PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG ASAL MULA NEGARA ADALAH

62 views

PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG ASAL MULA NEGARA ADALAH – Berbagai teori yang berusaha menjelaskan proses umum terbentuknya negara pristin telah dikemukakan oleh para ilmuwan sosial. Yang paling penting dari teori-teori itu adalah: (1) teori fungsionalis, yang memberi penekanan pada peran negara sebagai suatu faktor integrasi masyarakat dan melihat kemunculannya seb agai suatu struktur organisasi yang perlu untuk mengkoordinasikan sistem-sistem sosio-budaya yang kompleks; (2) teori Marx, yang menekankan pentingnya perjuangan kelas dalam menjelaskan munculnya negara; dan (3) teori ekologi, yang menekankan pentingnya peranan tekanan penduduk dan lingkungan dalam terbentuknya negara.

Suatu Teori Fungsionalis. Teori fungsionalis yang terkenal mengenai negara dapat dijumpai di dalam karya Elman Service (1975, 1978). Daripada menggambarkan negara sebagai suatu lembaga yang opresif dan mengeksploitasi, Service memandang negara sebagai suatu bentuk kepemimpinan yang tersentralisasi yang mengorganisasikan dan mengkoordinasikan masyarakat untuk keuntungan bersama individu-individu dan kelompok-kelompok yang ada di dalamnya. Karena itu, ketika negara muncul maka pembedaan pokok dalam masyarakat bukan di antara yang kaya dan yang miskin, atau yang menindas dan yang ditindas, tetapi di antara kelompok yang memerintah dan kelompok yang diperintah. Negara itu muncul untuk melayani secara lebih efektif kebutuhan mereka yang diperintah.

Service melihat ada tiga tipe utama segi-segi keuntungan yang timbul dari penciptaan negara itu. Yang pertama adalah yang menyangkut redistribusi ekonomi. Negara adalah organ yang memobilisasi sumber-sumber daya alam dan orang-orang untuk melakukan fungsi-fungsi produksi dan konsumsi yang penting. Daerah-daerah ekologis yang lebih didiversifikasi dikatakan sebagai dieksploitasi melalui organisasi setingkat negara. Produk-produk dari para pekerja yang terampil dan berbagai zone ekologis dipandang telah dikumpul untuk keuntungan pengadilan, birokrasi, keagamaan, tentara, dan juga warga negara secara keseluruhan. Keuntungan utama kedua yang dimaksudkan oleh Service ialah yang diberikan oleh bentuk organisasi perang yang baru. Perang yang diintensifkan dikatakan merupakan suatu ciri integratif daripada masyarakat karena perang dapat meningkatkan kemakmuran dalam bentuk barang rampasan, tawanan, dan upeti sehingga memperbesar “kebanggaan nasional”. Keuntungan utama ketiga yang dihasilkan oleh negara ialah bangunan-bangunan umum. Negara mengawasi pembangunan tempat ibadah, makam-makam, piramida, tembok-tembok, jalan-jalan, sis tem irigasi, dan banyak proyek umum lainnya. Skep tisisme yang besar telah timbul untuk membenarkan teori ini. Agaknya tidak pada tempat untuk bersikap optimistik secara ekstrim untuk menandaskan bahwa timbulnya negara akan menghasilkan keuntungan yang mitif bagi warga masyarakat secara kolektif. Tentu saja, timbulnya negara memang menghasilkan keunt-ungan-keuntungan penting tertentu, namun tidak bagi masyarakat sebagai keseluruhan. Sebaliknya, keuntungan-keuntungan itu sebagian besar diraih oleh kelas penguasa. Service mengemukakan bahwa melakukan peperangan juga memberi keuntungan bagi masyarakat sebagai keseluruhan. Namun hasil rampasan kebanyakan dinikmati oleh masyarakat yang mempunyai hak istimewa, khususnya kelas yang berkuasa. Service juga menandaskanbahwa pemban, gunan tempat ibadah, makam-makam, piramida, dan bangunan umum lainnya memberi keuntungan sosial yang besar. Namun mayoritas warga yang terbesar tidak membaik hidupnya oleh adanya bangun an-bangunan itu. Sesungguhnya, banyak orang yang menderita banyak kesulitan tambahan karena adanya proyek-proyek konstruksi itu karena merekalah yang menyumbang tenaga untuk pembangunannya.

Teori Marx. Alternatif terhadap interpretasi fungsionalis tentang asai mula negara ialah teori konflik, yang salah satu versi dari teori ini adalah teori Marx. Pandangan Marx yang klasik mengenai negara menandaskan bahwa negara, menurut kata-kata Marx sendiri, adalah “komite eksekutif kelas penguasa”. Yakni, negara adalah suatu badan politik yang terutama berfungsi melindungi kepentingan ekonomi kelas sosial yang dominan dalam suatu masyarakat yang berstratifikasi. Dengan dibaginya masyarakat ke dalam kelas-kelas, maka negara menjadi suatu keharusan dari sudut pandangan kelas dominan. Friedrich Engels (1970: 232,235 aslinya 1884).

Sebagai suatu tahap perkembangan ekonomi tertentu, di mana pembagian masyarakat menjadi kelas-kelas diperlukan, negara menjadi suatu keharusan karena adanya pembagian ini. Mata rantai sentral dalam masyarakat beradab ialah negara, yang dalam segala masa tanpa kecuali negara kelas penguasa dan dalam segala hal terus menjadi suatu mesin untuk tetap menindas dan mengeksploitasi kelas di bawahnya.klasik, seperti di polinesia, sudah pasti berstratifikasi, karena di sana terdapat pembagian raasyarakat ke dalam kelompok-kelompok sosial yang mempunyai kontrol yang tidak sama atas sumber-sumber daya produktif. Tetapi chiefdom Polinesia bukanlah negara menurut definisi, karena mereka tidak mempunyai 4nonopoli kekuatan yang cukup untuk mengatasi para anggotanya secara konsisten. Namun, dengan modifikasi sedemikian maka pandangan umum Fried dert.gan baik menunjukkan: Masyarakat yang mempunyai sistem stratifikasi yang intens dan cukup sempurna memang mempunyai negara, dan di dalam masyarakat itu terdapat suatu hubungan yang sangat erat di antara kelas ekonomi yang berkuasa dan negara. Dan, meskipun pertanyaannya masih belum terjawab, banyak bukti menunjukkan bahwa sistem-sistem stratifikasi yang sempurna dengan kelas-kelas penguasanya secara historis muncul pertama, baru kemudian diikuti oleh munculnya negara (Fried, 1978:46; Haas, 1982). Semua ini menunjukkan jasa yang besar teori Marx, atau sekurang-kurangnya mengemukakan bahwa teori itu mengantarkan kita menurut arah yang lebih berhasil bila dibandingkan dengan teori fungsionalis Service. Akan tetapi, masalah ini tidak akan dapat teratasi dengan mudah, karena ada suatu teori konflik lain yang belum kita bahas — teori keterbatasan (circumscription theory) yang terkenal dari Carneiro — yang tampak sekurangkurang sama menonjolnya dengan interpretasi Marx. Teori lingkungan. Banyak sarjana telah memberi perhatian kepada peranan faktor-faktor demografi dan ekologi dalam munculnya negara (cf. Kirch, 1984; Johnson dan Earle, 1987), tetapi teori yang paling terkenal dari tipe ini ialah teori lingkungan dari Carneiro (1970,1981, 1987). Teori ini sesungguhnya lebih dari hanya sebagai teori asal mula negara; teori ini adalah teori tentang seluruh arah evolusi politik. Carneiro mencatat bahwa suatu faktor yang umum bagi semua daerah utama dunia di mana negara-negara pristin itu timbul ialah apa yang disebut keterbatasan lingkungan (environmental circumscription). Keadaan ini ada apabila daerah-daerah yang mempunyai tanah pertanian yang kaya dikelilingi oleh daerah-daerah yang sangat miskin atau tanah-tanah yang tak dapat digunakan ataupun oleh rintangan-rintangan alam, misalnya barisan gunung yang besar. Operasi faktor ini yang potensial dapat dilihat di daerah-daerah terbentuknya negara pristin seperti Timur Tengah, di mana terdapat lembahlembah sungai yang subur yang dikelilingi oleh bentangan-bentangan tanah luas yang gersang yang kekurangan curah hujan, dan di Peru, di mana lembahlembah yang subur dibatasi oleh barisan gunung yang besar. Untuk memperlihatkan konsekuensi-kotisekuensi yang mungkin dari-pada lingkungan yang membatasi itu, Carneiro mulai dengan suatu lukisan entang situasi ekologi yang lain, yakni lembah Amazone di Amerika Serikat. i sini terdapat suatu daerah hutan tropis yang luas di mana tidak terdapat negara. Wilayah bumi ini mungkin telah lama dihuni oleh sejumlah desa hortikultura. Di sini tersedia tanah yang melimpah untuk hortikultura, kepa datan penduduknya sangat rendah, dan karena itu masalah tekanan penduduk kecil saja. Peperangan adalah gejala umum di banyak masyarakat hortikultura, tidak dilakukan pada tanah itu sendiri. Dengan melimpahkan tanah yang cocok untuk hortikultura, kekalahan dalam perang berarti bahwa kelompok yang kalah itu dapat saja 13rpindah dan membentuk kembali tanah baru. Dalam keadaan demikian, kita dapat mengharapkanbahwa setiap masyarakat akan mampu mempertahankan otonomi mereka dan memelihara adaptasi sosio-politik mereka dengan lingkungan.

