PENGERTIAN TERAPI PSIKODINAMIKA

56 views

PENGERTIAN TERAPI PSIKODINAMIKA – Freud tidak banyak memberikan sumbangan, baik melalui praktik klinisnya maupun berbagai artikelnya, untuk mengadaptasi psikoanalisis bagi penanganan para pasien skizofrenia. la yakin bahwa para penderita skizofrenia tidak mampu mengembangkan hubungan interpersonal terbuka yang penting bagi analisis. Harry Stack Sullivan adalah seorang psikiater berkebangsaan Amerika, yang memelopori penggunaan psikoterapi bagi para pasien skizofrenik yang dirawat di rumah sakit. Sullivan membangun sebuah bangsal di Rumah Sakit Sheppard dan Enoch Pratt di Toyvson, Maryland, pada tahun 1923 dan mengembangkan penanganan psikoanalitis yang dilaporkan sangat berhasil.  Sullivan berpendapat bahwa skizofrenia mencerminkan suatu kondisi di mana seseorang kembali ke bentuk komunikasi pada awal masa kanak-kanak. Ego yang lemah pada para penderita skizofrenia, yang tidak mampu mengatasi stres ekstrem dalam berbagai tantangan interpersonal, kemudian mengalami regresi. Maka, terapi menghendaki pasien untuk mempelajari bentuk-bentuk komunikasi orang dewasa dan memperoleh insight atas peran masa lalu dalam berbagai masalah saat ini. Sullivan menyarankan pembentukan hubungan kepercayaan yang sangat bertahap dan tidak mengancam. Contohnya, ia merekomendasikan terapis duduk agak di samping pasien agar tidak memaksakan kontak mata, yang dinilainya terlalu menakutkan pada tahap-tahap awal penanganan. Setelah melewati banyak sesi. dan dengan terbentuknya rasa percaya dan dukungan yang lebih besar, analis mulai mendorong pasien untuk mengkaji berbagai hubungan interpersonalnya.

Suatu pendekatan ego-analisis yang sama diajukan oleh Frieda Fromm-Reichmann (1889-1957), seorang psikiater berkebangsaan Jerman yang beremigrasi ke Amerika Serikat dan bekerja selama satu kurun waktu dengan Sullivan di Chestnut Lodge, sebuah rumah sakit mental swasta di Rockville, Maryland. Fromm-Reichmann sensitif terhadap makna perilaku yang simbolik dan tidak disadari, menganggap bahwa perilaku menyendiri para pasien skizofrenia merupakan cerminan keinginan untuk menghindari berbagai penolakan yang dialami pada masa kanak-kanak dan yang kemudian dianggap tidak dapat dihindari. Ia menangani mereka dengan sangat sabar dan optimisme besar, menunjukkan dengan jelas bahwa mereka tidak perlu menerimanya dalam dunia mereka atau sembuh dari sakit yang mereka derita sampai mereka benar-benar siap melakukannya. Bersama dengan Sullivan, FrommReichmann (1952) membantu mengembangkan berbagai jenis psikoanalis sebagai suatu penanganan utama bagi skizofrenia.

Meskipun demikian, evaluasi menyeluruh terhadap psikoterapi yang berorientasi analitis bagi para pasien skizofrenia menjustifikasi sedikitnya antusiasme (Katz & Gunderson, 1990; Stanton dkk., 1984). Meskipun sangat banyak klaim keberhasilan yang disampaikan atas berbagai analisis yang dilakukan oleh Sullivan dan Fromm-Reichmann, pengamatan teliti terhadap pasien yang mereka tangani menunjukkan banyak di antara mereka yang hanya mengalami gangguan ringan dan mungkin bahkan tidak akan didiagnosis skizofrenik berdasarkan kriteria DSM-IVTR yang sangat ketat bagi gangguan ini. Lebih jauh lagi, berbagai masalah yang dialami para pasien skizofrenik dalam berpikir jernih tentang berbagai hal dapat membuat terapi semacam itu menjadi berbahaya, setidak-tidaknya dalam fase episode psikotik yang lebih akut. Hasil pemantauan jangka panjang terhadap para pasien yang didiagnosis menderita skizofrenia dan keluar dari rumah sakit setelah menjalan: perawatan antara tahun 1963 dan 1976 di New Yorh Psychiatric Institute menunjukkan bahwa pendekatan analitis sangat tidak berhasil bagi para pasien tersebut. Terapi semacam itu sendiri dapat terlalu mengganggu dan terlalu intens untuk dapat diterima bagi beberapa pasien skizofrenik.

Berbagai intervensi psikososial yang lebih mutakhir mengambil langkah yang lebih aktif, berfokus pada masa sekarang, dan berorientasi pada kenyataan seraya terapis berupaya membantu pasien dan keluarganya mengatasi secara lebih langsung berbagai masalah sehari-hari yang mereka hadapi dalam melakukan coping dengan penyakit yang sangat mengganggu dan melemahkan ini. Asumsi yang melekat dalam terapi ini adalah sejumlah besar stres yang dialami para pasien skizofrenik disebabkan oleh kesulitan yang mereka alami dalam menegosiasikan berbagai tantangan sosial sehari-hari, termasuk berbagai tekanan yang muncul dalam keluarga ketika mereka kembali ke rumah dirawat di rumah sakit. Kita beralih ke pembahasan mengenai berbagai pendekatan yang terbaru dan lebih efektif ini.

Dalam demonstrasi pelatihan keterampilan sosial terdahulu, Bellack, Hersen, dan TZErner (1976) merekayasa berbagai situasi sosial bagi tiga pasien skizofrenik kronis gan kemu-dian mengamati apakah mereka berperilaku secara pantas. Contohnya, seol’ang pasien diminta untuk mengumpamakan bahwa ia baru saja sampai di rumah dan suatu liburan akhir minggu dan melihat bahwa rumput di halaman rumahnya telah dipotong. Ketika ia turun dari mobil, tetangga sebelah rumahnya mendekatizya dan berkata bahwa ia telah memotong rumput di halaman rumah pasien karena sa juga telah memotong rumput di halaman rumahnya sendiri. Pasien kemudian kerus merespons situasi tersebut. Sesuai perkiraan, pada awalnya pasien tidak terlalu baik dalam memberikan respons yang pantas secara sosial, yang dalam kasus ini dapat berupa semacam ucapan terima kasih. Pelatihan berlanjut. Terapis mendorong pasien untuk memberikan respons, memberi komentar yang membantu upaya mereka. Jika perlu, terapis juga memberikan contoh perilaku yang pantas sehingga pasien dapat mengamati kemudian mencoba menirukannya.

Kombinasi permainan peran, modeling, dan penguatan positif menghasilkan perbaikan signifikan pada ketiga pasien tersebut. Bahkan terjadi generalisasi dalam berbagai situasi sosial yang tidak dilatih dalam pelatihan tersebut. Studi ini dan berbagai studi lain yang dilakukan dengan kelompok pasien yang lebih besar mengmdikasikan bahwa para pasien yang mengalami gangguan parah dapat diajari perilaku sosial baru yang membantu mereka berfungsi lebih baik—tingkat kekambuhan yang lebih sedikit, keberfungsian sosial yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Beberapa studi tersebut patut dicatat karena menunjukkan berbagai manfaat dalam periode selama dua tahun setelah terapi. Pelatihan keterampilan sosial dewasa mi biasanya merupakan salah satu komponen berbagai penanganan skizofrenia yang kbih dari sekadar memberikan obat-obatan saja, termasuk terapi keluarga untuk mengurangi ekspresi emosi.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *