PENGERTIAN TEORI WEBERIAN – Barangkali, penjelasan mengenai transisi menuju kapitalisme yang paling terkenal adalah karya Max Weber, The P,otestan Ethic and The Spirit Capitalism (1958, aslinya 1905). Buku ini sebagian dipengaruhi keyakinan Weber bahwa materialisme historis marxian hanya menekankan pada satu sisi. Padahal seharusnya dibutuhkan penyeimbangan dengan lebih menekankan peranan faktor gagasan sebagai penyebab perubahan sejarah. Perhatian Weber terpusat kepada upaya memahami pertumbuhan sistem kapitalisme rasional di Barat. Dia menaruh perhatian pada determinasi: mengapa kapitalisme muncul di Barat dengan skala yang besar, sementara di dunia Timur keadaan begitu tenang dan tidak ada perkembangan. Weber sama sekali tidak mengesampingkan arti faktor-faktor ekonomi dalam masa transformasi di Barat, tetapi dia menekankan pada peranan Reformasi Protestan. Dia melihat Reformasi sebagai suatu pendorong kritis, dan ia menarik kesimpulan bahwa kekosongan transformasi religius di Timur sebagai penghalang perkembangan kapitalisme di sana.

Weber berpikir bahwa ajaran Protestan, terutama Calvinis, menawarkan suatu doktrin penyelamatan umat manusia yang berakar dari ajaran Gereja Katolik. Disamping menekankan iman kepada Tuhan sebagai kunci penyelamatan, Calvinisme juga mengetengahkan suatu bentuk penyelamatan yang lebih pribadi dan lebih individualistis. Hal itulah yang disebut Weber sebagai etika Protestan. Etika ini menekankan bahwa kerja keras dan sukses besar adalah keinginan Tuhan. Seandainya itu bukan jalan penyelamatan langsung, paling tidak merupakan pertanda dari Tuhan bahwa seseorang telah diselamatkan. Sukses dalam dunia bisnis yang dicapai melalui usaha sendiri, merupakan “jalan bebas hambatan” menuju kehidupan surgawi. Weber berpikir bahwa orientasi religius baru tersebut mengubah sikap masyarakat terhadap dunia, menj adi sikap yang menekankan penguasaan yang lebih rasional terhadap dunia dan mengubahnya. Perubahan sikap tersebut membawa dampak langsung pada dunia ekonomi. Dengan penyembahan Tuhan dan jaminan keselamatan manusia, umat manusia diajak untuk menciptakan sistem ekonomibaru yang berdasarkan pencapaian keuntungan yang rasional. Weber buruburu menegaskan bahwa kapitalisme tidak berkembang hanya karena agama Protestan, tetapi tanpa agama dengan sistem nilai seperti itu, kapitalisme tidak akan berkembang seperti sekarang ini. Protestanisme telah memberi keseimbangan pada perkembangan kapitalis Barat.

Meskipun Tesis Weber ini telah diterima secara luas oleh banyak ilmuwan sosial, namun tesis tersebut mendapat kritik pedas dari para kritisi yang tampaknya mempunyai dasar yang kuat untuk membantah. Sejarawan Swedia, Kurt Samuelsson (1957) menolak mentah-mentah tesis Weber tersebut, dengan mengatakan bahwa bukti-bukti yang diketengahkan Weber adalah tidak benar, dan dikatakan pula bahwa tidak pernah ada hubungan sama sekali antara Protestanisme dan kapitalisme. Dengan pandangan kritisi tersebut, argumen Weber menjadi agak berlebihan. Protestanisme dan kapitalisme memang berhubungan secara historis, tetapi hal itu tidak berarti menunjukkan bahwa Protestanisme berdampak pada kapitalisme. Karena hubungan keduanya bisa menjadi sebaliknya: kapitalismelah yang telah menimbulkan per-ubahan pada Protestanisme. Pandangan seperti itu dianut oleh sejarawan ekonomi H.M.Robertson yang berpendapat bahwa etika protestan sangat kuat dipepgaruhi oleh ekspansi kapitalisme yang hebat. Robertson yakin bahwa berangsur-angsur agama Protestan disesuaikan dengan sistem ekonomi baru, sehingga agama lebih mampu melayani kebutuhan kelompok-kelompok yang ,berekonomi dominan. Sikap-sikap skeptis seperti itu menganggap tesis Weber tidak cocok pada kenyataan bahwa kapitalisme ternyata juga mampu memakmurkan negara-negara Katolik. Perancis misalnya, adalah salah satu inti utama kekuatan ekonomi dunia sejak abad xvii. Lagi pula, bentuk awal kapitalisme rasional temyata juga berkembang di Italia pada masa sebelum Reformasi (J.Cohen, 1980). Teori Weber yang lebih belakangan ini seharusnya juga dianggap sebagai sikap skeptis yang bisa dipertimbangkan. Yang paling penting, teori Weber ini menimbulkan pertanyaan apa yang menyebabkan kebangkitan negara nasional modern ? Jawaban Weber adalah bahwa negara birokratis merupakan “alat yang paling efisien di dalam menenteramkan wilayah yang luas” (Collins, 1980 :932). Akan tetapi, pendapat ini tidak bisa diterima karena tidak bisa inenjelaskan mengapa negara seperti itu tidak muncul pada periode lebih awal untuk menenteramkan wilayah yang luas tersebut. Tidak ada gunanya untuk inembantah adanya hubungan antara kebangkitan kapitalisme dengan munculnya negara birokratis modern. Akan tetapi, logis juga bila menganggap negara modern sebagai akibat dari perkembangan kapitalisme (lihat Bab 12).

Dalam tahun-tahun belakangan, sejumlah ilmuwan mempertahankan. “roh” Weber agar tetap hidup dengan menawarkan interpretasi dasar Neo-Weber. Daniel Chirot (1985,1986), misalnya, menyatakan bahwa faktor penyebab utama kebangkitan kapitalisme adalah keunikan kondisi geografis Eropa, karakter sistem feodal Eropa yang sangat terdesentralisasi, dan meningkatnya rasionalitas yang diadopsi hukum dan agama pada periode feodal yang lebih belakangan. John Hall (1985) dan Michael Mann (1986) memberikan interpretasi yang sama, tetapi memberi tekanan khusus pada peranan agama. Keduaduanya melampaui tesis asli etika Protestan Weber, dengan mengemukakan bahwa tidak hanya protestan, tetapi justru Kristen, yang menjadi penyebab utama dan berperan dalam kebangkitan kapitalisme. Mann memandang agama Kristen berisi suatu ideologi atau semangat yang disebutnya sebagai “keresahan nasional”. Dia juga percaya bahwa ideologi tersebut secara unik merangsang munculnya sikap mementingkan pertumbuhan ekonomi.

Meskipun argumen-argumen Neo-Weberian sering mempunyai wa-wasan mendalam, menurut saya mereka tidak perlu memperumit pencarian kita mengenai pemahaman transisi kapitalisme Eropa. Mereka terlalu banyak menyajikan faktor-faktor penting, tetapi gagal memberi kita pengertian yang pas mengenai hubungan antara faktor-faktor tersebut dalam pencarian kita. Lebih jauh, pertanyaan serius dapat diajukan mengenai beberapa faktor yang dikemukakan, misalnya agama Kristen. Seperti yang akan kita lihat sebentar lagi , bahwa ada peradaban lain yang mengalami suatu transisi dari feodalisme menuju kapitalisme yang kira-kira bersamaan waktunya dengan transisi yang terjadi di Eropa. Peradaban tersebut adalah Jepang, Jepang mengalami semua kejadian yang ada di Eropa, kecuali peradaban Kristen. Memang, menyimpulkan, sebagaimana Chirot, bahwa Eropa mengalami transisi ke kapitalisme karena suatu semangat rasionalitas yang unik menimbulkan pertanyaan mengenai asal mula rasionalitas tersebut. Selama kita belum mempunyai pengertian yang benar mengenai apa yang membuat Eropa lebih “rasional” daripada peradaban lain, kita tidak dapat mensahkan rasionalitas sebagai penyebab kebangkitan Eropa.

Incoming search terms:

  • arti weberian

Filed under : Bikers Pintar,

Incoming search terms:

  • arti weberian