PENGERTIAN TES INTELEGENSI

121 views

PENGERTIAN TES INTELEGENSI – Alfred Binet, psikolog berkebangsaan Prancis, pada awalnya me nyusun berbagai tes mental untuk membantu dewan sekolah di Paris memprediksi anak-anak yang membutuhkan sekolah khusus. Sejak saat itu pengukuran intelegensi telah berkembang menjadi salah satu industri psikologi terbesar. Tes intelegensi, sering kali disebut tes IQ, merupakan alat yang distandardisasi untuk mengukur kemampuan mental seseorang pada saat ini. Tes yang dilakukan secara individual, seperti Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS), Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC), dan Stanford-Binet seluruhnya dilandasi asumsi bahwa suatu sampel rinci dari keberfungsian intelektual seseorang pada saat ini dapat memprediksi seberapa baik prestasinya di sekolah.
Tes intelegensi juga digunakan dengan beberapa cara:
• bersama dengan tes prestasi, mendiagnosis disabilitas belajar dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan individu untuk perencanaan akademik;
• membantu menentukan apakah seseorang mengalami retardasi mental;
• mengidentifikasi anak-anak yang berbakat secara intelektual sehingga dapat diberikan pendidikan yang sesuai kepada mereka;
• sebagai bagian evaluasi neuropsikologis, contohnya, memberikan tes secara periodik kepada seseorang yang diyakini menderita suatu demensia degeneratif sehingga penurunan kemampuan mentalnya dapat dipantau terus-menerus.

Versi WAIS dalam bahasa Spanyol telah tersedia selama lebih dari tiga puluh tahun (Wechsler, 1968) dan dapat digunakan untuk mengukur fungsi intelektual orang orang Hispanik (Gomez, Piedmont, & Fleming, 1992; Lopez & Romero, 1988; Lopez & Tausig, 1991).
Tes-tes IQ mengukur beberapa fungsi yang dinilai membentuk intelegensi, antara lain keterampilan bahasa, berpikir abstrak, penalaran nonverbal, keterampilan visual spasial, perhatian dan konsentrasi, serta kecepatan memproses. Skor sebagian besar IQ distandardisasi sehingga angka 100 merupakan rata-rata dan 15 atau 16 adalah standar deviasi (suatu pengukuran tentang penyebaran skor di atas dan di bawah rata-rata). Hampir 65 persen populasi memiliki skor antara 85 dan 115. Mereka yang skornya di bawah 70 berada dua standar deviasi di bawah rata-rata populasi dan dinilai memiliki “fungsi intelektual umum di bawah rata-rata secara signifikan”. Mereka yang skornya di atas 130 (dua standar deviasi di atas rata-rata) dinilai “berbakat secara intelektual”. Hampir 2,5 persen populasi berada pada masing-masing titik ekstrem tersebut. Tes-tes IQ sangat reliabel (a.1., Carnivez & Walkins, 1998) dan memiliki validitas criterion yang baik. Contohnya, tes tersebut membedakan para individu yang berbakat secara intelektual dengan individu yang mengalami retardasi mental dan antara orang-orang yang memiliki pekerjaan atau tingkat prestasi edukasional yang berbeda-beda (Reynolds dkk., 1997). Tes tersebut juga memprediksi prestasi edu-kasional dan keberhasilan dalam pekerjaan (Hanson, Hunsley, & Parker, 1988). Walaupun korelasi antara skor IQ dan prestasi sekolah secara statistik signifikan, tes IQ hanya menjelaskan sebagian kecil dari perbedaan prestasi sekolah yang terjadi pada berbagai individu; jauh lebih banyak yang tidak dapat dijelaskan oleh skor tes IQ.

Berkaitan dengan validitas konstruk, penting untuk diingat bahwa tes IQ hanya mengukur aspek yang dinilai sebagai bagian intelegensi oleh para psikolog. Tugas dan item dalam tes IQ diciptakan oleh para psikolog—dan bukan kita peroleh melalui tulisan dari batu prasasti. Selain itu, faktor-faktor di luar yang kita anggap sebagai intelegensi murni memainkan peran penting dalam prestasi para individu di sekolah, seperti kondisi keluarga dan diri sendiri, motivasi untuk berprestasi, tingkat kecemasan kinerja, dan tingkat kesulitan kurikulum. Faktor lain yang relevan dengan performa tes IQ disebut ancaman stereotip, yang menilai bahwa stigma sosial mengenai performa intelektual yang rendah yang dimiliki kelompok tertentu (a.1., Afrika-Amerika memiliki skor tes IQ rendah, wanita memiliki skor lebih rendah dibanding pria dalam tes matematik) benar-benar memengaruhi performa tes orang-orang dari kelompok tersebut. Dalam suatu studi yang menunjukkan feno mena ini, berbagai kelompok pria dan wanita diberi tes matematik yang sulit. Dalam satu kondisi kepada para partisipan diinformasikan bahwa pria memperoleh skor yang lebih tinggi dibanding wanita dalam tes yang akan mereka kerjakan tersebut, sedangkan dalam kondisi lain kepada mereka diinformasikan bahwa tidak terdapat perbedaan gender dalam hasil tes. Hanya pada kondisi di mana diinformasikan bahwa terdapat perbedaan gender dalam hasil tes, para wanita benar-benar memperoleh hasil tes yang lebih rendah dibanding pria (Spencer, Steele, & Quinn, 1999). Ketertarikan juga difokuskan pada “intelegensi emosional” yang tercermin dalam kemampuan seperti menunda pemuasan dan sensitif terhadap kebutuhan orang lain (Goleman, 1995). Aspek keberfungsian manusia tersebut mungkin sama pentingnya bagi keberhasilan masa depan dengan prestasi intelektual yang diukur oleh tes-tes IQ tradisional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *