonomi memungkinkan mereka untuk memperoleh kontrol atas seluruh lingkungan kehidupan sosial di luar rumah tangga dan karena demikian maka status kaum wanita turun sampai suatu titik yang sangat rendah. Kebanyakan masyarakat industri secara historis telah melestarikan dikhotomi dalam-luar masyarakat agraris karena laki-laki terus mendominasi produksi. Akan tetapi, kemajuan dalam teknologi industri telah banyak mengubah aspek peranan jenis kelamin tradisional. Teknologi yang semakin rumit sekarang telah memungkinkan kaum wanita untuk melakukan sangat banyak peranan di luar rumah tangga. Karena mereka telah mulai melakukan hal ini, maka status menyeluruh mereka telah membaik secara mencolok. Suatu teori yang sama telah dikembangkan oleh Lesser Blumberg (1984). Blumberg menandaskan bahwa faktor kunci yang menentukan status kaum wanita dalam masyarakat dunia ialah tingkat kekuasaan ekonomi mereka. Apabila kekuasaan ekonomi kaum wanita tinggi, maka mereka mampu menerjemahkan kekuasaan ini ke dalam status yang relatif tinggi; sebaliknya, apabila kekuasaan ekonomi kaum wanita rendah, maka status sosial hampir pasti rendah.

Blumberg mengemukakan tiga faktor yang menentukan tingkat keku-asaan ekonomi kaum wanita. Salah satu ialah tak tersisihkannya tenaga kerja kaum wanita yang strategis. Faktor ini mencakup hal-hal seperti sejauh manakah wanita menyumbang kebutuhan subsistensi total rumah tangga, kontrol para pekerja wanita atas keahlian teknik, sejauh manakah para pekerja wanita bebas dari pengawasan laki-laki, dan besar kohesinya kelompok-kelompok kerja wanita. Faktor kedua ialah sistem organisasi kekerabatan. Di mana terdapat matrilokalitas dan matrilini, kekuasaan ekonomi kaum wanita lebih tinggi karena keterlibatan mereka yang lebih besar di dalam manajemen dan pemilikan harta benda. Faktor terakhir ialah sifat sis tem stratifikasi. Blumberg menandaskan bahwa kaum wanita kurang dinilai dalam masyarakat yang mempunyai sis tem stratifikasi yang berkembang dengan baik karena stratifikasi yang intens cenderung untuk mengurangi tingkat ekonomi yang dimiliki kaum wanita. Blumberg menekankan bahwa pemilikan kekuasaan ekonomi oleh kaum mem.punyai arti yang lebih besar dari sekedar kapasitas untuk menerjemahkan kekuasaan itu ke dalam status yang tinggi — ke dalam pandangan dan respek yang positif terhadap mereka pada pihak laki-laki. Ini juga berarti mempunyai kemampuan untuk mengatur hidup mereka sendiri dengan cara yang relatif bebas dari kontrol laki-laki. Sebagaimana dikemukakan oleh Blumberg, kekuasaan ekonomi memberi kepada kaum wanita “pilihan hidup” yang besar. Pilihan-pilihan itu meliputi kemampuan untuk mengontrol hal-hal seperti reproduksi, seksualitas, perkawinan, perceraian, masalah-masalah rumah tangga, kebebasan untrik bergerak, dan akses kependidikan. Interpretasi Martin, Voorhies dan Blumberg adalah untuk mengatasi keterbatasan pendekatan Marx. Teori-teori itu secara meyakinkan memperli-hatkan bahwa peranan jenis kelamin erat kaitannya dengan susunan infra_ struktur yang melandasinya. Dengan demikian mereka, membenarkan keseluruhan variasi yang dikemukakan oleh sistem peranan jenis kelamin. Apabila wanita mengambil bagian utarna dalam produksi, mereka akan mengontrol sumber daya, yang kemudian mereka ubah menjadi status yang relatif tinggi dan mengontrol hidup mereka sendiri. Sebaliknya, apabila sebagian besar wanita tersisih dari produksi maka mereka menguasai sedikit saja sumber daya; laki-laki mengontrol sumber daya ekonomi lalu mengubahnya menjadi kesempatan untuk mengontrol dan mensubordinasikan kaum wanita dalam semua lingkungan kehidupan sosial yang utama, dan laki-laki dengan cepat mengambil kermtungan dari kesempatan ini untuk memajukan kepentingan mereka sendiri.

Filed under : Bikers Pintar,