Situasi ini berbeda apabila terdapat keterbatasan lingkungan. Sebagai-mana dicatat oleh Carneiro, apabila terdapat batas-batas yangjelas tersedianya tanah produktif. Pertumbuhan penduduk segera akan menjurus kepada pertumbuhan dalam jumlah desa yang menghuni tanah itu, dengan akibat semua tanah yang dapat ditanami pada akhirnya ditanami. Hal ini akan memberi tekanan kepada desa-desa itu untuk melakukan intensifikasi produksi agar dapat memberi makan penduduk yang semakin bertambah. Dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk, maka tekanan penduduk menjadi suatu masalah besar, yang cenderung menjurus kepada diintensifkannya perang agar dapat memperoleh tanah tambahan. Dalam keadaan demikian, konsekuensi peperangan membuat kelompok yang ditaklukkan tidak dapat berpencar ke daerah baru, karena tidak terdapat tempat yang cocok untuk pergi. Kelompok yang ditaklukkan, dengan demikian, cenderung untuk tersubordinasi secara politis di bawah kelompok yang menang, yang menjurus kepada terbentuknya sistem politik yang kompleks pada tingkat chiefdom. Dengan adanya pertumbuhan penduduk selanjutnya dan meningkatnya militerisme dalam perjuangan untuk memperoleh tanah, maka chiefdom itu pada akhirnya akan berkembang menjadi pemerintahan tingkat negara yang semakin kompleks. Akibat akhir daripada proses evolusi demikian mungkin saja terbentuknya karajaan politik yang besar, seperti yang terdapat di daerah-daerah yang dibatasi seperti Peru dan Timur Tengah.

Ada dua buah pikiran yang telah ditambahkan oleh Carneiro pada teori dasar ini adalah konsep-konsep keterbatasan sosial dan konsentrasi sumber daya. Keterbatasan sosial terjadi bilamana rintangan-rintangan terhadap tindakan manusia ialah masyarakat lain, bukannya ciri-ciri lingkungan geografis. Ini dapat berfungsi sebagai suatu faktor dalam evolusi politik terpisah dari, atau ditambahkanpada keterbatasan fisik. Konsentrasi-konsentrasi sumber daya akan ada apabila suatu lingkungan melimpah dengan sumber daya tanaman dan hewan. Kelimpahan ini cenderung menarik orang ke daerah itu dan merangsang pertumbuhan penduduk. Tekanan penduduk cenderung terjadi, tetapi gerakan ke luar dari daerah ini dapat terhalang oleh adanya kelompok-kelompok lain — oleh keterbatasan sosial. Perang dan penaklukan politik, jadi evolusi politik, merupakan akibat-akibat yang dapat diduga. Carneiro (1987) mengemukakan bahwa jenis proses inilah yang telah menimbulkan evolusi politik yang besar di lingkungan-lingkungan yang terbatas, seperti halnya di beberapa daerah Amazona. Teori keterbatasan ini barangkali merupakan teori yang paling berkesan mengenai evolusi politik yang kita miliki, dan teori ini telah tahan terhadap ujian waktu dengan baik (Graber dan Roscoe, 1988). Melalui penelitian arkeologis dan antropologis teori ini telah teruji, dan hasilnya lebih banyak segi positif daripada segi negatif (Kirch, 1984, 1988; Schacht, 1988; Cameiro, 1988). mungkin Carneiro adalah yang sangat dekat dengan pengidentifikasian beberapa elemen kunci dalam evolusi politikjangka panjang. Akan tetapi, salah satu kesulitan yang menggoda adalah menyangkut penekanan Carneiro yang kuat atas perang dan diabaikannya proses ekonomi dalam evolusi politik. Seperti yang dikemukakan oleh Patrick Kirch (1988) dan Robert Schacht (1988), memang ada suatu korelasi yang kuat di antara intensifikasi pertanian dan evolusi politik, dan kedua-keduanya erat hubungannya dengan tekanan penduduk dan keterbatasan lingkungan. Apakah chiefdom dan negara adalah respons politik terhadap pertumbuhan sistem stratifikasi yang diasosiasikan dengan intensifikasi pertanian, seperti yang secara mendasar dikemukakan oleh teori Marx? Apakah perubahan ekonomi lebih penting daripada, atau sekurangkurangnya sama pentingnya dangan perang? Jelas diperlukan lebih banyak penelitian untuk menentukan jawaban yang kuat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang penting itu, dan sementara itu adalah sulit untuk membuat suatu pilihan yang jelas di antara teori keterbatasan dan teori Marx —tentunya, dengan menerima bahwa suatu pilihan perlu dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *