PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG HUBUNGAN RAS KOMPETITIF

55 views

PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG HUBUNGAN RAS KOMPETITIF – Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan eksistensi antagonisme rasial selama masa hubungan ras kompetitif. Yang paling bernilai dari teoriteori ini memberi penekanan pada antagonisme rasial sebagai suatu hasil dari perjuangan kelas dan kekuatan-kekuataniekonomi. Namun para ahli teori ekonomi itu mengemukakan interpretasi yang berlawanan dan bertentangan mengenai sebab dasar antagonisme rasial itu. Interpretasi Marx yang ortodoks menandaskan bahwa antagonisme rasial itu adalah produk langsung konflik antara modal dan tenaga kerja (Cox, 1948; Szymanski, 1976; Reich, 1977). Kaum kapitalis menginginkan tenaga kerja yang semurah mungkin dan bertindak menurut cara-cara yang dengan sengaja dirancang untuk tetap menekan turun biaya tenaga kerja. Kaum kapitalis memanfaatkan perbedaan ras untuk melanjutkan kepentingan ekonomi mereka sendiri. Mereka secara sadar merangsang antagonisme rasial di antara pekerja kulit putih dan kulit hitam, sehingga dengan demikian membagi kelas pekerja itu sendiri. Hal ini akan mencegah kelas pekerja itu mencapai suatu tingkat solidaritas yang tinggi dan memanfaatkan potensi organisasinya, sehingga membatasi kemampuannya untuk menuntut upah yang lebih tinggi.

Edna Bonacich (1972, 1979) telah mengemukakan bahwa interpretasi ini terlalu disederhanakan mengenai dinamika antagonisme rasial itu. Ia malah memadukan suatu teori pasar tenaga kerja yang terbagi-bagi. Asumsi sentral teori ini ialah bahwa antagonisme rasial berkembang pertama kali dalam suatu pasar tenaga kerja yang terbagi menurut garis ras. Agar suatu pasar tenaga kerja terbagi maka pasar itu “harus mengandung sekurang-kurangnya dua kelompok pekerja yang nilai kerjanya berbeda untuk pekerjaan yang sama, atau akan berbeda jika mereka melakukan pekerjaan yang sama” (1972:549). Teori pasar tenaga kerja yang terbagi ini menandaskan bahwa, bukannya akibat suatu konflik di antara kaum kapitalis dan kaum pekerja melainkan antagonisme rasial akibat hubungan-hubungan antara tiga kelompok ekonomi: kapitalis, tenaga kerja yang dibayar tinggi, dan tenaga kerja yang dibayar lebih murah. Kaum kapitalis mempunyai tujuan utama yaitu memperoleh tenaga kerja yang sedapat mungkin murah dan patuh. Apabila biaya tenaga kerja terlalu tinggi, maka jika mungkin kaum kapitalis akanberusaha menggunakan tenaga kerja yang lebih murah. Kepentingan utama dari tenaga kerja yang dibayar tinggi ialah mempertahankan agar upah itu tinggi dan mencegah adanya kelompok kerja lain yang menggerogoti keamanan ekonominya. Kelompok ini dengan demikian kuatir akan adanya persaingan dari tenaga kerja lebih murah dan akan melakukart apa yang dapat dilakukan guna menyingkirkan berbagai ancaman. Tentu saja tenaga kerja yang lebih murah berkeinginan untuk memaksimalkan kepentingan ekonominya, dan hal ini mendorongnya ke dalam persaingan dengan tenaga kerja yang dibayar lebih tinggi. Kaum kapitalis dapat saja berusaha untuk rnenggunakan tenaga kerja yang lebih murah sebagai pendobrak pemogokan. Antagonistik rasial atau etnik akan berkembang apabila tenaga kerja yang dibayar lebih tinggi dan tenaga kerja yang lebih murah berasal dari kelompok-kelompok kelas atau etnik yang berbeda. Antagonisme ini dapat mengambil salah satu dari bentuk utama, bergantung pada kondisi-kondisi yang melandasinya: gerakan eksklusi atau sistem kasta. Gerakan eksklusi (penyingkiran) timbul bilamana kelompok tenaga kerja yang lebih murah tinggal di luar suatu wilayah tertentu tetapi ingin bermigrasi ke situ. Dengan adanya gerakan tenaga kerja yang lebih murah ke pasar tenaga kerja yang sebelumnya dikuasai oleh tenaga kerja yang dibayar lebih tinggi, maka tenaga kerja yang dibayar lebih tinggi itu akan mengalami ‘‘uatu ancaman ekonomi langsung dan mulai menuntut agar kelompok tenaga kbrja yang lebih murah itu disingkirkan dari pasar tenaga kerja seluruhnya.Berulangkali kita menemukan kaum kapitalis menaruh perhatian kepada, dan sampai tingkat tertentu berhasil dalam, mempekerjakan pekerja kulit hitam yang lebih murah dalam jumlah yang lebih besar. Namun para pekerja kulit putih yang secara ekonomis terancam oleh tindakan demikian sangat berhasil dalam berusaha untuk menetapkan pengaturan-pengaturan kasta rasial guna melindungi posisi ekonomi mereka yang lebih istimewa. Pada akhirnya, periode hubungan ras industri modern dikatakan telah meletakkan ciri Amerika Serikat sejak akhir Perang Dunia II sampai sekarang. Wilson percaya bahwa tak satupun teori-teori itu dapat secara memadai menjelaskan struktur stratifikasi ras selama periode ini (lihat topik khusus pada akhir bab ini). Penegasan Wilson mengenai sifat pelengkap teori Marx ortodoks dan teori pasar tenaga kerja terbagi agaknya juga berlaku untuk sejarah antagonisme ras di Afrika Selatan. Teori Marx ortodoks agaknya berlaku untuk periode pra-industri di Afrika Selatan tetapi sejak awal industrialisasi Afrika Selatan, teori pasar tenaga kerja terbagi mempurtyai interpretasi yangjauh lebih memadai (Bonacich, 1981; Ndabezitha dan Sanderson, 1988). Seperti dicatat di muka, masa hubungan ras kompe titif di Afrika Selatan mulai dengan berkembang-nya pertambangan emas berskala besar dalam tahun 1886. Pemilik tambang kulit putih menggunakan metode koersif untuk menarik orang Afrika ke tambangtambang itu untuk bekerja dan mendapat upah. Untuk berbagai alasan orang Afrika dapat dipekerjakan dengan mendapat tingkat upah yang sangat rendah, sehingga terdapatlah suatu pasar tenaga kerja terbagi di Afrika Selatan sejak awal era relasi ras kompetitif. Para pemilik tambang kapitalis berusaha mempekerj akan orang Afrika dalam jumlah yang semakin besar karena murahnya tenaga mereka dan ini berarti bahwa mereka semakin menjadi ancaman ekonomis terhadap pekerja tambang kulit putih. Sebagai akibat, pecahlah sejumlah konflik di antara para pekerja kulit putih dan pekerja Afrika, dan para pekerja kulit putih berusaha keras untuk mencegah para pemilik tambang mendapatkan orang Afrika. Pada tahun 1924 para pekerja kulit putih berhasil membentuk organisasi yang peka terhadap keinginan mereka untuk menyingkirkan orang Afrika bersaing dengan mereka, sehingga pada waktu itu terbentuklah dasar-dasar sistem apartheid modern (Fredrickson, 1981). Penindasan sistem apartheid yang luar biasa dewasa ini tentunya mencerminkan usaha-usaha yang berbahaya dari minoritas numerikal orang kulit putih yang mempunyai hak-hak istimewa untuk melindungi diri mereka terhadap ancaman ekonomi yang besar yang diperhadapkan oleh kira-kira duapertiga penduduk. Inggris ternyata merupakan suatu kasus yang baik untuk rnenerapkan teori pasar tenaga kerja terbagi itu. Terdapat suatu korelasi yang nyata di antara meningkatnya imigrasi sesudah Perang Dunia II ke Inggris dari Hindia Barat dan anak benua India dan timbulnya antagonisme rasial. Orang Inggris menunjukkan ketidaksenangan rasial dan etnik yang besar sebelum perang Fryer, 1984), tapi pada tahun-tahun awal sesudah perang imigrasi relatif &terima (Layton-Henry, 1984), barangkali karena mereka tidak lagi merupakan ancaman ekonomi yang berarti (memang, karena kurangnya tenaga kerja segera sesudah perang). Tetapi, karena jumlah mereka bertambah, mereka mulai memperlihatkan ancaman serius terhadap pribumi Inggris. Seperti dikemukakan oleh Zig Layton-Henry (1984:50):

Ada usaha dari cabang-cabang lokal industri transpor untuk menyingkirkan para pekerja berkulit hitam, tetapi kekhawatiran tentang imigrasi lebih tersebar luas daripada ini. Pada tahun 1956 ketika timbul ketegangan Jack Jones, organisator Midlands dari Tlasport and General Workers Union, mengusulkan agar para pekerja kulit berwarna “dapat membentuk suatu wadah tenaga kerja murah yang dapat digunakan untuk mengurangi standar upah dan melawan serikat-serikat buruh” Birmingham Mail, 5 Juni 1956). Dalam bulan Mei 1955 konperensi dua tahunan Transport and General Workers Union menuntut kontrol yang paling ketat atas semua bentuk imigrasi dan dalam tahun 1957 suatu gerakan meminta agar pemerintah melakukan kontrol yang ketat atas jumlah pekerja kulit berwarna yang diperbolehkan memasuki Inggris telah disahkan dengan dukungan eksekutif. Sekretaris umum yang baru, Frank Cousins, mengatakan dalam pidato, “Kita tak dapat menerima bahwa orangorang itu diperbolehkan masuk tanpa dibatasi ke negeri ini sebagai basis untuk mengurangi kekuatan tawaran kita” (Manchester Guardian, 11 Juli 1957). Jelaslah bahwa elemen kritis dalam hubungan ras Inggris kontemporer adalah kekhawatiran mengenai imigrasi. Para pekerja kulit putih telah mem-bentuk diri ke dalam gerakan eksklusi, dan dalam tahun 1960-an mereka telah didukung oleh wakil politik mereka yang utama, partai buruh. Demikianlah yang terjadi, meskipun partai buruh secara filosofis menentang pembatasan imigrasi (Layton-Henry, 1984).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *