PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG TOTEMISME ADALAH

67 views

PENGERTIAN TEORI-TEORI TENTANG TOTEMISME ADALAH – Dalam seperernpat terakhir abad ke-19, meski minat untuk mempelajari kekerabatan tetap kuat, aspek-aspek lain dari kebudayaan mulai menjadi pokok bahasan. Di antara pokok-pokok bahasan ini adalah agama, khususnya totemisme. Uraian singkat tentang “totemisme” dapat membantu menjelaskan pokok-pokok bahasan ini.

“Totemisme” pada masa kini sering kali ditulis dalam tanda kutip karena ada pertanyaan yang konkret tentang apakah kategori itu sendiri merepresentasi suatu gejala tunggal, spesifik. Banyak yang beranggapan bahwa bila kita membicarakan totemisme, kita sebenarnya membicarakan hal-hal yang sangat berbeda pada berbagai kebudayaan. Akan tetapi, para penulis pada abad ke 19 umumnya mempersepsikan totemisme sebagai gejala yang ditemukan di seluruh dunia, yang ditemukan di Amerika Utara dan Selatan, Australia, Asia, Afrika, dan Pasifik—yang merupakan representasi simbolik dari sosial oleh alam—juga ditemukan dalam pemikiran Eropa juga, tetapi tidak pada tingkatan yang sama, dan tentu saja tidak dengan koherensi yang sama sebagaimana halnya pemikiran masyarakat Aborigin Australia. Simbolisme militer adalah satu contoh yang cukup jelas—satuan-satuan pasukan menggunakan nama-nama spesies sebagai panggilan.

Kata “totem” itu sendiri berasal dari bahasa orang Indian Ojibwa. Kata ini diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun. 1791 oleh saudagar Inggris, tetapi deskripsi pertama yang baik mengenai gagasan totem Ojibwa adalah pada tahun 1856 oleh seorang misionaris Methodist dan kepala suku Ojibwa. Dalam masa selanjutnya, istilah totem menjadi marak digunakan dalam konsep lintas-budaya totemisme dalam berbagai etnografi (lihat, misalnya, Levi-Strauss, 1969b [1962]). Dalam kebudayaan orang Ojibwa, totem dikontraskan dengan manitoo. Totem direpresentasikan oleh suatu spesies hewan sebagai simbol dari klan patrilineal. Totem tampak dalam mitologi, dan ada aturan bahwa seseorang dilarang kawin dengan orang yang mempunyai totem yang sama. Manitoo juga direpresentasikan oleh suatu spesies hewan, tetapi ia lebih merupakan makhluk halus penjaga individu ketimbang sebagai penjaga suatu kelompok. Manitoo datang dalam mimpi, dan seseorang tidak boleh membunuh atau memakan hewan manitoo tersebut dalam kehidupan seharihari.

Konsep yang sama ditemukan dalam berbagai kebudayaan lain, akan tetapi ada beberapa perbedaan. Misalnya, etnografer Australia mencatat enam bentuk `totemisme’ di kalangan masyarakat Aborigin, dan setiap masyarakat memiliki dua atau tiga. Keenam jenis totem itu adalah: (1) totem individu, yang kira-kira mirip dengan manitoo Ojibwa, biasanya dimiliki oleh dukun penyembuh ketimbang; (2) totem klan, mirip totem Ojibwa; (3) totem fratri, suatu fratri adalah suatu kelompok klan; (4) totem paruh-masyarakat (moiety), di mana masyarakat terbagi atas `paruhparuh’, baik atas dasar prinsip patrilineal maupun matrilineal; (5) bagian dan subbagian totem, bagian-bagian ini merupakan kategonr-kategori yang dapat saling kawin yang didefinisikan melalui kombinasi prinsipprinsip keturunan dan generasi; dan, (6) totem berlandaskan tempat, misalnya, termasuk dalam hal ini makhluk-makhluk halus yang menghuni tempat-tempat yang dianggap suci. Di Australia, biasanya semua jenis totem ini merepresentasi makhluk-makhluk yang kulitnya tak boleh dimakan dan yang anggota-anggota klannya tidak boleh dijadikan istri atau pasangan hidup. Jadi, mereka cenderung menggabungkan prinsipprinsip abstrak manitoo Ojibwa dan totem-totem Ojibwa.

Sebagian besar antropolog berpendapat bahwa kajian totemisme adalah awal dari pengkajian mengenai agama secara lebih luas dalam evolusionisme. Dua tokoh penting dicatat karena kedudukan mereka dalam pendekatan antropologi mengenai agama, pengaruh besar dan kualitas karya mereka: Edward B. Tylor dan James Frazer. Selama berpuluh tahun publikasi mereka memperoleh pengakuan publik, dan hal ini mencerminkan kuatnya pandangan evolusionis pada masa itu: Misalnya, pendapat Frazer pada masa itu bersaing dengan difusionisme, fungsionalisme, dan relativisme yang muncul sebagai generasi selanjutnya yang menentang evolusionisme. Melalui tulisannya, Primitive Culture (1964 [1871]), Tylor membahas evolusi kebudayaan melalui doktrin survival. Gagasannya adalah bahwa kebudayaan masa kini mempertahankan unsur-unsur yang kini hilang fungsinya, tetapi yang keberadaannya pada masa kini merupakan kesaksian dari arti penting unsur kebudayaan tersebut pada masa lampau. Terminologi kekerabatan Morgan sebagaimana dibicarakan di atas adalah sebuah contoh. Selain itu, Tylor juga membicarakan ornamen pada pakaian yang pada mulanya fungsional tapi kemudian hanya tertinggal sebagai dekorasi; misalnya, kancing yang tidak digunakan di balik kerah jaket, atau kerah baju yang dipotong. Salah satu aspek yang paling menarik dari metode Tylor adalah kajiannya tentang anak-anak sekolah di London. Ia yakin bahwa karena anak-anak itu belum matang dan belum terdidik dengan baik, maka mereka dapat menyerap begitu saja pikiran-pikiran primitif. Dalam konteks agarna, ia berpandangan bahwa tetap bertahannya (survival) ritus-ritus ‘dan keyakinan agama.berlangsung terus untuk waktu yang lama meskipun setelah makna aslinya dilupakan, sedangkan pemikiran-pemikiran yang lebih instingtif dan primitif dari manusia yang sudah beradab sebenarnya masih mempertahankan unsurunsur tertentu dari perkembangan gagasan agama sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *